Naufal Nabiluddin – wartawan golagongkreatif.com dan mahasiswa UNTIRTA Serang, sedang menjalani pertukaran mahasiswa di Gorontalo
Aku cukup kaget ketika Bang Adit, mahasiswa Gorontalo bercerita tentang dikili, zikir atau pujian kepada Nabi yang dilantunkan semalaman suntuk untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. “Di Gorontalo, perayaan Maulid yang paling meriah ada di Desa wisata religi Bubohu Bongo,” katanya.


Aku sangat penasaran dengan tradisi Maulid Nabi Muhammad di Gorontalo yang biasa disebut Walima, terutama di Desa wisata religi Bubohu Bongo. Aku ingin melihat langsung seperti apa dikili yang dilantunkan sehabis isya sampai pagi itu.

Rasa penasaranku yang besar membawaku pergi ke Desa Bubohu Bongo pada 1 Oktober 2023. Tujuanku ke sana untuk mencari informasi tentang perayaan Maulid Nabi Muhammad yang akan digelar.

Di Desa Bubohu Bongo, aku mengunjungi Masjid Walima Emas yang berdiri di puncak bukit kapur berpemandangan Teluk Tomini. Aku bertemu dan berbincang dengan Pak Hasan Rahim, pemandu wisata Bongo

Dari Pak Hasan, aku dijelaskan tentang tradisi walima dan dikili yang menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW yang patut diteladani.
“Kitab Dikili itu ditulis dalam bahasa Arab, namun pelantunannya menggunakan bahasa Gorontalo,” jelas Pak Hasan.

“Kalau pelantunannya memakan waktu 10 sampai 12 jam. Setebal apa Kitab Dikili yang dibaca?” Kataku bertanya

“Sebenarnya kitabnya tidak terlalu tebal, isinya sama seperti Kitab Barzanji. Namun, ada nada-nada yang dibaca panjang. Kalau orang awam dengar itu, mungkin terasa aneh,” kata Pak Hasan.
“Kalau kalian mau tahu secara langsung, datang lagi minggu depan tanggal 8 Oktober 2023. Kalau bisa menginap dari malam, supaya tahu proses dari awal sampe akhir,” tambah Pak Hasan.

Perbincangan aku dan Pak Hasan membuatku semakin penasaran dan ingin menginap di Bongo untuk merasakan suasana Maulid Nabi Muhammad dan mendengar langsung seperti apa dikili dilantunkan para pezikir.
Sepulang dari Desa Bubohu Bongo, Aku ajak teman-teman pertukaran mahasiswa untuk ikut merasakan suasana Maulid tanggal 8 Oktober 2023. Namun, aku jelaskan bahwa sebaiknya laki-laki berangkat pada Sabtu malam 7 Oktober, supaya bisa melihat langsung pelantunan dikili.

Teman-teman sepakat, kami akan berangkat pada Sabtu malam, dan menginap di Masjid At-Taqwa tempat pelaksanaan acara walima. Sedangkan, yang perempuan akan berangkat Minggu pagi.
Sabtu Malam, 7 Oktober 2023 sekitar pukul 22.30 WITA. Aku, Fauzi, Tama, Raihan, Rama, Farhan dan Bang Mi’un diantar oleh Bang Adit ke Masjid At-Taqwa, Desa Bongo, Kab. Gorontalo. Perjalanan dari tempat tinggal kami di Jalan Pangeran Hidayat, Kota Gorontalo menuju Desa Bongo menempuh jarak 12 KM dengan waktu sekitar 25 menit.
Sesampainya di Masjid At-Taqwa, suasananya sudah sangat ramai. Jalanan di sekitar masjid dihias dengan janur kuning dan suara dari toa masjid sangat nyaring terdengar melantunkan dikili.
Di depan rumah warga, sudah siap kue kolombengi yang disusun sedemikian rupa di tolangga, wadah untuk mengantungkan kue. Kursi-kursi di teras rumah warga disusun rapih untuk menyambut tamu yang akan datang menyaksikan acara puncak walima besok pagi.

Kami bertemu dengan takmir atau ketua Masjid At-Taqwa, Pak Romli Ibrahim. Walaupun beliau terlihat sangat sibuk, tapi berkenan untuk menjelaskan mengenai acara Walima dan tanya jawab dengan kami.
“Untuk acara Maulid Nabi di Gorontalo, setiap tahun memang dipusatkan di sini. Sudah menjadi ikon wisata,” katanya.

Pak Romli berjelaskan, dikili ini sudah berlangsung sejak pukul 20.00 WITA dan ditargetkan selesai pukul 08.00 WITA.
“Untuk pezikir sampai malam ini berjumlah 303 orang yang datang dari berbagai daerah di Gorontalo, bukan hanya dari Kab. Gorontalo,” tambah Pak Romli.
Para pezikir ini membacakan perjalanan Nabi Muhammad dan pujian yang dilantunkan dalam bahasa Gorontalo sampai pagi. Kemudian dilanjut doa penutup dan pembagian sajian dalam tolangga yang sudah disediakan oleh warga.

“Jumlah tolangga tahun ini mencapai 121, dengan jumlah kue kurang lebih 50 ribu,” kata Takmir Masjid At-Taqwa itu.
Setelah berbincang dengan Pak Romli, aku perhatikan para pezikir dan kitab yang dibacanya. Kitabnya memang tidak terlalu tebal, namun pembacaannya yang panjang dengan nada tinggi membuatnya memakan waktu. Wajar saja kalau butuh 10 sampai 12 jam untuk menyelesaikannya.



