LAOS
Buat yang belum pernah aja
Saya sudah pernah ke Laos. Jadi saya merasa aman mengajak 2 anak ke Laos (Lagi). Jordy Alghifari saya tugasi mendokumentasikan Literacy Journey dengan caranya sendiri dan Natasha mengurusi keuangan (pesan hotel dan tiket). Di Bangkok, Alhamdulillah, lancar.
Kami meninggalkan Thailand persis di hari pertama 2026. Saya beruntung bisa mendapatkan tiket kereta api ke Nong Khai, perbatasan antara Thailand dan Laos. Saya sebetulnya mengincar jadwal 30 Desember 2025, tapi tiket sold out. Padahal sudah pesan hotel di Nong Khai. Rencananya masuk Laos 1 Januari 2026.



Kami memesan taksi online lewat Grab. Dari Green House Hotel, Khao San, ke Krung Thep Aphiwat – stasiun kereta terbesar se Asia Tenggara, ongkosnya 260 Baht. Kami bayar 300 Baht karena pelayanannya bagus dan ramah. Juga drivernya mau membantu mengangkat ransel kami.
Perjalanan ke stasiun lancar. Sekitar 30 menit. Betul juga. Stasiun ini melebihi lapangan sepakbola. Mengutip Google, Krung Thep Aphiwat (sebelumnya Stasiun Bang Sue) luasnya 274.192 meter persegi, dengan total panjang stasiun sekitar 600 meter. Lebarnya 244 meter. Terdiri dari 26 peron (termasuk untuk kereta jarak jauh, komuter, kereta cepat, dan MRT Bawah Tanah).



Kereta api menuju Nong Khai kebagian pukul 20:30. Semuanya terjadwal dengan baik. Kami kebagian di gerbong 10, kursi 10, 11, dan 13 untuk tempat tidur bagian atas. Sebelum tidur kami duduk dulu, hanya 2 orang. Selang 30 menit kereta berjalan, petugas datang menyusun kursi jadi 2 tempat tidur – satu di atas dan bawah. Kursi tempat 2 orang duduk tadi jadi tempat tidur. Kami kebagian di atas. Gorden pun ditutup
Kami bangun ketika petugas membangunkan kami, “Nong Khai, Nong Khai, last station.”
Kami langsung berkemas. Merapikan ransel. Dan turun mengantri. Ketika di peron, sudah terdengar teriakan, “Border, Border!”
Bagi yang belum pernah ke Laos, jangan kuatir. Traveling ini sangat aman bagi pemula. Tidak ada Mark up harga apalagi preman. Barangkali ini yang membuat pariwisata Thailand maju. Tahun 2025 ini berada di peringkat pertama dengan 30 juta wisatawan yang berkunjung ke Thailand.


Seperti ongkos tuk tuk ini. Supir becak bermotor khas Thailand ini sudah menyodorkan ongkos yang pasti, 50 Baht/orang (setara dengan Rp 25 ribu). Tanpa calo.
Satu tuk tuk harus diisi 4 orang. Dengan 3 ransel kami juga sudah penuh. Supir tuk tuk berteriak senang ketika saya bilang akan membayar untuk 4 penumpang.
Perjalanan ke imigrasi Thailand sekitar 10 menit. Sayang juga, saya tidak sempat mengenalkan Nong Khai dengan sungai Mekongnya karena Kang Derry – diaspora yang kami kenal di medsos – sudah menunggu di perbatasan.
Paspor kami dicap. Jordy-Natasha senang. Ini negara keempat buat Jordy Alghifari ; Singapura, Malaysia, Thailand, dan Laos. Natasha juga sama hanya beda negara; Singapura, Korea, Thailand, dan Laos. Jordy belum ke Korea, Natasha belum ke Malaysia.
Paspor mereka akan dicap lagi di Vietnam, karena 5 Januari kami naik bus malam menuju Hanoi
Di imigrasi Thailand ada jalur khusus buat orang asing. Tertib dan aman. Setelah dicap langsung menuju zona internasional. Ada bus menunggu. Beli tiket di loket resmi 35 Baht. Antre masuk ke bus. Jika sudah lebih, bus berikutnya datang. Pokoknya aman dan nyaman. Tidak perlu kuatir ketinggalan bus.

Sebagai traveler, santai saja. Nikmati dan amati. Kalau perlu berinteraksi dengan warga lokal. Saya dan Jordy membantu mengangkuti koper atau tas-tas para pelintas batas dari kedua negara.
“Kami dari Indonesia,” saya mengenalkan diri. Penting mengusung nasionalisme lewat keramahtamahan saat traveling. Itu tidak dilakukan oleh backpackers dari negara lainnya. Mereka cenderung egois. Kalau tidak disapa, mereka tidak peduli. Kalau disapa baru mereka ramah. Di Eropa, konon, kita bersikap ramah ala Indonesia, bisa jadi dianggap mengganggu oleh mereka. Saran saya, tetap jadi diri sendiri.
Bus yang membawa ke imigrasi Laos meluncur. Ketika melewati jembatan persahabatan, kita sudah memasuki Laos. Wajah-wajah gembira tampak di Jordy-Natasha.

Bus berhenti di imigrasi Laos. Saya dan Jordy kembali membantu menurunkan tas-koper warga setempat. Hal yang menyenangkan. Itu bisa jadi perbincangan hangat. Jangan kaget jika suatu waktu, ketika sedang makan di pusat kota, apa yang kita makan dibayari orang. Dan jangan kaget jika yang membayari itu orang yang kita bantu alakadarnya. Traveler memang bukan turis .
Di imigrasi Laos, kami mengisi kartu imigrasi. Sebetulnya sudah kami coba secara online. Tapi hang. Kemudian kami antre sebentar dan membayar 20 Baht/orang sebelum paspor dicap.
Selamat datang, Laos. Di luar pagar, Kang Derry yang urang Garut, melambaikan tangan.
Gol A Gong
Traveler, Author
*) Agenda hari Sabtu 3 Januari 2026, pelatihan menulis di rumah Kang Derry. Beberapa murid SMA dan mahasiswa asal Indonesia siap hadir.
Semua Orang



