Cinta dan Gerakan Reformasi (16)

Novel perjuangan oleh Gufron Khan

Memasuki bulan Maret 1998, situasi di Ibukota dan beberapa kota besar di Indonesia mulai memanas. Sehari menjelang berakhirnya Sidang Umum (SU) MPR di Jakarta, sekitar 12.000 mahasiswa Bandung melakukan aksi unjuk rasa, Selasa (10/03/1998). Mereka secara serentak namun terpisah, menggelar aksi di kampus ITB, Unisba, Unpad, Unpas dan Uninus. Selama berlangsungnya aksi, aparat keamanan berjaga-jaga di sekitar kampus.

Cinta dan Gerakan Reformasi (15)

Lantai 2 setengah kami menyebutnya. Di kalangan pengurus masjid sangat paham lantai yang dimaksud. Tidak banyak yang tahu bahwa di dalam masjid ada suatu ruangan yang dijadikan sebagai tempat menyimpan barang pribadi dan sekedar untuk istirahat siang.

“Roni, ayo kita naik ke atas. Bisa untuk menyimpan pakaian. Ada tangga besi yang menuju ke sana,” kata Shod pada saat awal-awal aku menetap di masjid kampus.

Cinta dan Gerakan Reformasi (14)

“Ada buku Madilog karyaTan Malaka, atau novel-novel Tetralogi Pramudya Ananta Toer?” tanyaku pada pedagang buku yang biasa berjualan di depan kampus.

“Ada. Tapi harus pesan dulu. Besok tak aku bawakan,” Jawab sang pedagang buku.

“Lho kok emang nggak ada stoknya sekarang?” tanyaku

“Bukan tidak ada stok, tapi buku yang dipesan tadi kategori buku yang dilarang beredar oleh pemerintah,” jawabnya lagi.

“Oh gitu yah.. Baru tahu saya,” aku menanggapi.

Cinta dan Gerakan Reformasi (13)

Novel perjuangan oleh Gufron Khan

“Penindasan dan Kesewenang-wenangan Akan Terus Ada, Selama Soeharto Masih Berkuasa”

Itulah coretan dinding di kamarku saat aku pulang ke rumah. Coretan pertama tentang keadaan negeri ini yang jauh dari kebebasan dan berdemokrasi. Ketika suara-suara disumbat dan kritik di balas dengan ancaman penjara maka aku mulai menemukan jati diriku sebagai seorang aktivis.

Cinta dan Geraka Reformasi (12)

Novel pejuangan oleh Gufron Khan

Dalam catatanku dari hasil membaca opini dan pemberitaan di media, aku mulai memahami sedikitnya bahwa aksi mahasiswa, bukanlah hal baru di Bandung. Dalam sejarah Orde Baru, gerakan mahasiswa Bandung, yang membentuk parlemen jalanan di antaranya dari kampus. Misalnya, Dewan Mahasiswa ITB, Unpad, IKIP, Unpar. Kalau Jakarta punya Arief Rachman Hakim yang tertembak saat aksi bersama KAMI, Bandung memiliki Julius Usman, yang juga gugur tertembak saat melakukan aksi.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)