Cinta dan Gerakan Reformasi (14)

“Ada buku Madilog karyaTan Malaka, atau novel-novel Tetralogi Pramudya Ananta Toer?” tanyaku pada pedagang buku yang biasa berjualan di depan kampus.

“Ada. Tapi harus pesan dulu. Besok tak aku bawakan,” Jawab sang pedagang buku.

“Lho kok emang nggak ada stoknya sekarang?” tanyaku

“Bukan tidak ada stok, tapi buku yang dipesan tadi kategori buku yang dilarang beredar oleh pemerintah,” jawabnya lagi.

“Oh gitu yah.. Baru tahu saya,” aku menanggapi.

Cinta dan Gerakan Reformasi (13)

Novel perjuangan oleh Gufron Khan

“Penindasan dan Kesewenang-wenangan Akan Terus Ada, Selama Soeharto Masih Berkuasa”

Itulah coretan dinding di kamarku saat aku pulang ke rumah. Coretan pertama tentang keadaan negeri ini yang jauh dari kebebasan dan berdemokrasi. Ketika suara-suara disumbat dan kritik di balas dengan ancaman penjara maka aku mulai menemukan jati diriku sebagai seorang aktivis.

Cinta dan Geraka Reformasi (12)

Novel pejuangan oleh Gufron Khan

Dalam catatanku dari hasil membaca opini dan pemberitaan di media, aku mulai memahami sedikitnya bahwa aksi mahasiswa, bukanlah hal baru di Bandung. Dalam sejarah Orde Baru, gerakan mahasiswa Bandung, yang membentuk parlemen jalanan di antaranya dari kampus. Misalnya, Dewan Mahasiswa ITB, Unpad, IKIP, Unpar. Kalau Jakarta punya Arief Rachman Hakim yang tertembak saat aksi bersama KAMI, Bandung memiliki Julius Usman, yang juga gugur tertembak saat melakukan aksi.

Cinta dan Gerakan Reformasi (11)

Novel oleh Gufron Khan

Pasca aksi memperingati hari HAM Sedunia pada 10 Desember lalu yang berakhir bentrok, aku sudah mulai dikenalkan dengan aktivis mahasiswa dari beberapa kampus di Bandung dan kerap kali mengikuti rapat di kampus-kampus tersebut.

“Ron, malam ini kita ada rapat di ITB, nanti ikut yah,” ajak Irzal

“Okeh siap. Nanti ketemu siapa aja dan apa agendanya?” tanyaku

“Ada dari para aktivis mahasiswa dari ITB,Unpas, Unpar, Unpad, STHB, UPI dan lainnya. Kita akan bahas situasi ekonomi dan politik saat ini yang semakin mengkhawatirkan,” jawab Irzal

Cinta dan Gerakan Reformasi (10)

Novel oleh Gufron Khan

Hari itu adalah hari yang takkan terlupakan dan membekas dalam ingatanku. Rabu, 10 Desember 1997. 500 mahasiswa memperingati hari Hak Asasi Manusia Sedunia akhirnya bentrok dengan pasukan anti huru hara.

Mulanya kami menggelar aksi mimbar bebas bersama para mahasiswa dari Unpas, STIE Bandung, Akademi Seni & Tari dan Universitas Winaya Mukti dan tentunya di bawah kordinasi Forum Aktivis Mahasiswa Unisba (FAMU) yang berlangsung untuk memperingati Hari HAM Sedunia di halaman parkir Unisba.

Cinta dan Gerakan Reformasi (9)

Novel karya Gufron Khan

Di depan kampus biru selalu ramai dengan kendaraan. Ruas jalan yang tak begitu lebar itu kerap kali sering terjadi kemacetan. Pasalnya selain jalur angkot berbagai jurusam banyak juga terparkir mobil para mahasiswi hedon.

Kuliah sambil bawa mobil dan parkir sembarangan di pinggir jalan. Belum di tambah warung-warung di samping jalan trotoar menambah semrawut area depan kampus.

Cinta dan Gerakan Reformasi (8)

Novel karya Gufron Khan

Perkuliahan semester 1 sudah berjalan 2 bulan. Seperti pada umumnya, sebagai mahasiswa baru sedang giat-giatnya belajar. Tak ada niat bolos sedikitpun. Aku berupaya semaksimal mungkin untuk mendapat pelajaran dari para dosen hukum.

Pada tiap pertemuan, aku usahakan untuk selalu bertanya. Kadang aku berpikir, untuk apa aku rajin bertanya sementara teman satu kelasku lebih banyak mendengar dan mencatat. Aku yang selalu memulai bertanya. Terkadang aku sendiri yang mengajukan pertanyaan ke dosen pengampu.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)