Foto Model Gagal

Ketika remaja, saya selalu tertarik jadi foto model. Saat membaca majalah remaja, saya paling tertarik memerhatikan halaman iklan pakaian. Wajah ganteng dan cantik dengan pakaian bermerek.

Keinginan itu saya salurkan jika sedang melakukan tugas mewawancarai artis atau nara sumber lainnya. Saya selalu meminta fotografer kantor untuk meluangkan waktunya memotret saya.

Foto ini pada 1990, saat saya bekerja sebagai wartawan Tabloid Warta Pramuka. Seusai tugas, saya memina Toro – fotografer, untuk memotret saya. Lokasinya di TVRI Jakarta Pusat. Hmm, boleh juga kan penampakannya!

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Spot Foto di Perpusnas Merdeka Selatan

Ayo, berwisata ke Perpusnas RI di Merdeka Selatan. Banyak spot foto menarik – instagramable. Asik ntuk dipajang di akun medsos. Saat ny bergaya dengan pakaian yang keren. Saya senang bergaya dan tentu rada-rada fashionable -maklum foto model gagal. (GG)

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Topi Laken Saat Traveling

Topi laken kegemaranku sejak dulu. Saya tidak hendak meniru Sujiwo Tejo. Tidak. Sejak 1980-an, saya sudah memakai topi laken setiap traveling. Saya merasa gagah dan keren setiap memakai topi laken. Tentu ini karena keseringan menonton film cowboy Hollywood. Paling saya sesali sekarang adalah ketika saya di Papua pada 1987. Saya mendapat hadiah topi laken dari Kapolres Jayapura setelah pertandingan persahabatan badminton dengan pemain dari PBSI Jayapura. Topi laken itu sempat saya pakai ke SWamena, Sulawesi, hingga Kalimantan. Sepulang dari traveling, saya sempat mmeakai topi laken itu ke Baduy. Kemudian topi itu dipinjam kawan saya an tidak kembali lagi. Semua kenangan bersama topi laken itu hilang… (GG)

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Bangga Bersarung Saat Traveling

Saya bermimpi traveling mengelilingi dunia menggunakan sarung dan kemeja batik, tentu dengan ikat kepala atau topi. Tapi tampaknya jika di Eropa jangan pas musim dingin. Hiiih, kebayang udara dingin menyusup ke dalam sarung. Dresscode sarungan ini memang hanya bisa di Asia dan Afrika. (GG)

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Bangga Sarungan ala Baduy di Singapura

Di foto ini saya menggunakan sarung berwarna putih, kemeja dengan motif batik Baduy, dan ikat kepala berwarna hitam. Setiap traveling, saya nyaman bersarung. Pernah di Singapura, didatangi polisi. Mereka menanyakan paspor dan kenapa memakai sarung. Saya jawab saja, “Saya turis. Mau shoping dan bangga dengan sarung serta batik Indonesia.” Kalau di India, Bangladesh, Pakistan, Bangkok, Kamboja, Vietnam, dan Laos bersarung tidak jadi masalah. Gara-gara pandemi, rencana traveling ke beberapa daerah dan Kamboja-Vietnam gagal. (GG)

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Batik Motif Baduy

Setiap memberi pelatihan ke luar Banten, saya selalu memakai sarung hitam, kemeja batik, dan tentu ikat kepala bermotif Baduy seperti di foto ini. Warna kemeja batik Baduy yang saya punya hanya biru dan hitam. Memang belum bervariasi. Ada motif golok, tapi saya sungkan memakainya.

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Sarung, Kemeja Batik, Topi, dan Ikat Kepala

Selama tiga tahun terakhir ini, 2017 – 2020, saya gemar menggunakan sarung, kemeja batik, ikat kepala atau topi laken. Anggap saja itu dresscode. Soal sarung, tentu selain terkait ke tradisi sarungan negeri ini, perut saya juga semakin buncit. Dengan sarung, jadi terasa plong. Saya memborong sarung murah-meriah sartu lusin di Pasar Rawu, Kota Serang. Mulai dari warna hitam, putih, merah, biru, hijau, coklat, setiap warna dua buah. Kemejanya dibuatkan istri. Setiap saya pulang memberi pelatihan dari sebuah daerah, selalu ada oleh-oleh batik dari daerah tersebut. Tias Tatanka membuat disainnya. Saya senang memakainya. Bagaimana 2021 nnati? Masihkah drresscode-nya batik dan sarung? (GG)

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5