Relaksasi di Tengah Syahdunya Kabut Nepal van Java, Magelang

Nepal van Java

Awalnya saya tidak pernah searching tentang Nepal Van Java, hanya melihat sekilas dari hasil foto di sosial media di mana kebanyakan foto yang beredar saat itu ciri khasnya hanya latar belakang rumah yang bertingkat dan berjejer warna-warni seperti di negara Nepal.

Niat hati hanya untuk refreshing sejenak di tengah kalutnya tugas akhir kuliah, alhasil berangkatlah saya bersama satu teman dari Yogyakarta dengan menggunakan sepeda motor. 

Perjalanan yang kami tempuh untuk mencapai destinasi ini dari Kota Yogyakarta sekitar 2 jam perjalanan. Melewati padatnya Kota Magelang menjelang siang tapi cuaca terasa sejuk dengan bantuan google maps hingga ketika hampir 2 jam perjalanan tibalah kami pada satu jalan perkampungan, kemudian bertemu dengan jalan perkebunan yang semakin jauh, sepi dan sempit.

Teman saya pun nyeletuk “Kok jalannya makin sepi ya, kita nyasar gak si? Udah jauh banget ini, muter balik aja yok,” ujarnya hampir menyerah. Meskipun menggerutu di sepanjang perjalanan, tetapi motor tetap di gas melaju mengikuti petunjuk google maps yang entah sedikit membuat was-was karena di pikir-pikir sudah sampai ini perjalanannya, yakin mau nyerah? Kami kembali mengoptimiskan diri. 

Tidak lama kemudian tibalah kami di sebuah persimpangan bertuliskan petunjuk jalan ke Nepal van Java. Hati kami mendadak lega ketika ketemu titik jawaban dari keraguan kami sedari awal. Kami terus mengikuti petunjuk jalan hingga kemudian melalui jalan perbukitan di mana di kanan-kirinya banyak sekali perkebunan daun bawang.

Jalan turun naik sesekali menanjak begitu terus, untungnya motor yang kami gunakan sehat dan berfungsi dengan baik tidak ada kendala apa pun hingga pada akhirnya tibalah kami di Nepal Van Java.

Suasana begitu syahdu dan berkabut di tengah hangatnya ramah-tamah penduduk di desa itu yang mayoritas aktivitas hariannya sebagai petani. Fasilitas di sini terbilang cukup lengkap seperti toilet, mushola, area parkir, warung, homestay, café dan juga tersedia jasa ojek juga.

Pada dasarnya desa ini tidak pernah tutup, meski demikian aktivitas wisatawan dibatasi mulai pukul 07.00-17.00 WIB agar tidak mengganggu rutinitas warga setempat. 

Setelah parkir motor dengan biaya tarif Rp3.000 dan membayar tiket masuk Rp10.000 per orang, kami mulai menyusuri desa sambil sesekali mengambil foto. Pada saat itu Nepal Van Java sedang mendung dan berkabut sehingga pemandangan Gunung Sumbing sama sekali tidak terlihat dan saya sama sekali tidak tahu bahwa ada Gunung Sumbing, salah satu gunung impian saya di balik kabut itu.

Kami terus berjalan mencari spot foto yang bagus dan menikmati suasana pedesaan yang masih asri, sesekali ada beberapa warga yang menawarkan jasa ojek untuk naik ke atas desa. Kami enggan menerima tawarannya dengan alasan ingin menikmati perjalanan melewati setiap sudut rumah yang terbilang cukup unik di sana.

Langkah kaki terus berpacu dengan sendal jepit yang sebenarnya tidak kondusif digunakan untuk ke sana, ternyata jalan tapak di desa yang kami telusuri dan jarak antar rumah semakin menanjak hingga membuat kami ngos-ngosan.

Alhasil jadi mendadak treking di siang bolong dan dalam hati menggerutu “Nyesel juga gak pake jasa ojek di bawah tadi, kalo udah sampek sini gak ada lagi ojek yang nawarin, tamatlah”.

Sesekali kami berhenti karena kelelahan tapi tetap lanjut menyusuri desa dengan sesekali terlintas dipikiran “Penduduk di sini gimana ya menjalani harinya? Harus ahli sekali nih mengendarai motor menuju rumahnya dengan kondisi medan jalan seperti ini dan yang jalan kaki apakah tidak capek turun naik setiap hari,” ujar kami. 

Perjalanan kami lanjutkan dan tidak terasa hampir 40 menit sudah kami menyusuri desa dengan berjalan kaki, semakin tinggi semakin berkabut dan dingin disertai rintik gerimis hingga tibalah kami di basecamp Gunung Sumbing via butuh Kaliangkrik.

Sontak ketika melihat gerbang jalur pendakian yang ada di basecamp saya terharu ternyata jejak langkah yang saya dan teman saya telusuri sedari tadi ternyata mengantarkan saya pada gerbang salah satu bucket list gunung ingin saya daki.

Suasana begitu syahdu dan menenangkan, niat hati yang awalnya hanya ingin berfoto dengan background Nepal Van Java yang berada tidak jauh dari parkiran motor tetapi ternyata kami menemukan tempat setenang dan spot seindah ini.

Kami melepas lelah sambil menikmati dinginnya udara di lereng sumbing dengan secangkir kopi dan teh hangat  ditambah dengan indahnya pemandangan terasering ladang daun bawang yang menghiasi sekeliling lereng Gunung Sumbing, sungguh indah sekali dan tak jarang juga kami berpapasan dengan para pendaki baik yang akan muncak maupun yang sudah turun gunung. 

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==