Sementara Putri Wartawati salah satu seniman Laku Cipta lain, akan mencoba mempertanyakan hal-hal tabu yang hidup di keseharian.

Di atas pentas nanti , lain lagi dengan Eko yang berkolaborasi dengan Seniman Laku Cipta lainnya. Eko akan coba menghadirkan hal-hal yang tak umum atau berbeda dari fungsi. Seperti tukang gorengan, hari ini yang biasa menggunakan besi kipas angin sebagai penyaring gorengan dari kelebihan minyak atau magic jar yang tidak digunakan semestinya, namun dialih fungsikan.

Sementara saat sesi tanya jawab, salah seorang penanya, Tony Blur, mempertanyakan batas keanehan atau keganjilan itu pada semua seniman yang ada di depan. Silvester Petara Hurit mencoba menjawab hal tersebut dengan mengatakan bahwa ada nilai-nilai yang relatif dari keganjilan tersebut dan dunia sekali waktu membutuhkan keganjilan tersebut.

Ada banyak pikiran masih menggantung setelah ini. Dan kata quiri atau aneh itu pelan-pelan mulai saya pahami meski tak semuanya . Satu yang saya pahami: berkarya membutuhkan keseriusan dan totalitas juga pengorbanan. Tak ada yang sia sia dari apa yang coba kita kerjakan bagian dari kehidupan itu sendiri. (*)



