Oleh: Kiki Pebrianto
Sabtu, 6 Juni 2026, saya bersama teman-teman mengikuti kegiatan bedah buku “Hikayat Joker” karya Anas Al-Lubab dalam acara Ngopi Senja yang diselenggarakan di Kedai Searah. Ketika pertama kali mendengar kata “Joker”, yang terlintas di pikiran saya justru sosok Nidal The King Joker dari Byon Combat. Mungkin terdengar lucu, tetapi itulah gambaran pertama yang muncul sebelum saya mengenal isi buku ini lebih jauh.
Acara tersebut dimoderatori oleh Kang Audi dengan menghadirkan dua penanggap, yaitu Kang Ardian Je dan Kang Wayang, serta penulis buku, Kang Anas Al-Lubab. Sejak awal diskusi, suasana terasa hangat dan penuh gagasan. Saya berusaha menyimak setiap pemaparan yang disampaikan sambil mencatat beberapa poin yang menurut saya menarik.

Dalam tanggapannya, Kang Wayang menyoroti gaya penulisan buku yang sederhana namun mengena. Menurutnya, buku Hikayat Joker terasa asyik dibaca karena berisi tulisan-tulisan pendek yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ia juga menyinggung salah satu bagian dalam buku yang menggambarkan percakapan Joker dengan temannya. Dalam percakapan tersebut, sang teman menganggap Joker sering membandingkan dirinya dengan orang lain dari segi profesi maupun materi, padahal kenyataannya tidak demikian.
Sementara itu, Kang Audi berpendapat bahwa isi buku ini tidak terkesan menggurui pembacanya. Pesan-pesan yang disampaikan hadir secara ringan sehingga pembaca dapat menafsirkan dan merenungkannya sendiri. Hal serupa juga disampaikan oleh Kang Ardian Je. Ia mengibaratkan pengalaman membaca Hikayat Joker seperti sedang menggulir reels Instagram. Bedanya, jika terlalu lama scrolling media sosial dapat membuat seseorang pasif dalam berpikir, buku ini justru mengajak pembacanya untuk terus merenungkan berbagai gagasan yang disampaikan di dalamnya.

Dari pemaparan para pemantik, saya menangkap setidaknya ada dua tema besar yang diangkat dalam buku ini. Pertama, tema keislaman yang membahas berbagai refleksi keagamaan, termasuk persoalan hari kiamat dan rangkuman nilai-nilai yang bersumber dari Al-Qur’an. Kedua, tema sosial politik yang hadir melalui tokoh Joker sebagai sosok yang peka terhadap kondisi masyarakat dan berbagai persoalan di sekitarnya.
Selain membahas isi buku, Kang Anas juga menceritakan proses kreatifnya dalam menulis Hikayat Joker. Ia mengaku bahwa ide bisa datang kapan saja dan dalam keadaan apa pun. Saat sedang menjemur pakaian, mengendarai motor, atau melakukan aktivitas sehari-hari lainnya, ia akan segera mencatat gagasan yang muncul agar tidak hilang begitu saja.

Selain membahas isi buku, Kang Anas juga menceritakan proses kreatifnya dalam menulis Hikayat Joker. Ia mengaku bahwa ide bisa datang kapan saja dan dalam keadaan apa pun. Saat sedang menjemur pakaian, mengendarai motor, atau melakukan aktivitas sehari-hari lainnya, ia akan segera mencatat gagasan yang muncul agar tidak hilang begitu saja.
Bagi saya, mengikuti bedah buku ini memberikan pengalaman yang menarik. Tidak hanya mengenal isi dan pesan yang terkandung dalam Hikayat Joker, tetapi juga memahami bagaimana sebuah karya lahir dari kebiasaan sederhana penulis dalam menangkap dan merawat ide-ide yang datang di tengah aktivitas sehari-hari.



