Oleh Ranang Aji SP
Ketika kiai besar itu melihatnya berdiri di antara lengkungan pintu sentong, dia berjalan mendekat dan berkata, “Pulanglah, urus keluargamu, dan jangan mencari guru lagi.”
Kobar berdiri tertegun, terpesona mendengarnya. Lalu dia sadar dan malu, seolah dirinya telanjang di hadapannya. Kiai itu tak mengenalnya secara pribadi, tapi dia tahu apa yang dipikirkannya. Dia masih berdiri dengan perasaan takjub ketika kiai itu masuk ke dalam sentong.

Salah satu santri kemudian keluar dari sentong dan mendekatinya sambil mengulurkan tangannya. “Ini dari Kiai, untuk sangu, terimalah,” katanya. “Kiai berpesan, kebo landoh yang sampean simpan, sebaiknya dibuang.”
Kobar kaget mendengar pesan itu. Matanya memandang ragu. Tapi kemudian dia mengangguk.
Ketika tiba di rumahnya yang hanya sebuah bangunan dari susunan gedek kecoklatan yang kering dan muram, dia melihat istrinya tengah menjemur irisan ketela dalam janjangan bambu di halaman. Sudah lebih dari sepuluh tahun, sejak dia getol berkeliling untuk bertemu dengan banyak kiai, belajar hikmah dan kanuragan, istrinya yang bertubuh kurus dengan kulit hitam berkerut seperti jeruk kering, mulai mengolah bahan ketela yang dikeringkan untuk dijual di pasar. Meskipun begitu, Kobar selalu bicara dengan kalimat-kalimat saleh yang teduh saat itu. Kalimat, siapa pun yang mendengar akan merasa bahwa meskipun masih hidup, serasa mati.

“Hidup itu hanya sebentar,” katanya pada istrinya. “Kita tak butuh harta yang membuat kita lalai pada akherat.”
Istrinya duduk mengupas kulit ketela, berkata putus asa, “kita memang tak butuh harta, tapi anak-anakmu butuh makan dan biaya sekolah.”
Kobar dengan mukanya yang cekung menatap tubuh istrinya. “Bukankah kita masih hidup? Anak-anak juga bersekolah. Tak ada yang harus dikhawatirkan.”
Istrinya tetap mengupas kulit ketela.
“Mak, aku bertemu Kiai Sodiq.”
“Untuk apa?”
“Mulai hari ini, aku tak akan pergi-pergi lagi.”
“Itu bagus. Pean bisa bekerja kalau begitu.”
Kobar diam sesaat. Berdiri di bawah cahaya dan bayangan pohon pisang, memperhatikan tangan istrinya yang berkerut dan liat. Nafasnya sedikit sengal. Dia tak terbiasa bekerja, kecuali belajar ilmu hikmah.
“Aku bawa uang buatmu,” katanya kemudian sambil merogoh kantong celananya, lalu melambaikan ke arah istrinya. “Ini.”
Tubuh istrinya berbalik malas. Matanya memandang ke arah uang di tangan Kobar. Seperti tak yakin. “Alhamdulillah.” Kemudian matanya bersinar, dan mulutnya tersenyum.
Suara istrinya itu membuatnya bahagia karena kali ini dirinya merasa memiliki kontribusi besar atas kebahagian istrinya yang menganggap uang yang diterimanya seolah bernilai lima ratus juta.
Malam itu, setelah puas menyaksikan istri dan anak-anaknya makan lauk yang enak, dia mulai memikirkan pesan Kiai Sodiq agar membuang jimatnya. Kobar kemudian masuk kamar dan mengambil bungkusan kain putih dari lemarinya. Dengan hati-hati dia membuka ikatannya dan mengeluarkan benda hitam pipih, seukuran kotak korek api dengan permukaan ditumbuhi bulu-bulu. Kebo landoh.
***

“Kebo landoh itu membuat siapa saja yang memilikinya akan punya wibawa dan kebal,” kata kiai desa yang ditemuinya lima tahun lalu. “Tapi juga harus tahan miskin,” tambahnya.
Kobar mengangguk.
“Ini bukan dari kulit kebo biasa, tapi kebo yang dipelihara Saridin.”
“Eyang Saridin?”
“Sebelum sampai di tanganku, kebo landoh ini milik seorang pejuang republik di masa revolusi.”
Pejuang itu, ceritanya, satu-satunya pejuang yang hidup ketika dikepung tentara Jepang saat pertempuran di sebuah desa di Blora. Wajahnya sangar, dan orang-orang menyebutnya sebagai ‘menungso kulit landoh’. Pejuang itu juga selamat dari tikaman parang pasukan FDR (Front Demokrasi Rakyat) ketika berusaha membalas dendam atas kematian Iskandar dan lainnya di tahun 1948. Ketika Muso ditangkap di Madiun, dia ikut meludahi salah satu anak buahnya hingga kulitnya melepuh. Dia dendam karena kerabatnya dikubur hidup-hidup dalam sumur tua.
“Semua itu karena kebo landoh?” Kobar bertanya.
“Benar.”
“Aku akan memberikan ini sama pean,” katanya. “Tapi jika pean mau menanggung kemiskinan sebagai akibatnya.
“Kulo tak peduli dengan harta,” kata Kobar.
***
Kobar mempertimbangkan pesan kiai itu untuk membuang kebo landoh. Benda keramat ini bukan saja barang langka, tapi juga membuat orang-orang segan padanya. Tapi, ketika istri dan anak-anaknya masuk kamar untuk tidur, tiba-tiba dirinya merasa berdosa melihat tubuh istrinya dan anak-anaknya yang kering. Dia merasa malu sudah bersikap egois.
Seminggu kemudian, seorang tamu datang dengan sedan berwarna hitam. Kulit mobil itu berkilat, halus dan mulus, bahkan jauh lebih halus dari kulit istrinya. Dia seorang politisi, datang diantar oleh Surito, teman bicaranya di gardu ronda. Hari itu bukan malam, bukan siang, tapi senja yang aneh, dengan cahaya jingga bercampur warna kuning di atas langit di sela-sela awan yang berlobang, ketika orang itu mengatakan akan membeli kebo landoh miliknya.

Kobar menatap orang itu lama. Lalu menantap Surito yang duduk dengan kikuk. Kobar sebenarnya belum memutuskan untuk membuang, apalagi menjualnya. Tapi tawaran itu menggodanya.
“Berapa pean akan bayar?”
Tamu itu memberikan angkanya yang membuat Kobar kehilangan minatnya pada kemiskinan. Mulutnya terkatup rapat. Hatinya dipenuhi gejolak yang ganjil.
Tamu itu menunggu, sementara Surito duduk gelisah. “Akan saya tambah dengan mobil di depan itu,” kata tamu itu menambahkan tawarannya karena mengira Kobar tidak setuju dengan angkanya.
Sementara Kobar terbungkam oleh rasa tidak percaya, Surito, temannya pingsan.
***
Dua tahun kemudian, ketika Kobar dan keluarganya pulang dari umroh, Surito bercerita tentang politisi yang membeli kebo landoh miliknya. Katanya, dia sekarang jatuh miskin.
Kobar termenung sesaat, kemudian berkata, “Aku lupa mengatakan risikonya ya…”[]

Catatan:
1.Sentong dalam tradisi Jawa adalah kamar besar yang terpisah dari bangunan utama.
2.Gedek adalah tembok berbahan ayaman bambu.
3.Khodam maksudnya jin yang membantu seseorang.
4.Iskandar adalah Bupati Blora yang diculik PKI dan dibunuh dibuang dalam gorong-gorong Pohrendeng pada peristiwa Pemberontakan PKI Madiun 1948.
5.Pean, adalah singkatan Sampeyan, artinya kamu. Biasa digunakan di sebagian daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah.

REDAKSI CERPEN SABTU: Cukup 500 – 1000 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.



