Puisi Minggu: Matematika Rindu Karya Apriansyah Sang Puisi

Barangkali, cinta adalah perhitungan yang tak kunjung usai, semacam bilangan pecahan yang
tak bisa lagi disederhanakan, ia hidup dari sisa koma yang berulang. Di antara jumlah dan
kurang, kita belajar: bahwa rindu adalah persamaan yang tak pernah seimbang. Atau barangkali
kita hanya dua variabel yang saling menunggu tanda sama dengan, sementara waktu menulis
ulang rumus-rumus nasib dengan huruf-huruf ganjil. Dan kita seperti seseorang yang gagal
menebak apa makna X di hati masing-masing. Dari sanalah puisi ini lahir; di antara tepi
penggaris yang mengukur rindu, atau jari- jari yang mencoba menghitung tapi tak menemukan
hasil. Dan cinta mungkin adalah matematika yang paling mustahi, Ia tak pernah benar, tapi
selalu terasa tepat.

Apriansyah Sang Puisi

Apriansyah Sang Puisi
Teorema Himpunan

Di ruang tamu, tikar pandan sudah dingin.
Aku merasa hanya anggota pinggiran
dari sebuah himpunan besar
yang menutup pintunya rapat.
Kau berada di sebuah subset
yang terjaga dengan lampu pesta,
suara musik dan baju baru,
sedangkan Aku hanyalah komplemen dari dunia itu,
tak pernah disebut atau dianggap sebuah bagian.

Setiap langkahku berhenti di surau,
menunggu azan
sementara kau sudah jauh di pasar,
membawa sisa senyum
yang tak pernah sempat menjadi irisan.

pada papan pengumuman dusun,
nama kita dipisahkan baris kapur:
kau masuk daftar penerima bantuan,
aku tertinggal di kolom lain
yang nyaris menyerupai himpunan kosong.

Kadang aku membayangkan sebuah gabungan,
sekadar pertemuan di jalan tanah
yang becek setelah hujan.
Tapi kenyataan selalu mempartisi kita
ke dalam ruang berbeda:
kau di pusat keramaian,
aku di sudut gelap
dengan kardinalitas tunggal.

Aku tahu, kita tidak pernah menjadi fungsi
yang terdefinisi dengan baik.
aku domain yang tak lengkap,
kau kodomain yang tak bisa kucapai.
relasi di antara kita
sekadar garis yang tak pernah dipetakan.

Malam makin tua.
Anak-anak masih menyalakan petasan basah,
Sementara angin menulis satu kalimat lagi:
cinta ini tak pernah menemukan irisan.
Dan aku mengerti akhirnya,
ada himpunan yang diciptakan untuk selamanya asing.

Pagar Alam, 2025

oOo

Apriansyah Sang Puisi
Algoritma Rasa

aku membaca rindu seperti membaca statistik:
semakin banyak kemungkinan, semakin kecil peluang pulang.
mungkin cinta hanya algoritma sederhana,
tapi siapa yang mau memecahnya jadi angka-angka
kalau setiap hasilnya selalu menunjuk ke arahmu.

aku menulis namamu dalam variabel yang tak konstan,
menyisipkan setiap kenangan dalam tanda kurung,
agar tidak dibaca sembarang orang,
seperti bilangan prima —
hanya bisa dibagi oleh dirinya sendiri dan kesunyian.

dalam grafik waktu,
aku mendapati diriku naik-turun,
menjadi garis patah yang terus melingkar
pada koordinat kenangan.
kau adalah sumbu X yang selalu diam,
aku sumbu Y yang terus mencari tinggi paling benar
untuk menjelaskan kehilangan.
mungkin,
itulah cara semesta menciptakan jarak:
dengan menambahkan satuan-satuan sepi
ke dalam tiap persamaan hati.

kadang aku ingin menghitung ulang hari,
membagi dua detik menjadi sepersekian harapan,
agar pertemuan kita tak sekadar anomali,
tapi teorema yang terbukti,
bisa dirumuskan dan diulang siapa saja
tanpa perlu kehilangan siapa pun.
namun hidup bukan eksperimen,
dan rindu bukan data yang bisa divalidasi.
ia tumbuh seperti error yang disengaja:
mengacaukan hitungan,
menghapus batas,
menyisakan layar kosong
tempat aku kembali menuliskan namamu—
tanpa tanda kurung, rumus, atau penjelasan.
karena pada akhirnya,
semua teori berakhir di dada,
dan cinta,
tetap menjadi variabel yang tak terdefinisi,
tapi selalu konstan
di setiap denyut nadi.

Pagar Alam, 2025

oOo

Apriansyah Sang Puisi
Logika Rindu

di antara kertas kerja dan lampu meja,
aku mencatat kemungkinan lain dari kehilangan:
bahwa rindu tidak datang dari jarak,
melainkan dari ruang kosong
yang tidak sempat diisi oleh ucapan selamat tinggal.

aku menemukan satu rumus pada sebuah kitab kejadian
jika waktu terus berjalan,
mengapa bayanganmu tidak ikut memudar?
aku menggambar garis lurus di tengah halaman,
berharap itu jalan pulangmu—
tapi garis itu justru berbelok,
menjadi peta yang menyesatkan
ke dalam dada sendiri.

di catatan kaki, kutulis pengakuan paling jujur:
setiap kali aku merindukanmu,
ada sesuatu yang jatuh dari langit,
bisa bintang, bisa harapan, bisa aku sendiri.
aku mencoba menulis ulang sejarah,
mengganti semua kata berpisah dengan sementara,
agar dunia tidak terlalu cepat percaya
bahwa tak ada lagi kata “kita”.

tapi tinta enggan di ajak kompromi,
ia membentuk namamu lagi,
di baris paling akhir,
sebagai tanda tanya yang tak punya jawaban.
aku menutup buku,
namun halamannya masih berdetak.
barangkali begini cara rindu bekerja:
ia tidak hidup di waktu yang sama dengan logika,
ia hanya menunggu satu ketukan jantung,
satu kalimat tak sengaja,
untuk kembali membuka luka yang baru saja sembuh.

di ruang sunyi,
aku mendengar bisikan samar dari udara:
“segala yang jauh, sebenarnya ingin dekat,
tapi malu disebut pulang.”
aku menatap jendela—

dan di sana, cahaya menulis ulang semua perhitungan,
mengubah statistik menjadi sajak,
menghapus angka-angka,
menyisakan hanya satu kata yang terus berdenyut:
kau.

Pagar Alam, Oktober 2025

oOo

Apriansyah Sang Puisi
Rumus-Rumus Bangun Datar

1// segitiga
aku mempelajari rasa lewat sudut-sudut yang tak sama besar.
kadang aku di puncak, kau di alas—
dan jarak di antara kita selalu jadi tinggi
yang tak bisa diukur dengan mistar apa pun.
aku belajar,
bahwa kesetiaan adalah garis berat,
yang tetap menghubungkan pusat hati meski sisi-sisinya miring.

2// persegi panjang
dalam hidup,
kita sering berbaring seperti sisi-sisi yang sejajar,
tak pernah bersinggungan tapi saling membingkai ruang.
kau di tepian barat, aku di timur—
menunggu matahari menggambar bayangan
di tengah-tengah kita yang hampa.

3// lingkaran
kau tahu,
cinta kadang tak punya titik awal
juga tak mengenal akhir.
kita berputar dalam kebiasaan,
mengejar ekor bayangan sendiri,
sampai lupa, siapa pusatnya,
siapa yang diam, siapa yang akhirnya kelelahan.

4// trapesium
aku menemukan bentuk kita di papan hitung:
dua sisi sejajar, dua sisi menurun.
barangkali begitulah hubungan ini,
satu bagian ingin stabil,
bagian lain pelan-pelan mencari alasan untuk miring.

5// layang-layang
kau tarik aku ke atas,
aku menahanmu agar tidak terhempas angin.
kita terikat benang halus bernama pengertian.
jika satu di antara kita putus,
maka seluruh langit ikut kehilangan keseimbangan.

6// belah ketupat
rasa ini simetris:
semua sisi tampak sama,
padahal yang menahan tegaknya hanyalah satu perpotongan —
antara rindu dan pasrah.

7// setengah lingkaran
aku selalu merasa menjadi bagian yang tak utuh,
menunggu kau kembali melengkapi diameter yang hilang.
tapi waktu, seperti kompas yang rusak,
selalu mengarahkan jarum ke arah kehilangan.

Pagar Alam, Oktober 2025

oOo

Apriansyah Sang Puisi
Kalimat Terbuka

aku menulismu dalam bentuk kalimat terbuka—
tidak untuk diselesaikan,
tapi untuk dibiarkan hidup di antara tanda tanya.
karena di setiap variabel yang belum diketahui,
selalu ada ruang bagi kemungkinan bernama kita.

kau datang seperti tanda sama dengan,
menyatukan dua sisi yang tadinya tak setara.
aku di kiri, kau di kanan,
dan di antara kita,
ada keseimbangan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika,
hanya bisa dirasakan seperti hasil akhir
dari perhitungan yang dilakukan dengan hati.

kadang aku berpikir,
bahwa setiap pertemuan adalah bentuk persamaan linear:
dua garis yang akhirnya bertemu di satu titik temu.
tapi cinta kita—
lebih mirip parabola yang melengkung ke arah cahaya,
menampung hujan,
dan menumbuhkan bunga dalam setiap kurvanya.

aku menyimpan suaramu di dalam integral,
agar setiap bagiannya bisa kualami perlahan,
tanpa kehilangan makna utuhnya.
setiap jeda adalah simbol ∫,
tempat aku menambahkan rindu
ke dalam luas perasaan yang terus bertambah.

kau tertawa, dan aku langsung mengingat rumus limit:
bahwa semakin kita mendekati,
semakin samar jarak di antara kita.
mungkin begitulah cinta—
tidak pernah mencapai tak hingga,
tapi selalu menuju ke sana,
tanpa henti.
di malam yang sunyi,
aku menulis kalimat logika proposisi:
“jika engkau bahagia, maka aku pun tenang.”
dan setiap kali kebenarannya diuji,
hasilnya selalu sama—
benar, selalu benar.

dalam set teori,
kau adalah himpunan semesta dari semua yang kupahami.
aku hanyalah himpunan bagian
yang terus mencari irisan dengan hatimu.
dan jika pertemuan itu tak kosong,
maka seluruh hidupku sudah cukup terbukti.

kadang aku ingin menjelaskan cinta
dengan teorema Pythagoras,
tapi ternyata sisi miringnya selalu berisi keajaiban:
di mana jarak antara dua hati
selalu lebih pendek dari yang tampak oleh mata.

dan akhirnya aku sadar,
bahwa kita bukan soal yang harus dikerjakan,
melainkan pembuktian yang tak perlu diakhiri.
karena setiap kali aku mencoba menutup persamaan,
ada tanda tambah yang tumbuh di akhir kalimat—
tanda bahwa cinta,
selalu ingin berlanjut.

Pagar Alam, Oktober 2025

oOo

TENTANG PENULIS: APRIANSYAH SANG PUISI nama pena dari Apriansyah,S.Pd lahir dan tinggal
di Kota Pagaralam Sumatera Selatnn, baginya menulis puisi adalah sebentuk perjalanan mencari makna; bagaimana angka bisa menjelma hujan, bagaimana garis lurus berubah menjadi jalan pulang, dan bagaimana hidup senantiasa layak dirumuskan ulang dengan bahasa.

PUISI MINGGU : Mulai Januari 2026, honor Puisi Minggu Rp 150.000,- Terbit setiap dua Minggu. Sebulan 2 kali. Silakan mengirimkan 5 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 150.000,- Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==