Pertama Kali Mengunjungi Museum Multatuli

Oleh: Adam Choili – Relawan Rumah Dunia

Ada satu kebiasaan yang belakangan ini sering kulakukan: mengunjungi tempat-tempat baru untuk mencari cerita. Bagiku, perjalanan bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga cara memahami sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Rasa penasaran itulah yang membawaku menuju Museum Multatuli di Rangkasbitung.

Akhirnya, tiket kereta kupesan sehari sebelum keberangkatan melalui aplikasi KAI Access karena tiket kereta lokal biasanya cepat habis.

Pada hari keberangkatan, aku berangkat menuju Stasiun Serang menggunakan motor dan langsung memarkirkannya. Setelah menunjukkan tiket yang sudah kubeli secara daring, aku langsung menaiki kereta menuju Stasiun Rangkasbitung.

Perjalanan menuju Stasiun Rangkasbitung memakan waktu sekitar 50 menit. Selama di kereta, aku menghabiskan waktu dengan bermain ponsel dan sesekali menulis catatan perjalanan. Ketika tiba di Stasiun Rangkasbitung, aku langsung berjalan kaki sekitar 20 menit untuk menuju Museum Multatuli.

Setelah sampai di museum, aku langsung membeli tiket masuk seharga Rp2.000 dan langsung masuk ke dalam.

Di dalam, aku langsung disambut oleh patung Multatuli, Eduard Douwes Dekker, serta tata letak Museum Multatuli.

Aku pun langsung lanjut ke ruangan berikutnya untuk terus melihat apa saja yang ada di museum ini. Ruangan selanjutnya berisi sebuah miniatur kapal dan denah tata letak kapal negara Belanda.

Sedikit menguping pembicaraan tour guide, sejak tahun sekian sudah ada 4 negara yang berusaha menjajah Indonesia, salah satunya adalah Belanda, untuk memperebutkan rempah-rempah seperti pala, lada, cengkeh, dan kayu manis.

Memasuki ruangan berikutnya, aku baru tahu bahwa kopi pernah menjadi komoditas yang membuat Priangan menjadi lumbung kopi VOC. Rasanya aneh membayangkan secangkir kopi yang kini begitu mudah ditemukan ternyata menyimpan sejarah panjang tentang kerja paksa dan kolonialisme.

Aku pun berjalan perlahan dan disambut dengan buku Max Havelaar, karya Multatuli. Di sini diperlihatkan orang-orang yang merasa kagum juga terinspirasi dari buku Multatuli, seperti Kartini, Sukarno, Ahmad Subardjo, Jose Rizal, dan Pramoedya Ananta Toer. Dalam ruangan ini ada satu tulisan yang membuatku tertarik, yaitu, ”Tugas manusia adalah menjadi manusia.” Sebuah perkataan yang tidak biasa dari orang Belanda pada masa itu.

Aku terus melangkah sembari terkagum juga merasa penasaran oleh sejarah di Banten. Aku pun tiba di ruangan orang-orang Banten yang pernah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia hingga akhir hayat menjemput mereka. Di sana juga ada ruangan tentang awal terbentuknya Kabupaten Lebak dan dipimpin oleh RTA Karta Natanegara.

Aku pun juga pergi untuk melihat perpustakaan di sebelahnya.

Begitu membuka pintu perpustakaan, hawa dingin AC langsung menyambutku. Rak-rak buku tersusun rapi dan hanya terdengar suara lembaran buku yang dibalik. Tempat itu membuatku betah duduk berjam-jam sambil menulis diary.

Waktu sudah asar dan aku pun memutuskan untuk salat di masjid dekat Alun-Alun Rangkasbitung dan sekalian menunggu kereta malam. Setelah beristirahat di masjid, aku langsung bergegas untuk menuju Stasiun Rangkasbitung karena aku sudah memesan kereta pulang di jam 19.00 WIB.

Aku menunggu di stasiun selama sekitar satu jam. Di sana, aku mengobrol dengan seorang pria bernama Ahmand. Ia bercerita bahwa hidupnya sempat terbawa arus. Setelah dua tahun menganggur, akhirnya ia mendapat kesempatan bekerja di sebuah pabrik plastik.

Mendengar kisahnya, aku pun merenungi perjalanan hidupku sendiri. Apakah suatu hari nanti aku juga akan menjadi orang yang hanya terbawa arus? Pertanyaan itu kusimpan sejenak dalam hati karena kereta untuk pulang telah tiba.

Setelah lama berbincang, kami pun menaiki kereta. Awalnya aku berencana tidur, tetapi anak-anak yang duduk tepat di belakang kami sangat berisik sehingga aku tidak bisa memejamkan mata. Aku hanya memikirkan perjalanan yang kulalui hari itu. Tiba-tiba muncul pertanyaan dalam benakku, mengapa aku melakukan perjalanan ini?

Aku sudah bisa menjawabnya sendiri sekarang. Walaupun perjalananku masih di kawasan Banten, namun kesenangan ketika melihat tempat baru dan menuliskan apa yang di dalamnya membuatku ingin terus berjalan. Walaupun tulisanku masih jelek dan perlu banyak belajar. Tapi aku ingin menulis karena dengan menulis pikiranku menjadi tenang.

Akhirnya, aku tiba di Stasiun Serang. Aku langsung berjalan keluar dari kereta dan memikirkan ke mana lagi aku harus pergi?

Mungkin aku ingin pergi ke Bogor untuk perjalanan berikutnya.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==