Aku Tunggu Kau di Mercusuar: Ruth Minta Bertemu Lagi – Bagian 2

Cerita bersambung karya Gol A Gong

Aku seruput lagi kopi, sudah tidak panas. Rasa pahitnya saja yang tersisa di pikiranku. Bahkan di permukaan kopi hitam itu muncul wajah anak kecil yang kata bapak pendeta bernama Felix. Ah, Ruth! Itu anak kitakah? Kenapa tidak berkirim kabar, bahwa kau mengandung buah cinta kita sewaktu kuliah di Malang? Kenapa, Ruth? Kau tidak harus menderita sendirian selama lima tahun! Aku siap membayar belis – mas kawin yang kau takutkan! Sekarang saja aku sudah menyiapkan setengah milyar! Aku siap segalanya – kalau perlu menerima hukum adat Rote! Ti’i langga – topi kebesaran ayahmu, yang sering kau banggakan sebagai simbol keperkasaan lelaki Rote, siap aku emban!

Aku Tunggu Kau di Mercusuar: Pesan WA dari Ruth – Bagian 1

Cerita Bersambung – karya Gol A Gong

          Motor ojek meminggir dan berhenti di bawah mercusuar. Kedua mataku mengelilingi kota tua, Ba’a. Aku seperti melihat orang Arab, Cina, Bugis, Portugis, dan Maluku berdatangan memakai perahu, kemudian menetap di sini. Aku tatap mercusuar yang menjulang ke langit biru. Ruth pernah bercerita, inilah mercusuar termuda di Nusantara, dibangun pada tahun 2011.

Aku datang ke mercusuar ini karena Ruth. Angin laut Rote menampar wajahku. Betul  cerita Ruth, terasa panas tapi segar, berbeda dengan hawa di Jakarta yang panas dan pengap karena aroma politik. Aku sengaja tiba lebih cepat sehari supaya bisa mengenal kota tua ini.

  Aku baca lagi pesan whatsapp dari Ruth2 hari lalu: Aku tunggu di mercusuar Ba’a. Sesuai janjiku kepadamu, kini aku siap ke pelaminan bersamamu.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)