Jangan Sia-siakan Tokoh Antagonis

Suatu hari saya dan mas Golagong Penulis berdiskusi tentang materi dalam Kelas Menulis Gol A Gong. Salah satu bahan pembahasan adalah tokoh antagonis. Setiap manusia punya sisi baik dan buruk. Tokoh baik biasanya muncul dari keturunan dan lingkungan baik. Sesekali ia melakukan kesalahan dan dengan berbagai cara kembali baik.

Begitu juga tokoh antagonis, pasti ada sesuatu yang menyebabkannya menjadi jahat.
Nah, sisi ini sering dilupakan. Kita sering menampilkan tokoh jahat murni dengan kejahatan dan sisi gelapnya yang paling dalam kalau perlu hingga menembus magma.
Tetapi penulis sering lupa sisi kemanusiaan bahwa ada kemungkinan ia bisa berubah menjadi baik. Jika tidak ditakdirkan berubah pun setidaknya ia memiliki kebaikan.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Latar Cerita Literasi di Film Green Book, Balada Si Roy, dan Novel Lelaki di Tanah Perawan

Pernah nonton film Green Book ? Ini film produksi 2018 yang disutradarai Peter Farrelly, scene-scenenya sangat simbolik. Dua pemainnya saja yang berbeda suku bangsa dan warna kulit, sudah sangat multi tafsir. Menceritakan Tony Lip (Mortensen), preman pensiun di wilayah Italia-Amerika di Bronx, disewa jadi supir oleh Dr. Don Shirley (Ali), pianis kulit hitam kelas dunia. Toni pada akhirnya selain menyetir juga mengawal Dr. Don selama tur konser dari Manhattan ke Deep South. Pedomannya “Buku Hijau”, yaitu semacam buku panduan bagi orang kulit hitam Afrika-Amerika. Mulai dari hotel dan restoran. Ini persoalan rasisme.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Mari Riset, Kemudian Menulis, dan Swa Sunting

Saat lockdown gara-gara pandemi Covid-19, tentu berkah buat saya. Secara ekonomi, penghasilan tentu nol, karena semua rencana jadi pembicara di beberapa kota hingga dicancel. Hikmahnya, saya jadi focus menuntaskan seluruh hasil riset saya dan traveling di Indonesia selama bertahun-tahun. Maka jadilah sebuah judul novel : Lelaki di Tanah Perawan yang kini dimuat bersambung di platform digital Storial.co .

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Dari Mengecat Pagar Jadi Cerita Pembuka Novel

Setiap hari banyak peristiwa terjadi di sekitar kita. Itu semua bisa kita olah jadi cerita unuk novel yang akan kita tulis. Seperti pada Minggu 5 Juli 2020. Abdul Salam – Presiden Rumah Dunia 2019-2024 dan relawan memagar areal Rumah Dunia seluas 3000 m2. Lalu para relawan komunitas literasi mengecat pagar itu. Nah, jika kita sekadar melihat, maka menguap. Amati dan cermati. Ini menarik untuk dijadikan setting cerita dan lokasi. Peristiwa kecil yang berdampak besar bagi lingkungan ini sangat potensial dan bisa menjadikan novel kita “alamiah”.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Latar Belakang Cerita Si Tokoh Dalam Dialog

Nama tokoh Al Bahri. Dialognya antara 3 tokoh di sebuah cafe:

“Kenapa setiap kita makan, kamu tidak pernah mau menyantap ikan yang kita pesan?” Chandra Kirana penasaran.

“Kali ini kamu harus menceritakannya kepada kami,” Ramadhan mendesak.

“Baiklah. Setiap nama selalu memiliki kisahnya, bukan?” Al Bahri mengaduk-aduk jus jeruknya. “Chandra Kirana, katamu lahir saat bulan purnama. Dan kamu Ramadhan, mudah ditebak, lahir di bulan suci Ramadhan…’

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Bagaimana Menulis Setting Lokasi yang Baik?

Di cerpen atau novel yang akan kita tulis, pemilihan setting lokasi sangatlah penting. Setting lokasinya fakta atau khayalan? Bagaimana menuliskannya? Memberitahukan kepada pembaca atau membiarkan pembaca berimajinasi?

Ada penulis yang memberi tahu kepada pembaca:

“Kantin, pagi hari.” Ini cenderung mematikan imajinasi pembaca, tetapi tidak dilarang.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Belajar Membuat Dialog Tokoh dari Pohon Pisang dan Generasi Instan

Jadi penulis itu harus terus berpikir. Naluri mengamati jangan sampai mati. Setiap hari kita sering disuguhi fenomena hidup. Misalnya, amati pohon pisang. Semua yang ada bermanfaat; mulai dari daun, batang pohon, kulitnya, buahnya, semuanya. Kemudian belajarlah membandingkannya atau menganalogikannya dengan manusia.

Saya memotret generasi sekarang adalah generasi instans, generasi yang ingin meraih sukses dengan cara cepat. Di dalam otak saya, kemudian dicampur dengan imajinasi, saya memutuskan membuat puisi yang idenya dari “pohon pisang dan generasi instan”.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5