Puisi Esai Gen Z: Membeli Waras Setelah Jam Kerja Karya Rini Khoirotun Nisa

Oleh: Rini Khoirotun Nisa

Laporan anyar Koran Jakarta menyingkap sebuah realitas muram, bahwa generasi muda yang baru mencicipi belantara profesional justru menempati kasta paling rentan karam secara mental. Benturan ekspektasi, absennya sistem pendukung, hingga ritme kerja yang menuntut raga berfungsi layaknya mesin tanpa jeda, pelan-pelan mengikis kewarasan angkatan kerja muda. Guna menambal keroposnya jiwa, lahir sebuah ritual kompensasi neurotik yang jamak disebut self-reward. Sayangnya, pelarian estetik ini kerap kali berubah menjadi rantai jebakan finansial baru. Puisi esai mini ini merajut elegi konyol sekaligus liris tentang bagaimana seorang pekerja muda urban mencoba menukar keringatnya demi membeli sisa-sisa ketenangan komersial.

Tautan Berita:

https://koran-jakarta.com/2026-06-23/generasi-muda-disebut-paling-rentan-mengalami-gangguan-mental-di-lingkungan-kerja

I
Jarum jam merayap malas menuju angka sembilan pagi,
kain jilbabku beraroma asap knalpot,
kusut masai usai bertaruh di atas jok besi.
Aku menatap meja sekat tripleks ini,
tempat di mana impian masa kuliah perlahan mati.
Di luar dinding kaca, Jakarta sibuk bersolek
dengan gedung-gedung yang angkuh,
sementara di dalam batok kepalaku,
kecemasan berputar-putar mencari sauh.

Notifikasi pesan masuk tak tahu diri,
melompat-lompat menuntut revisi,
seolah-olah hidupku adalah hak milik
perusahaan seharga upah minimum provinsi.
Tuhan, andai fiksi ilmiah itu nyata, aku ingin lenyap
melalui lubang hitam di pojokan,
ketimbang menelan racun basa-basi dari rekan kerja
yang gemar bermuka ganda di hadapan.

II
“Budak korporat ingusan sekarang manja,
dibentak sedikit langsung cari psikolog!”
Sindir sang senior seraya mengunyah gorengan,
nadanya pongah dan sangat ortodoks.
Suara-suara usang dari masa lalu
yang mengira koyo dan tidur lelap bisa menjahit lara,
mereka menutup mata pada inflasi yang menggila
saat dompet kami megap-megap kekurangan udara.

Ingin mengadu pada Ibu?
Ah, jangan tambah beban pikirannya di kampung halaman.
Mau memeluk pundak kawan seangkatan?
Mereka pun sedang megap-megap mencari pinjaman.
Maka di sela-sela waktu paruh baya
yang mencekam dan penuh tekanan,
jemariku menari di layar gawai, memesan segelas matcha latte
yang mahal nian demi secuil ketenangan.

III
Sungguh sebuah parodi paling mahal di bawah langit
abad dua puluh satu yang sinting:
kita memeras waras demi pundi-pundi uang,
lalu membuang uang itu demi waras yang nyaring.
Gaji sebulan mengalir deras
untuk mendanai wewangian terapi dan lilin aroma,
membeli tiket pertunjukan seni seharga jutaan
seolah itu obat penawar trauma.

Kita merayakan pelarian pendek di kafe-kafe estetik
berlantai marmer tiruan,
menukar peluh dengan sepiring roti panggang
berhias mentega demi gengsi terdepan.
Sebuah labirin kapitalisme yang dirancang
begitu rapi dan tanpa celah,
membuat kita sukarela kembali disiksa
esok hari demi selembar validasi yang fana.

IV
Selamat datang di ekosistem baru,
tempat sebatang cokelat impor berkuasa sebagai penyelamat raga.
Kami, yang dicap rapuh oleh zaman,
berkerumun di ruang tunggu maya mencari penawar dahaga.
Kami menertawakan sisa kewarasan
lewat potongan video getir yang melintas di lini masa,
sebab jika ironi ini tak ditertawakan,
kami mungkin sudah melompat dari lantai belasan.

Biarlah dibilang manja oleh mereka
yang tak pernah tahu rasanya dikejar target di luar nalar,
kami hanya sedang membilas jelaga di kepala
agar esok hari tak runtuh saat dunia kembali berpusar.
Layar HP meredup, sisa es batu di dalam gelas plastik
berdenting lirih seolah mengejekku,
aku membetulkan letak peniti hijab,
menghela napas panjang,
dan bersiap menjadi martir rutinitas yang baru.

Catatan Kaki:
[1] https://koran-jakarta.com/2026-06-23/generasi-muda-disebut-paling-rentan-mengalami-gangguan-mental-di-lingkungan-kerja
[2]
https://mojok.co/liputan/urban/dilema-gen-z-resign-kerja/
[3] https://radarmadiun.jawapos.com/gaya-hidup/2604240024/healing-vs-nabung-dilema-gen-z-di-tahun-2026-mana-yang-harus-jadi-prioritas

Tentang Penulis:

R. Khoirotun adalah pengajar taman kanak-kanak sekaligus sarjana Arsitektur yang menganggap menulis adalah caranya bernapas. Buku-buku yang ia terbitkan antara lain Wandering Star (2021), Jar of Memories (2022), Surat-surat yang Pergi (2022), Selaras (2023), dan Cerita dari Mata Malam (2025). Karya-karyanya yang lain bisa dibaca melalui akun Instagram @r.khoirotun dan akun X @heretheunsaid.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==