Cerpen Sabtu: Roda dan Pena Karya Gol A Gong

Ardi berjalan seperti katak, melompat-lompat. Kaki kirinya yang diamputasi selutut disangga kruk, membawanya ke toilet. Ah! Sekolah jadi tidak ramah kepadanya. Apalagi di koridor, tatapan orang-orang menusuk seperti jarum. Lantai koridor dingin. Kruknya menimbulkan bunyi ketukan berulang.

“Itu Ardi… si kaki satu,” ledek Marwan, musuh balapnya.

“Dulu sok jago sekarang… hmm…,” ejek Mardi.

“Marwan dilawan!” Izal tertawa puas.

Ardi menunduk. Suara-suara itu menempel di belakang kepala seperti lalat yang tak mau pergi. Ingin sekali dia melayangkan tinjunya ke wajah Marwan, yang jadi penyebab dirinya harus kehilangan kaki kiri.

“Masih berani balap lawan gua, Di?” Mardi mendekatkan wajahnya.

Ardi menelan ludah, melangkah mundur.

Tiba-tiba Izal menendang kruk Ardi dengan keras. Ardi jatuh, tubuhnya menghantam lantai. Rasa sakit menjalar dari pinggang ke dada. Napasnya tercekat.

Marwan tertawa puas. Begitu juga Mardi dan Izal. Bahkan orang-orang yang melintas di koridor menuju toilet.

Tiba-tiba terdengar suara Dipo. “Heh, Marwan! Gila lu, ya!”

“Lu ngajak ribut!” Yusron menyerbu.

“Belon puas juga lu ngerjain Ardi!” Tanto menerjang.

Tiga anak berlari menuju Marwan dan dua temannya. Dipo di depan. Ardi yang terduduk di lantai sambil memegangi kruk hanya bisa menatap ketiga sahabatnya.

“Sentuh dia lagi, gua hajar lu!” Dipo mendorong Marwan.

Keributan pecah di koridor menuju toilet. Pukulan. Dorongan. Baju saling ditarik. Suara barang jatuh menggema di koridor.

Guru-guru datang beberapa detik kemudian, tapi suasana sudah terlanjur panas.

Ardi duduk bersandar ke dinding sambil bertumpu pada kruknya. Wajahnya pucat, mata kosong. Dalam hiruk-pikuk itu, sesuatu di dalam dirinya retak sekaligus bergerak ke peristiwa tiga bulan lalu.

oOo

Ardi mendorong motor keluar lewat celah pagar. Dia melihat lampu-lampu warung kelontong di samping rumah masih menyala. Hidungnya peka mencium bau minyak goreng dan kopi sachet dari warung bercampur dengan udara tengah malam.  

“Jangan pakai motor itu lagi, Di,” kata ayah tetap focus ke lembar-lembar uang.

Ardi menggenggam stang motor. “Pinjam sebentar. Cuma nyoba mesin.”

Ayah berdiri, wajahnya tegang. “Nyoba atau balapan? Kamu mau mati?”

Ardi menatapnya tajam. “Kalo Ayah bisa ngamar sama Bu Reni tiap Kamis, masa Ardi cuma muter kota dibilang mau mati?” nadanya keras.

Rahasia itu meluncur pelan tapi menusuk. Ayah terdiam. Mata mereka bertemu sebentar, lalu ayah kembali duduk.

Setelah di jalan, Ardi kemudian menyalakan mesin motor, lalu melaju menyalurkan kesedihannya di arena balap liar di pinggiran kota.

Jalanan dua lajur yang biasa dipakai truk pasir siang hari, malam itu diterangi lampu-lampu neon dari warung mie instan dan suara musik dangdut dari speaker rombeng.

“Di! Cepetan! Marwan udah nunggu di ujung, tuh!” teriak  Dipo.

Ardi merapatkan jaketnya. Marwan berdiri di depan motor modif, helm hitam polos menutupi wajahnya.

“Lu siap mati?” Marwan melepas helm dan menampakkan senyum miring.

“Atau lu yang mati!” Ardi balas menggertak.

“Lu jangan jatuh sebelum tikungan, ya!”

Ardi menyalakan mesin. “Jangan banyak omong lu!” Suaranya keras memotong dinginnya udara. “Lu lihat aja siapa yang jatuh nanti!”

Penonton berbaris di pinggir jalan. Aroma knalpot bercampur tanah basah setelah gerimis sore tadi. Seseorang mengangkat tangan sebagai tanda mula.

Detik berikutnya motor-motor melesat. Angin mencambuk wajah Ardi. Lampu jalan memanjang seperti garis cahaya. Marwan unggul beberapa meter, tapi Ardi mulai menyusul ketika memasuki kawasan jembatan.

“Gas terus, Di!” teriak Dipo dari kejauhan.

Di tikungan kiri, Marwan tiba-tiba memotong jalur. Ardi kaget. Stangnya goyah. Roda depan menyentuh kerikil.

“Lu gila, ya!” suara Ardi tercekat.

Motor terpental.

Ardi melihat cahaya truk datang dari arah berlawanan. Klakson meraung. Benturan keras membuat tubuh Ardi melayang. Dunia berputar.  Ardi mencoba menggerakkan kakinya. Tidak terasa. Segalanya gelap.

oOo

Kamar rumah sakit berbau antiseptik dan kertas penuh luka. Dari jendela terlihat halaman belakang yang sunyi, hanya ada pohon ketapang bergerak pelan. Ardi terbaring, wajahnya yang diplester dan lebam tampak pucat. Perban menutupi sisi kiri tubuhnya.

Pintu terbuka. Tiga temannya – Dipo, Tanto, dan Yusron, masuk membawa kresek berisi jeruk dan lengkeng.

“Brooo… Ardi!” seru Dipo dengan suara dibuat ceria.

Ardi memaksakan senyum. “Hei.”

 “Alhamdulillah, lu masih hidup!” Yusron tertawa.

“Telat dikit tuh ambulans, lu tewas deh!” Tanto juga ikut tertawa.

Mereka duduk mengelilingi tempat tidur. Gema siulan mesin balap seolah masih menempel di pakaian mereka.  

“Marwan cuma sempet ditahan dua hari,” ujar Dipo sambil mengupas jeruk.

 “Ayahnya datang. Petugas langsung bilang itu kecelakaan murni,” nada Yusron geram.

Ardi menatap jendela, rahangnya mengeras.

“Dia malah bilang kamu terlalu ngebut,” tambah Tanto.

“Maaf ya, Di… kita juga gak bisa apa-apa,” nada penyesalan keluar dari mulut Dipo.

Ardi hanya mengangguk. Kata-kata itu seperti kabut yang menutup ruang pikirannya.

Waktu berdetak lambat bagi Ardi. Kemudian tidak ada lagi langkah kaki teman-temannya di lorong kamar. Tidak ada gurauan, tak ada kresek berisi jeruk dan lengkeng. Hanya suara jam dinding dan bunyi gerobak perawat lewat.

Suatu malam, ketika Ardi tertidur, sayup ia mendengar suara ibu dan ayahnya di luar pintu. Penuh emosi tapi dipelankan.

“Jangan anggap aku bodoh, ya. Aku tahu, setelah belanja kamu pergi ke mana!

Ardi memejamkan mata kuat-kuat. Hatinya ikut retak. Tapi kesedihannya pelan-pelan dihibur perawat yang sering masuk ke kamarnya, Suster Gita, yang datang membawa beberapa buku.

“Dik Ardi… Kamu pasti bosan kan? Daripada bengong atau bacain berita-berita hoaks di medsos, memdingan baca ini,” Gita meletakkan novel dan kumpulan puisi di meja kecil.

Awalnya Ardi membaca satu buku puisi dengan malas. Tapi tiba-tiba saja, kata-kata di buku itu meresap, menciptakan ruang baru yang tidak ia tahu ada di dalam dirinya.

“Kalau bukunya udah semua dibaca dan Dik Ardi suka, bilang ya. Mbak punya perpustakaan di rumah. Suami Mbak kan wartawan.”

Ardi mengangguk. Hari-hari berikutnya, Ardi selalu terlihat menunduk dengan buku di pangkuan. Matanya lebih sering bergerak mengikuti kata daripada menatap kosong seperti sebelumnya.

oOo

Dipo, Tanto, dan Yusron diskors tidak boleh sekolah selama 3 hari. Begitu juga Marwan, Mardi, dan Izal. Tapi perpustakaan sekolah menjadi pelarian baru untuk Ardi. Ruangan itu berbau kertas tua dan kayu lemari yang lembap. Cahaya matahari masuk dari jendela besar, jatuh ke meja yang biasa ia pilih.

Ia membaca apa saja: cerpen, dongeng, dan puisi. Setiap halaman membantu menutup satu lukanya yang belum sembuh.

Suatu siang, Rita datang membawa dua buku. “Kamu sudah baca yang ini, Di?” tanyanya sambil menunjuk novel tipis bersampul biru.

“Belum. Bagus?” tanya Ardi.

“Menurutku, iya. Kamu pasti suka.” Rita tersenyum kecil lalu duduk di seberangnya.

Mereka membaca dalam diam. Sesekali Rita menahan tawa pelan atau menanyakan makna kata dalam puisi yang ditulis Ardi. Ah, Ardi tidak ingin berpikir lebih jauh lagi. Dia yakin, Rita menemaninya karena merasa kasihan. Tapi tapi setiap percakapan kecil membuat hati Ardi lebih hangat.

Di rumah kontrakan, Ardi mulai menulis di buku tulis baru pemberian ibunya. Puisi pendek tentang kerinduannya kepada ayah yang dibencinya. Juga tentang Rita. Ibunya sering berdiri di pintu kamar, menatapnya dengan sedih.

oOo

Suatu pagi, Bu Irna – guru Bahasa Indonesia, mengumumkan lomba menulis cerpen dari Kantor Bahasa.

“Hadiah utamanya lumayan. Yang ikut Rita dan Ardi, ya. Ibu tunggu naskah kalian,” kata Bu Irna sambil menunjuk mereka berdua.

Rita menoleh ke Ardi. “Kamu ikut, kan?”

“Ah, mana bisa aku.”

“Ayo, Di. Ini kesemptan untuk kamu.”

“Kalau kamu kan udah pernah menang tahun kemarin. Juara pertama lagi. Mana bisa aku ngalahin kamu.”

“Ini bukan soal menang-kalah. Tapi keteguhan hati menerima kenyataan. Aku siap bantu kamu.”

Ardi menatapnya, “Sungguh?”

“Iya. Kamu tulis dulu draft pertama. Nanti aku baca. Kalau perlu direvisi, kamu revisi.”

Ardi mengangguk.

“Kita coba, ya.”

Malam-malam berikutnya diisi Ardi dengan menulis. Ia mengingat suara rem motor, bau aspal malam tempat ia jatuh, tangis ibunya, dan kehangatan perpustakaan yang menyelamatkannya. Semua ia tata menjadi cerita.

Rita juga menulis. Mereka sering bertukar catatan di perpustakaan. Bahasa mata mereka tidak perlu dijelaskan lagi, karena sudah membuat hati mereka bergetar.

“Kalimat kamu yang ini bagus,” kata Rita sambil menunjuk satu bagian. Dia membacanya,”Tidak lagi penting kakiku satu atau dua. Yang lebih penting adalah mengisi hidup ini dengan penuh semangat karena mau menerima kenyataan.“

“Kamu yang mengajariku.”

“Kayak kamu beneran ada di dalamnya.”

Ardi menunduk malu.

“Cuma revisi sekali. Sudah mantap.”

“Terima kasih.”

oOo

Seminggu setelah pengumpulan, hasil lomba ditempel di papan pengumuman.

Sekolah ramai. Ardi berjalan pelan dengan kruk. Dadanya berdebar.

Nama Rita seperti biasa di urutan pertama.

Namamya di urutan ketiga.

Rita menepuk lengannya. “Kamu berhasil, Di!”

Beberapa murid yang dulu sering menertawakannya kini menghampiri. “Selamat, Di. Juara ketiga itu keren.”

“Tahun depan, aku pasti yang ketiga,” Rita tersenyum.

“Eh, guru nggak boleh dilawan!” ledek Dipo.

Ardi mengangguk. Ada rasa hangat yang mengalir di dadanya. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, ia merasa diterima lagi.

Dengan hadiah lomba, Ardi bisa membeli kaki palsu yang lebih baik. Saat mencobanya, ia melihat pantulannya di kaca. Senyum kecil muncul.

Hidupnya memang berubah. Orang tuanya tetap bercerai. Tapi ia menemukan jalan baru, dan itu cukup membuatnya berdiri lebih kuat dari sebelumnya bersama Rita yang mau menerima apa adanya.

oOo

*) Subang, 13 November 2025

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Redaksi menyediakan honor Rp. 100 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu. Jika ingin melihat cerpen-cerpen yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

2 Komentar

  1. Cerita yang mengharu biru. Konflik berjungkir-balik di kehidupan Ardi. Kehidupan remaja gen-z masa kini dengan tantangan hidup yang harus dihadapi. Perubahan yang dialamipun sangat alami dituturkan. yah mungkin finalnya kurang menyenangkan karena ortu ardi bercerai namun pada faktanya kan memang idealnya tidak selalu terjadi. menyedihkan membaca kisah ini. Untungnya Ardi sudah menyiapkan mental dengan literasi. Yah, membaca itu sehat. menyehatkan mental dan memberikan positive vibes.

  2. Ada Ayah Atau Mamah Om? Waktu dulu ketika Om juga mengalami itu, Om juga bangkit dan dibesarkan kembali hati dan pikirannya oleh buku kan? Saya ingat ayah Om yang sering membelikan banyak buku. Soal tangan, katanya besok bisa tumbuh lagi seperti ku yang selesai dipotong, besok juga tumbuh lagi.

    Pertanyaan saya, kertas penuh luka, tetap fokus pada lembaran uang, maksud dua kalimat ini apa Om?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==