Dalam lanskap peradaban manusia, kekalahan mewujud tema yang selalu melintasi
ruang bahasa, budaya, dan zaman. Terlebih dalam kehidupan kiwari, kekalahan semakin
akrab di zaman yang penuh arena pacuan persaingan. Seakan-akan kekalahan jumlahnya
lebih menjamak dibanding kemenangan. Kekalahan ini dapat ditemukan dalam lingkup
personal; misalnya alienasi dalam surplus informasi, inkompetitifnya portofolio dalam
pertarungan meja kerja, dan hancurnya cita-cita di hadapan realitas sosial. Kekalahan juga
tidak sulit ditemukan dalam ranah sosial; misalnya kesenjangan sosial, ketimpangan
pendidikan, krisis budaya, dan masih banyak lagi.
Kekalahan biasanya diimplikasikan dalam bentuk tersingkir, disingkirkan, serta
kehilangan kesempatan. Mendapati peristiwa perihal tidak utuhnya kisah manusia memang
cukup memakan ruang di hati. Melalui gambaran ini, kita dapat mengutip puisi Chairil
Anwar bahwa, “Hidup hanya menunda kekalahan”. Oleh karena itu, manusia mesti
berstrategi agar kekalahannya tidak terulang. Kendatipun kemenangan juga belum pasti
dijanjikan takdir.
Kekalahan bisa dijadikan momentum untuk berefleksi, mengatur strategi, dan
mengumpulkan perbekalan. Dalam fase kemenangan yang tidak pernah langgeng, manusia
harus menyiasati kekalahan agar dirinya tidak habis. Hidup adalah usaha agar kita tidak
habis. Sebelum waktu kita habis, sebaiknya kita tidak benar-benar habis.
Erhan Al Farizi


oOOo
Puisi Erhan Al Farizi
Jadilah Ia Karakter Utama, Jadilah
kepada skenario ganjil. ia daftar audisi
untuk takdir peran yang lebih dari satu
di purnama ke empat. ditiupkanlah ruh
teruntuk sekepal daging bersama kisah
kisah tentang kekasih, nafkah, dan ajal.
telah disiapkan sebaik-baik laku lakon
juga babak dari Yang Maha Sutradara.
syahdan, kamera berputar dalam poros
takdir. ia jejaki adegan tanpa lembaran
petunjuk. telah hitam naskah hidupnya
disembunyikan waktu. ia lantas sangsi
lewat jamaknya persimpangan tentang
bagaimana kiat sukses bertahan hidup.
dan sekali lagi, di sini tiada arahan cut!
tiada arahan sejenak untuk beristirahat!
sebab konon, masa lalu hanyalah jalan
paling jauh. sedang yang dekat dengan
ia hanya: kematian. hanyalah kematian.
“bagaimana rasanya bermain peran,
lalu ditinggalkan oleh Sutradara?”
ia bersaksi Sutradara memihak kepada
percaya. bahwa ia ditakdir merancang
kematian agung, pada waktunya nanti.
Karanganyar, 2024—2025
oOOo
Puisi Erhan Al Farizi
Dramaturgi Nasib Jemari
Di usia timang-timang ia terampil mengepal
tangannya dilayarkan ke hari depan sembari
mengimani bahwa mimpi tidak selalu mimpi.
Di usia buaian bunda ia cakap melambaikan
tangan merabai bayangan lantas memperkira
sejarah waktu yang muskil berlabuh dua kali.
Hari ini, jemarinya akrab berpasrah menyeka
keluh dan peluh sebagai pengganjal lambung
terhadap usia penantian yang terasa panjang.
Jari-jarinya mengapal dibentuk batas wilayah
di tempat ia menjangkarkan mimpi berjanjilah
ia enggan pulang hanya berbuah tangan cerita.
Karanganyar, Januari 2025
oOOo
Puisi Erhan Al Farizi
Sayangnya, Hidup Bukan Pilihan Ganda
Di belukar dua puluh, ia buta peta menerka
antara menghitung kancing atas atau bawah
antara persimpangan jalan kiri atau kanan.
Usia membekali buah rasa sesal di jantungnya
dulu ia belajar berpuluh pilihan ganda a,b,c,d
dan hanya menghabisi setapak soal uraian.
Sayangnya,
hidup tidak hanya serentetan pilihan ganda
hidup adalah soal uraian yang menuntut diisi
andai saja ia tak terlambat belajar, andai saja.
Karanganyar, Januari 2025
oOOo

Puisi Erhan Al Farizi
Panji-Panji Bendera Putih
baiklah, akan ia lapangkan kutukan ini
bersama bebat putih dan hati putih.
sayatan yang dalam, darah yang terbuka
hingga ia butuh sejumlah jahitan dan erangan
agar luka-dukanya lekas membeku.
manusia harus pandai mencapai batas
manusia harus pandai mengenal batas.
setelah ini, ia akan bertapa sepanjang minggu
berguru pada pengalaman yang konon tabib terbaik.
senja itu, kumandang perang membisu menjarak
sedepa darinya bendera putih berderik-derik.
selain merah, hanya ada barisan putih di palagan itu.
mungkin biru menyusul, lalu mungkin kelabu,
mungkin hitam selepas itu.
karena putih adalah ibu segala warna.
warna putih adalah genderang peringatan
bahwa ia harus segera melukis kisah baru.
Karanganyar, Januari 2025
oOOo
Puisi Erhan Al Farizi
Ad Maiora Natus Sum
akhirnya ia pulang berbekal sekujur memar
di lututnya. gemetar ia membereskan lembar
dan lembur. untuk menyiasati cinta-cintanya
yang makin senja. dikekalkannya lewat kiriman
bulanan dan doa-doa baik. bahwa ibu merindu
melebihi luas ibu kota beserta terik raja siang.
namanya berbentuk doa. dialamatkan bapak
pada pekan pertama. ia dibesarkan demi barang
yang lebih dari sekadar dapur, kerbau, atau sawah.
bukan ia mengutuk kampung halaman. bukankah
di desa, masa depan lebih jauh dari masa lalu?
bahasa itu diterjemahkan tubuh. sebab itu,
ia akan lebih besar melewati batas namanya.
Karanganyar, Januari 2025
oOOo

Puisi Erhan Al Farizi
Episode tentang Tiwikrama
ia terbujur, ia terpejam, ia separuh sadar
terbentang jalanan sebelum gelanggang:
tanah lahir warna sepia serupa cita-cita
juga surat orang rumah berisi janji-janji
sampailah ia pada adegan desing angin
dinding tipis antara jasad dengan bumi
terkait beratnya alasan hidup atau mati
lalu sejumlah jarinya bergetar samar
tubuhnya menolak kalah
nyawanya menolak berpisah
punggung ksatrianya kupu-kupu, meraksasa
menagih taruhan besar kepada hukum semesta:
bukankah hasil dan usaha akan selalu bersetia?
Karanganyar, Januari 2025
oOOo
Puisi Erhan Al Farizi
Membaca Lagi Musuh dalam Tubuhmu
Jika kau mengenal musuh dan mengenal diri sendiri,
kau tidak perlu takut pada seratus pertempuran.
— Sun Tzu
terbitlah seribu musuh dari bangun tidurnya
juga sebayang musuh sukar ditafsirkan mata
ialah sang musuh bangkit dari kubur hatimu
tentang tak sepakat ikrar mundur atau maju
sungguh, mengapa tubuhmu membelah diri?
lain hari kemarin, musuh itu tinggal di cermin
ia lantas menguji bacaanmu terhadap tubuhmu
tak pernah kau membaca tubuh kebut semalam
telah kau khatamkan riwayat kecil dalam kepala
lalu kau memetakan gerak hati
lalu kau membenahi detak jantung
doa beserta rapalan tangan sudah bekerja
tubuhmu menunggu giliran panggungnya
Karanganyar, Februari 2025
oOOo

Tentang Penulis: Erhan Al Farizi lahir pada tahun 2001 di Karanganyar. Beberapa tulisannya tayang di beberapa media daring. Buku perdananya adalah kumpulan puisi yang berjudul Bagaimana Mengubah Rasa Sakit Menjadi Sense of Art: Sebuah T̶u̶t̶o̶r̶i̶a̶l (2023). Saat ini, ia sedang menempuh Pendidikan Profesi Guru di UMS. Erhan bisa dihubungi di Instagram: @erhan.alf; dan email:erhan.alf@gmail.com.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com . Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya.


