Mahal, ya! Ember. Makanya akutuh pengin sekali mata uang rupiah kita menguat terus setiap hari. Inginnya kembali ke saat satu dolar amrik kursnya sembilan ribu rupiah. Sungguh masa yang tentram saat itu menurutku. Hihihi.

Jadi kalau beli-beli di negeri orang, aku menghindari menghitung dengan rupiah. Patokannya berapa bajet untuk suatu keperluan. Jika masih di bawah harga itu, ya sudah gunakan untuk beli. Jangan mikir berapa rupiah, karena hanya menyakitkan hati. Hihihi.

Kartu pas itu gunanya untuk membayar tiap naik dan turun MRT. Agak nanggung memang. Kalau beli yang sehari, harganya 22 dolar Singapura. Takut kami keluyuran dari ujung ke ujung, tidak akan cukup. Akhirnya kartu bermasa pakai dua hari itu masih punya saldo banyak.

Sebagai kaum mendang-mending yang penuh perhitungan, kami manfaatkan pengembalian kartu, dan beroleh sepuluh dolar tiap kartunya. Lumayan lah, dapat uang tunai sepuluh dolar yang dengan seratus sekian belas ribu rupiah.


