Seorang Ibu melahirkan perempuan yang kelak nanti jadi Ibu dengan melahirkan cucu-cucunya. Juga melahirkan seorang anak laki-laki yang nanti akan menjadi ayah dari cucu-cucunya.
Tentu seorang Ibu akan melepaskan anak perempuan dan laki-lakinya. Metreka adalah milik kehidupan. Mereka akan memilih jalan hidupnya.
Rumah yang tadinya penuh tawa-canda anak-anak suatu saat akan sepi. Suaminyalah yang akan menemaninya di hari tua.
Ibu akan duduk di teras, di akhir pekan, di setiap perayaan agama, menunggu dan menyambut kedatangan anak-anak dan cucu-cucunya.
Begitulah rindu seorang Ibu.
Tias Tatanka
oOo
Anak Perempuan yang Akan Jadi Ibu
Puisi oleh Tias Tatanka
Ia tumbuh dalam pelukan hangat Ibu
Belajar menata hari tanpa ragu
Menyimpan mimpi kecil di balik senyum malu
Sambil menunggu waktu yang akan maju
Kelak ia akan memeluk dunia kecilnya
Menyebutnya anak sambil menahan haru
Meniru lembut suara Ibu yang dulu
Menggenggam cinta dengan langkah baru
Ia akan tahu arti sabar yang sebenarnya
Saat malam terasa panjang membeku
Namun hatinya kuat seperti Ibu
Karena ia lahir untuk menjadi ibu berikutnya
*) Serang 2025
oOo
Anak Laki-laki yang Akan Jadi Ayah
Puisi oleh Tias Tatanka
Ia berlari di halaman mengejar cahaya
Mengukir jejak kecil di tanah basah
Tak sadar waktu menuntunnya perlahan
Pada peran baru yang akan ia sandang
Kelak ia akan mengangkat seorang bayi
Dengan tangan yang dulu gemetar bermain layangan
Kini ia belajar menjadi tempat pulang
Menopang hidup yang datang tanpa bayang
Ia akan menemukan keberanian dalam sunyi
Saat tangis kecil memanggilnya setiap malam
Lalu ia tersenyum, merasa cukup
Karena ia telah menjadi seorang Ayah di masa depan
*) 2025
oOo
Kedua Anak Memberinya Cucu
Puisi oleh Tias Tatanka
Rumah itu kembali ramai
Dengan suara kecil memanggil Nenek
Membawa masa lalu kembali hidup
Dalam bentuk tawa yang baru tumbuh
Anak perempuannya datang dengan cerita
Anak lelakinya membawa kisah lain
Dua jalan yang dulu dilepas
Kini kembali dengan hadiah yang manis
Cucu-cucu itu berlari seperti angin
Merebut tempat di hati yang sama
Seolah waktu berputar ulang
Menghadirkan kembali arti rumah
*) 2025
oOo

Semuanya Pergi, Rumah Sepi
Puisi oleh Tias Tatanka
Tawa yang dulu memenuhi ruang
Kini hanya tinggal gema samar
Pintu tetap terbuka seperti dulu
Meski langkah-langkah kecil tak lagi lewat
Hari-hari berubah pelan
Waktu merayap tanpa tergesa
Foto-foto di dinding tersenyum sendiri
Menemani lengang yang tak mudah hilang
Di malam yang panjang dan tenang
Ibu mengingat masa yang lewat begitu cepat
Rumah terasa terlalu luas dan sepi
Saat semua kembali ke rumah yang lain
*) 2025
oOo
Ayah-Ibu Duduk di Teras Menunggu
Puisi oleh Tias Tatanka
Di teras, dua orang tua duduk berdampingan
Menghangatkan sore dengan cerita lama
Angin membawa wangi kenangan
Yang jatuh pelan di hati mereka
Mereka menunggu akhir pekan
Atau hari raya dengan meja penuh
Membayangkan pintu terbuka
Dan suara riuh kembali memenuhi rumah
Saat mobil berhenti di depan pagar
Hati mereka kembali muda
Karena cinta yang pernah mereka besarkan
Datang pulang membawa generasi baru
*) 2025
oOo


TENTANG PENULIS: Tias Tatanka sarjana teknik mesin yang hijrah ke sastra. Setiap sore aktif bersama anak-anak di teras Rumah Dunia; mengajari banyak hal selain baca-tulis. Buku cerita bergambarnya banyak terbit. Mentor cerita anak berjenjang bersama Kantor Bahasa Banten. Novel terbarunya “Negeri Permen” (MCM Bandung).

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:



