Cerpen Gol A Gong: Pulang Dari Haji

Karya Gol A Gong

Akbar tersenyum lebar. Dia duduk di kursi singgasana, bersarung poleng, koko, kopiah, yang kesemuanya dia beli di Arab Saudi, negeri muslim dengan kekayaan melimpah ruah. Tasbeh dengan bulatan-bulatan terbuat dari kacang zaitun menggantung di tangan kirinya. Tangan kanannya untuk yang keseratus kali menerima uluran salam selamat dari tetangga di komplek guru.

“Alhamdulillah, selamat datang kembali di rumah, Pak Haji…”

Akbar semakin melebarkan senyumnya. “Silahkan, Pak Wawan, silahkan diambil oleh-olehnya. Itu korma asli dari Mekkah. Sedikit-sedikit, ya. Sajadah dan tasbehnya hanya untuk kepala-kepala sekolah saja. Tidak bisa saya kasih ke semua guru. Bisa tekor saya.”

Cerpen Gol A Gong: Gadis Pemulung Masuk Televisi

Aini duduk di pos ronda. Karung teronggok di tiang. Dia menyeka keningya. Punggung tangannya basah. Ini hari panas sekali. Mungkin pertanda akan hujan. Dia baru sekitar 1 jam mengelilingi perumahan; mencari-cari rongsokan. Karungnya baru terisi seperempat. Di bak sampah tikungan jalan komplek, dia hanya memperoleh beberapa botol minuman plastik. Di bak sampah rumah nomor 9, hanya ada 2 botol plastik minuman ukuran besar.  

Segera Terbit: 50 Cerpen Pilihan Gol A Gong

Setiap hari, saya sempatkan menulis cerpen, yang biasa disebut fiksi mini. Beberapa cerpenku yang dimuat di koran Minggu ternyata banyak yang seragam; 1 lokasi, 1 waktu, dan endingnya yang lagi nge-tren – diplintir.

Beberapa kali saya bekerjasama dengan SIP Publishing menyelenggarakan pelatihan menulis fiksi mini, kemudian praktik baiknya menulis, menerbitkan, dan menjualnya secara pre-order. Ini sangat efektif, kreatif, dan produktif. Bergelombang, tidak ada hentinya. Sebulan bisa dua hingga tiga kali pelatihan. Pesertanya ratusan, bahkan bisa ribuan karena gratis dan lewat zoom meeting.

Irul, Rini, dan Ibu

Oleh Gol A Gong

Irul memarkir motor di depan rumahnya yang tidak memiliki halaman. Dia merapatkan motornya ke tembok. Pintu dan jendelanya juga langsung berbatasan dengan selokan. Biasanya jendelanya yang lebar terbuka, karena ada dagangan ibunya.

Irul mendorong pintu, berbarengan dengan ibunya yang membukakan pintu.

“Motor siapa itu?” ibunya mengusap-usap lampu depan motor.

“Temen!” suara Irul masuk ke dalam rumah.

Cerpen: Bilal

Oleh Gol A Gong

Nasrul bangkit. Hati-hati dia melangkahi beberapa tubuh yang hanya bercelana pendek saja. Kamar kontrakan yang berukuran 3 kali 3 meter ini diisi lima orang. Dibukanya pintu. Udara subuh membuat kamar kontrakan yang pengap terasa sejuk.

“Nyamuk, Rul, tutup lagi,” Iman menggeliat dan menggeser tubuhnya ke dekat dinding, tempat dimana tadi Nasrul tidur.

“Sudah subuh….”

“Iya. ‘Ntar aku nyusul….”

“Aku ke mesjid ya…,” Nasrul menjumput sarung poleng yang tergantung di dinding.

Iman tidak menjawab. 

Nasrul keluar kamar. Menutup pintu. Dia menuju tali jemuran. Kaos yang tadi sore dicuci diambilnya. Didekap dan diciumnya.  Lalu dipakainya. Sebetulnya belum kering benar, tapi justru membuat tubuhnya merasa sejuk.

Cerpen: Pulang dari Haji

Oleh Gol A Gong

Akbar tersenyum lebar. Dia duduk di kursi singgasana, bersarung poleng, koko, kopiah, yang kesemuanya dia beli di Arab Saudi, negeri muslim dengan kekayaan melimpah ruah. Tasbeh dengan bulatan-bulatan terbuat dari kacang zaitun menggantung di tangan kirinya. Tangan kanannya untuk yang keseratus kali menerima uluran salam selamat dari tetangga di komplek guru.

“Alhamdulillah, selamat datang kembali di rumah, Pak Haji…”

Akbar semakin melebarkan senyumnya. “Silahkan, Pak Wawan, silahkan diambil oleh-olehnya. Itu korma asli dari Mekkah. Sedikit-sedikit, ya. Sajadah dan tasbehnya hanya untuk kepala-kepala sekolah saja. Tidak bisa saya kasih ke semua guru. Bisa tekor saya.”

Mesin Tik

Cerpen oleh Gol A Gong       

Mesin tik itu masih kupandangi. Tukang loak menatapku kesal. Alangkah berdosanya jika benda kuno ini aku jual. Bagaimana dengan sejarah mesin tik ini? Sudah ratusan buku lahir dari mesin tik ini.

Cerpen: Akbar

Oleh Gol A Gong

Akbar membuka laci meja kerjanya. Amplop tebal itu masih tergolek di laci meja kerjanya. Dia mengusap wajahnya yang berkeringat dengan tissue. Diambilnya remote AC yang tergeletak di dekat laptop dengan gambar buah apel digigit. Dipijitnya lagi, sudah mentok di angka “17”.

Dia meraih gawai yang tergeletak di meja. Buru-buru kedua jempolnya memijiti huru-huruf, “Aku mau balikin amplop dulu ke Wisnu, Bu. Pulang agak maleman, ya,” begitu pesan yang dia tulis lewat WA kepada isterinya.

Centang dua, belum biru.

Pintu diketuk.

“Masuk!”

Pintu terbuka. Sebuah kepala muncul dan terdengar suara yang bernada hati-hati, “Pulang sekarang, Pak?”

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)