Saya dan Duta Baca Indonesia 2021-2025

Tahun 2016 saya satu lift dengan Najwa Shihab, pasca menghadiri acara Vokasi Menulis Kemendikbud di FX Sudirman. Saya mendekat. Dua petugas keamanan disampingnya siaga. Satu di antaranya menjulurkan tangan dan merentangkan kelima jarinya di depan dada.

“Mau ngasih buku, Mbak Nana.” Saya tersenyum. “Oh, ya boleh,” balas Najwa, juga dengan senyumnya. “Ini buku Tur Literasi Anyer-Panarukan. Catatan perjalanan saya bersama Mas Gol A Gong tahun 2014.”

Kami akhirnya berselfie dalam lift, tentu dengan pengawasan pengawalnya. Lift terbuka. Najwa keluar disambut histeris fansnya. Petugas keamanan kembali bersiaga. Sebagai Duta Baca yang juga artis, Najwa memang punya privilege soal kemanan. Orang biasa seperti saya tidak bisa seenak jidat ngajak selfie atau bersalaman, ada protokoler yang harus dilewati.

Please follow and like us:
error2
fb-share-icon0
Tweet 5

Pertemuan dengan Rumah Dunia dan Duta Baca Indonesia 2021-2025

Suatu hari di tahun 2011. Saya diajak oleh teman sekelas saya—kami mahasiswa semester pertama di Jurusan Tadris Bahasa Inggris Fakultas Tarbiyah dan Adab IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten—untuk mengikuti acara bedah buku di kampus. Saya mengikutinya, karena memang sedang tidak ada kuliah, meskipun saya tidak tahu apa itu bedah buku. Saat itu teman saya sangat bersemangat karena, katanya, pembicaranya dari Rumah Dunia (RD)—dan saya tidak tahu apa itu RD.

Saat acara berlangsung, saya masih belum paham betul apa yang disampaikan oleh para pembicara yang tak saya kenal itu. Tapi, di tangan saya, dan semua hadirin, ada sebuah buku berjudul Relawan Dunia. Saya kira buku itu membahas tentang PMR atau PMI dan hal-hal yang berkaitan dengan bencana alam, karena berkaitan dengan relawan. Tapi ternyata perkiraan saya itu salah. Lama-kelamaan barulah saya sedikit memahami arah kegiatan itu: para pembicara sedang menyampaikan tentang dunia kerelawanan di komunitas RD yang didirikan dan digerakkan oleh Gol A Gong dan para relawan RD.

Please follow and like us:
error2
fb-share-icon0
Tweet 5

Provokator Itu Sekarang Menjadi Duta Baca Indonesia 2021-2025

Pertama kali saya mengenalnya hanya lewat tulisannya -Balada Si Roy- yang dibuat bersambung di majalah HAI beberapa puluh tahun lalu. Namun siapa sangka di kemudian hari saya bisa kenal dengannya secara langsung. Bukan hanya kenal basa-basi tapi bisa seharian beradu pikiran dalam membangun gerakan literasi.

Gol A Gong adalah salah seorang yang memprovokasi saya untuk memimpin Forum TBM DKI Jakarta. Bersama beberapa pegiat literasi lainnya “menyidang” saya malam-malam agar bersedia memimpin Forum Taman Bacaan Masyarakat di Ibukota negara. Provokasi yang kemudian tidak berhenti hanya sampai level provinsi tapi juga naik kelas ke tingkat nasional (walau untuk yang terakhir ini saya tidak bisa memenuhi permintaannya).

Please follow and like us:
error2
fb-share-icon0
Tweet 5

Gol A Gong Selain Duta Baca Indonesia, Juga Duta Anti Korupsi

Duta Baca Indonesia 2021-2025 dikenal dengan nama Gol A Gong. Akun FB-nya bernama Golagong Penulis . Saya kenal dengannya saat berkegiatan antikorupsi. Dukungan dan komitmennya terhadap anti-corruption movement (Harakah mukafahat alfasad) tidak diragukan lagi.

Novelnya yang berjudul “Surat dari Bapak” juga mendapatkan penghargaan dari KPK sebagai “Literasi Anti Korupsi”.

Untuk itu, percaya atau tidak, saya optimis dalam menjalankan perannya sebagai Duta Baca, mas Gong juga akan menjadi “Duta Antikorupsi” meskipun tidak ada yang mengangkatnya secara resmi…

Ini salah satu contoh aksi mas Gong dalam menyuarakan antikorupsi

#menanglawankorupsi#dutabaca2021

Please follow and like us:
error2
fb-share-icon0
Tweet 5

Dari Heri ke Gong: Ihwal Duta Baca Indonesia

Saya mengenalnya sebagai Heri. Saat itu, 1977, saya diterima di SMPN 2 Serang. Dia kakak kelas saya satu tahun. Walau tangan kirinya buntung, dia tampak biasa saja. Wajahnya riang dan, kesan saya, agak badung.

Saat saya masuk ke SMAN 1 Serang, tahun 1980, dia juga sudah bersekolah di situ. Saat SMA itulah, sebagai pengurus OSIS, bersama Rahmat Yanto (kemudian menggunakan nama Rys Revolta), saya mengelola Mading (Majalah Dinding) sekolah. Tapi Heri malah membuat mading sendiri di kelasnya.

Selepas SMA Heri diterima kuliah di Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran Bandung. Cukup mengagetkan bagi “siswa sulit diatur” seperti Heri. Satu tahun kemudian, 1983, saya dan Yanto juga ke Bandung. Saya ke Sastra Jepang tapi tidak lolos, sedangkan Yanto diterima di Sastra Perancis. Saya kecewa sekali lalu mendaftar ke IKIP Bandung. Tapi hanya kuliah satu hari saja di sana dan memutuskan kuliah di sebuah sekolah tinggi di bilangan Dago.

Please follow and like us:
error2
fb-share-icon0
Tweet 5