Hidup jangan terlalu dibawa tegang. Santai tapi serius. Kita butuh juga hiburan seperti menonton film atau mendengarkan musik.
Inkoktober 30: Violin

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Hidup jangan terlalu dibawa tegang. Santai tapi serius. Kita butuh juga hiburan seperti menonton film atau mendengarkan musik.

Di jalan banyak hal kita temukan. Ilalang tentu ada di sepanjang jalan. Aspal meleleh di alas sepatu kita. Lelah berjalan, masih adakah tujuan?

Jika melihat kamera, tentu kita tahu akan banyak kenangan direkamnya. Tapi bagiku, kamera bukan sekadar alat, tapi juga kenangan kepada Bapak yang telah tiada.

Scarecrow adalah orang-orangan sawah. Di Banten disebutnya bebegig.Masih adakah bebegig? Gunanya untuk apa jika yang mencuri padi adalah sesama petani atau yang berjas-dasi?

Apa yang berkarat Besi Bagaimana dengan lukahati karena cinta? Berkarat? Jika lukanya hilang, kemudian kenangannya berkaratkah di dalam hatimu?

Saya ingat pada 1996 ketika hubby melamarku. Kampung Ciloang di Kota Serang yang diajukannya sebagai tempat tinggal kami, terutama untuk gelanggang remaja yang diimpikannya – Rumah Dunia, belum masuk dalam peta. Aku bilang kepada hubby, “Nanti kita masukkan ke dalam peta dengan beragam kegiatan.”

Tidak ada yang sukses tanpa melewati proses. Begitulah juga ketika mendaki gunung, punggung bukit adalah ujiannya.

Hubbyku nyetir sejak SMA. Berlengan satu. Nyetir untuk keluarga, pertama kali tahun 2000-an, memakai mobil bapak mertua. Punya mobil sendiri tahun 2002, ngredit murah di kantor, RCTI.

Bagaimana pun hasilnya, aku sudah berjuang untuk konsisten hingga hari ini. Tantangan inktober ini sudah ingin kuikuti sejak beberapa tahun lalu. Jadi sebenarnya ini adalah pembuktian pada diri sendiri.

Aku belajar mengganti rasa curiga menjadi waspada, rasa jijik menjadi maklum, dan mengatasi ketakutan terhadap tempat baru yang grungy.

Buku akuntansi itu diisi dengan tulisan latin dan miring. Alat tulisnya adalah pena, yang memiliki tabung untuk isi tinta, dan ujung pena dari logam yang terbelah. Ada bulatan di bagian ujungnya, di situlah tinta berkumpul dan menetes mengikuti tarikan tangan penulisnya.

Sungguh menyesakkan selesai menonton filmnya. Aku sampai beli DVD-nya dari Amazon, menontonnya berulang kali dan selalu berakhir dengan menyesalkan mengapa harus setragis itu hidupnya.

Setelah kami menikah, aku sempat bilang ingin ke Gili Air. Sampai sekarang belum kesampaian juga. Sepertinya harus mengambil waktu libur yang panjang jika tujuannya ke Nusa Tenggara Barat, karena banyak tempat indah yang ingin kukunjungi.

Selesai makan ketupat tahu, hubby masih mengobrol dengan pedagang batu akik. Aku permisi menunggu di mobil. Langsung kuteruskan sketsaku, alhamdulillah dapat setengah pencapaian. Masya Allah, tabarakallah, allahumma baarik ‘alaih. Memanglah keras kepala aku tuh soal konsistensi pada hobi.

Aku sangat akrab dengan snack. Apalagi jika malam hari saat hubbi menulis. Pasti harus ada snack dan kopi.

Hubby adalah nomadic – seorang pengembara, di kala muda. Dua tahun keliling Indonesia, 2 tahun pula keliling 7 negara Asia. Sekarang saja sering ninggalin aku sebulan, seminggu…

Sun. Matahari. Tanpa fajar, hidup jadi tidak bersemangat. Yang ada mendung kelabu. Mari, selalu kita sambut.