Surat dari Qatar: Balik Modal Plus Untung Besar

@didaytea – Kontributor golagongkreatif.com di Qatar

Beberapa waktu setelah “dialog lima belas juta” itu berlangsung, aku mendapat panggilan untuk bekerja di luar negeri. Entah kenapa, ketika itu aku sangat yakin dan percaya untuk bisa diterima. Karena ketika itu aku sedang mengalami periode “puncak kesulitan finansial” di dalam hidupku. Hanya itu harapanku untuk bisa survive.

Sebelum test berlangsung, aku melakukan persiapan habis- habisan demi menghadapi test tersebut. Aku pergi ke warnet setiap hari untuk mengunduh materi- materi yang berhubungan dengan perusahaan yang memanggilku untuk test tulis di Jakarta.

Surat dari Qatar: Ketika Aku Bisa Membaca Lebih Cepat, Ide Cemerlang pun Muncul

@didaytea – Kontributor golagongkreatif.com di Qatar

Proses “Membaca-Menerjemahkan-Menghubungkan” kini bisa berlangsung lebih cepat, karena aku bisa membaca teks jauh lebih cepat, menerjemahkan (berpikir) lebih cepat, dan menghubungkan teks dengan cerita di film tersebut jauh lebih cepat dan lebih cepat.

Setelah itu proses menonton film pun menjadi sangat menyenangkan buatku, karena bisa mendapat hiburan sekaligus menambah kemampuan berbahasa Inggrisku.

Surat dari Qatar: Membaca Lebih Cepat, Berpikir Lebih Cepat

@didaytea – Kontributor golagongkreatif.com di Qatar

Alhamdulillah, sebelum mendapatkan ijazah kelulusan dari sebuah SMK di Bandung, aku sudah resmi menkamutangani kontrak dengan sebuah perusahaan petrokimia di Cilegon. Tidak sehari pun waku dalam hidupku yang berstatus pengangguran setelah lulus dari sekolah. Ibaratnya, hari Sabtu aku diwisuda, Seninnya aku sudah bekerja.

Impianku waktu itu, aku ingin membeli semua buku yang aku inginkan sewaktu aku masih bersekolah. Karena waktu itu aku hanya mampu meminjam ke perpustakaan daerah Jawa Barat. Kurang sreg rasanya jika hanya meminjam, aku ingin bisa memiliki buku-buku tersebut.

Incaran utamaku adalah Quantum Learning. Buku yang pernah kupinjam dari seorang adik kelas. Buku ini yang paling berkesan untukku karena memberi paradigma baru ke dalam diriku tentang proses pembelajaran. Lebih spesifik lagi, yang paling menarik minatku adalah Bab tentang Membaca Cepat. Itu juga kemampuan utama yang sampai sekarang aku miliki, yang dihasilkan dari membaca buku tersebut.

Surat dari Qatar: Dialog Lima Belas Juta

“Uang yang kita belanjakan untuk membeli buku, atau untuk “membeli” ilmu, kemampuan baru, pengetahuan baru pasti akan kembali ke kita dengan nilai yang jauh lebih besar”.

“Lima Belas Juta,” kataku menunjuk buku-buku di rak.

“Lima belas juta rupiah?” Pekik temanku dengan mata yang terbelalak sebesar-besarnya sampai terlihat hampir meninggalkan tempatnya, ketika aku bilang bahwa itu adalah nilai semua ratusan buku yang berbaris dan bertebaran di sekeliling kamarku. Aku beli semua buku itu selama bekerja hampir tujuh tahun.

“Sayang banget , uang sebanyak itu kamu habiskan hanya untuk membeli buku- buku ini, buku kan tidak bisa dijual, dan kalau pun dijual nilainya ya seperti barang loakan!”

Itu adalah komentar paling “lucu” menurutku sepanjang aku bekerja di sebuah kota industri.

Dan mungkin, itu adalah pendapat sebagian besar orang yang memahami bahwa lebih baik membeli rumah, kendaraan, tanah, bahkan makanan daripada membeli buku.

Nanti akan aku buktikan.*

Surat dari Qatar: Uang Yang Habis Untuk Kepentingan Belajar Adalah Investasi, Bukan Konsumsi

@didaytea – Kontributor golagongkreatif.com di Qatar

Satu lagi paradigma baru yang kudapat selama di pelatihan Santri Siap Guna itu. Sebelumnya, aku masih memiliki paradigma secara umum, bahwa membeli buku adalah konsumsi, bagian dari sebuah pemborosan. Untuk beberapa kasus sih memang seperti itu, karena aku masih sekolah dan belum mempunyai penghasilan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)