Porterku Sayang

Sebelum Jonan jadi Direktur PT KAI, stasiun jadi tempat berburu ide cerita yang menarik. Porter, tukang nasi bungkus, tukang semir sepatu, pengemis, bahkan tukang tipu juga berseliweran. Sekarang sudah tidak bisa lagi. Jika tidak punya tiket, jangan harap bisa masuk ke peron. Apalagi tidur di bangkunya, seperti yang pernah saya lakukan saat backpacking di era 1980-1990-an.

Nasib porter di stasiun masih ada, terutama di Gambir. Jika saya traveling naik kereta dan pulangnya membawa barang banyak, saya tidak khawatir. Porter selalu siap sedia membawakan barang-barang saya ke taksi. Bagi saya, porter adalah profesi. Di belakang porter ada keluarga yang harus dinafkahi. Itu sebab setiap berpergian, saya upayakan mencari porter. Profesi ini harus kita support, agar mereka tetap bersemangat bekerja.

Tapi sekarang di era Jokowi bandara Soekarno – Hatta, para porter tidak mau lagi menerima bayaran. Saya paksa juga tidak mau. Itu bagian dari pelayanan bandara, kata mereka. Di beberapa bandara setingkat provinsi, porter masih ada. Mereka sudah menyambut kita di pintu terminal kedatangan. Sisihkan sekitar Rp. 25 ribu – Rp. 50 ribu, mereka akan tersenyum bahagia. Itulah sharing ekonomi. Semoga profesi ini tidak hilang. Jika porter kita pertahankan, itu sama dengan kita mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan. (Gol A Gong)

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5