Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kab. Pandeglang Kenalkan Kopi Leupeh Lalay Kepada Pegiat TBM

Kegiatan itu menghadirkan dua narasumber, Maman Suherman, pegiat kopi Banten sekaligus pemilik Tawon Banten Coffe dan Muhammad Fardinasyah, barista kopi sekaligus pemilik kedai Dimamah.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Pandeglang, Hj. Neneng Nuraeni, M. Pd mengatakan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari transformasi perpustakaan berbasis inklusi.

“Ini merupakan bagian dari transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Artinya perpustakaan tidak hanya menyediakan bahan literatur saja, tapi menjadi tempat belajar, menggali ilmu. Jadi lengkap dari mulai literatur hingga ke praktiknya,” jelasnya.

Neneng juga menyampaikan bahwa kopi leupeh lalay ini merupakan kekayaan yang harus dijaga, dilestarikan, dan dipromosikan sehingga bisa bernilai ekonomi.

“Semoga dari kegiatan ini, para pegiat TBM yang ada di Kab. Pandeglang ini bisa termotivasi dan tertarik untuk budidaya kopi leupeh lalay atau memasarkannya sehingga bisa bernilai ekonomi,” tambahnya.

Sementara itu pada sesi materi, narasumber pertama Maman Suherman atau akrab disapa Kang Maman menjelaskan soal jenis kopi, proses pengolahan kopi hingga penyajian kopi.

“Kopi itu murah, yang mahal prosesnya. Satu jenis kopi akan beda rasa jika prosesnya berbeda,” jelasnya.

Dia menjelaskan ada 3 jenis pengolahan kopi, yaitu natural (olah kering), full wash (olah basah), dan honey.

“Kopi yang paling bagus adalah kopi yang diproses secara natural atau olah kering,” kata Kang Maman.

Kang Maman juga bercerita tentang kelestarian kopi leupeh lalay yang berlokasi di Kaki Gunung Karang, Pandeglang. Menurutnya itu adalah harta karun yang sangat bernilai dan harus dilestarikan keberadaannya.

“Perkebunan kopi ini adalah warisan leluhur kita. Yang usia tanamannya lebih dari 120 tahun. Ini harus kita jaga dan olah dengan konsep ilmu kekinian tanpa harus merubah lingkungannya,” jelasnya.

Kopi leupeh lalay ini terbilang unik, pasalnya kopi tersebut dihasilkan dari biji kopi yang telah dikunyah/dilepeh oleh kelelawar di Gunung Karang.

Kang Maman menjelaskan bahwa kelelawar punya sensor yang sensitif terhadap rasa. Sehingga hanya kopi yang bagus yang dia kunyah.

“Kelelawar hanya mengambil kopi ceri merah yang matang sempurna untuk diemut dan bijinya dilepeh. Biji-biji itu yang kemudian dikumpulkan, disortir dan diproses oleh petani menjadi kopi,” jelasnya.

“Dari segi rasa, kopi ini memiliki cita rasa yang khas, ada banyak rasa di dalam satu kopi, jadinya nano-nano,” tambahnya.

Selain mengenal kopi leupeh lalay, para peserta juga diajarkan pengajian kopi secara langsung oleh Fardinasyah dan mencicipi cita rasa kopi leupeuh lalay.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==