Kukorek-korek isi lemari pakaianku, celana yang menggantung di belakang pintu,, tempat-tenpat lain yang biasanya kusimpan uang koin atau kembalian. Aku hanya menemukan lima ribu rupiah saja. Aku perlu uang. Aku manusia normal, sama seperti manusia lainnya yang membutuhkan benda ini untuk hidupku sehari-hari. Apalagi saat gaji belum turun, kebutuhan tetap harus dipenuhi. Ditambah, motor bebekku yang sedang menginap di bengkel kecil dekat kontrakanku.
Aku periksa ATM bank plat merah yang umum ditemui di pelosok, tersisa empat ribu rupiah. Cih. Ditarik pun tak bisa. Pekerjaan guru honorer membuatku kembang kempis di saat-saat seperti ini. Pikiranku buntu.
Salah satu hape sudah kugadai beberapa hari ke belakang. Hape buatan Cina yang hanya dapat seratus ribu rupiah saja. Itu pun sudah habis, digunakan istriku untuk memenuhi kebutuhan harian dan membayar sebagian kecil utang pada warung dan tetangga.
Berat rasanya meminta istriku untuk berutang lagi pada tetangga. Beberapa kali kucoba mengontak teman-temanku menggunakan hape jadulku satu lagi, yang hanya bisa sms dan telepon. Pinjam uang. Beberapa menjawab, lainnya tidak.
Ah, yang membalas sms ku pun, jawabannya sama saja. Tidak bisa meminjamkan uangnya karena akhir bulan dan sudah untuk keperluan dan kebutuhan lainnya.
Ahhhhh….
Berbaring, kutatap atap. Pikiranku ke mana-mana. Mengontak orang tuaku? Saudara-saudaraku? Terlalu sering aku merepotkan mereka dengan meminjam uang dan kerepotan lainnya. Tak enak hati kalau sampai merepotkan lagi seperti ini.

Aku bangun lalu menuju bengkel Bang Ramses dengan gontai.
“Loyo kali kau, Dan. Macam ayam sayur kutengok.”
“Sumurku kering, Bang. Tak usahlah kau lanjutkan perbaiki motorku itu,” ujarku.
Dia masih berkutat dengan motor sialanku siang itu.
“Bah! Bicara apa kau. Macam siapa saja kau denganku.”
“Tapi Bang….”
“Kau bayar saja nanti kalau ada hepengmu. Tak enak kerja tanggung begini. Masa tengah-tengah aku berhenti.”
Sudah kesekian kalinya Bang Ramses membantuku.
“Mikir apa kau? Bengong pula depan bengkel. Masuklah, hitam nanti kepanasan di luar.”
“Kampret kau, Bang. Sudah hitam aku dari dulu.”
Kududuk dekat etalase kecil di dalam bengkel. Kuhela nafasku sejenak.
“Tak enak aku dengan Abang. Sudah sering kurepotkan Abang. Ini, sudah berapa kali Abang betulkan motorku tanpa kubayar.”
“Ah, kau. Sudah kukatakan sejak awal, tak usah sungkan minta bantuan jika perlu,” sejenak dia berhenti mengotak-atik motorku, “Kau satu-satunya orang yang kutahu mau mengajar di sini, Dan. Sudah lama sekolah itu tak ada guru yang membantu. Hanya Pak Imron saja kepala sekolah sekaligus guru dan pengurus sekolah.”
“Sudah sering kudengar itu dari orang sekitar, Bang.”
Bang Ramses sejenak menarik napas, mengelap tangannya lalu duduk dekatku. “Pak Imron sudah tidak muda lagi, Dan. Kau lihat sendirilah bagaimana payahnya dia berjalan sekarang. Aku prihatin dengan nasib anak-anak di kampung ini ke depannya. Kau tahulah bagaimana di sini.”
Aku mengangguk, mengerti arah pembicaraannya.
“Mau kopi kau?”
“Maulah, Bang,” balasku.
“Buatlah sendiri di dapur. Macam orang asing aja kau di sini.”
“Eh ya, Bang. Kau lihat istriku?”
“Mba Nia tampaknya sedang bersama Dek Sinta belanja keperluan warung.”
“Dak, Dek, Dak, Dek, macam pengantin baru saja, Bang,” ujarku tersenyum.
“Biar tetap membara api cinta kami, Dan. Hahahhaha” balas Bang Ramses dengan tawa kerasnya.
Kak Sinta membuka warung kecil-kecilan tak terlalu jauh dari bengkel Ramses – suaminya. Nia istriku sering membantunya, sekedar menemani berbelanja atau menemani di warung saat senggang. Terkadang Kak Sinta membawakan sedikit makanan saat Nia kembali ke rumah.
Kutuju dapur di belakang bengkel kecil itu. Kuseduh kopi sachet yang ada di situ.
“Bang mau juga? Biar kubuatkan sekalian,” setengah berteriak kutanya dia.
“Nah, bolehlah Dan.”
Saat sampai di depan, istri kami pun terlihat baru sampai.
“Lho, Mas, kenapa lagi motornya?” tanya istriku.
“Mas gak tau, Dek. Tadi tiba-tiba mati.”
“Ah, biasalah nih, Mbak, penyakit motor tua,” timpal Bang Ramses tersenyum.
“Duh, jadi gak enak dengan Abang, kami jadi sering ngerepotin,” ujar istriku.
“Sudah, tak apalah Dek. Suamiku ini juga tak keberatan perbaiki motor Masmu ini,” balas Kak Sinta.
Kami hanya bisa tersenyum mendengar mereka, pasangan yang selalu membantu sejak kami tiba di sini.
***
“Mas, uang yang kemarin sudah habis untuk bayar utang dan beli beras, telor,” istriku memelukku saat kami mau tidur.
“Iya, gak apa-apa. Mas tahu, Mas hanya kadang bingung dengan kondisi kita. Gali lubang tutup lubang. Mas kadang mikir, kasihan kamu.”
“Gak apa-apa Mas, Adek tahu, Adek ngerti. Tadi juga waktu bantu belanja Kak Sinta, aku sempat bilang, maaf suka ngerepotin mereka. Kak Sinta hanya jawab, gak apa-apa, kita tetangga, harus saling bantu. Apalagi sesama perantau. Terkadang Adek juga bingung bagaimana kita mengganti uang mereka nanti.”
“Mas kepikiran buat ngojek Dek. Lumayan nambah-nambah buat dapur. Atau setidaknya, bayar utang kita supaya cepat lunas. Gak enak juga dengan tetangga, warung, Bang Ramses Kak Sinta. Baru aja niat, eh motor udah mogok lagi.”
“Gak diridhoi kali, Mas, makanya mogok,” istriku tersenyum.
“Halal kok gak diridhoi, Dek, Dek,” aku pun tersenyum mendengar timbal istriku.
“Udah, tidur aja yuk Mas. Besok kan Mas masih mengajar.”
Suara binatang malam menyertai kami lagi dalam istirahat malam ini.
***

“Besok jangan lupa kumpulkan PR matematika kalian. Bapak mau masukkan nilai untuk rapot kalian.”
“Baik, Pak,” sahut murid-muridku serempak.
Saat kelasku kosong, aku duduk di meja guru, memerika beberapa pekerjaan murid yang dikumpulkan tadi. Sesekali aku termenung. Dengan kondisi sekolah seperti ini, bagaimana anak-anak ini nanti? Bagaimana mereka melanjutkan pendidikan mereka?
Sering murid-muridku tidak masuk karena membantu orang tua mereka bekerja. Pernah satu kali, kelasku kosong. Tidak ada murid yang hadir. Saat kutanyakan keesokan harinya, mereka mengatakan bahwa kemarin adalah saat panen dan harus membantu orang tua mereka di ladang.
“Sedang periksa tugas anak-anak, Pak Hamdan?” suara Pak Imron agak mengagetkanku.
“Iya, Pak. Supaya tidak saya bawa ke rumah nanti,” ujarku tersenyum.
“Bagaimana, kerasan mengajar di sini?” pertanyaan Pak Imron yang mendadak begitu, membuatku sedikit terperanjat.
Ada apa sehingga dia bertanya seperti itu?
“Yaah, begitulah, Pak,” anggukku.
“Begitu bagaimana, Pak Hamdan?” beliau terkekeh ketika kujawab.
“Saya mengerti, Pak Hamdan masih muda,” lanjut beliau, “sedangkan kondisi di sini, ya…beginilah Pak. Sudah berapa kali guru yang datang hanya sebentar bertahan. Paling lama, sebelum Pak Hamdan, Pak Rizal, hanya bertahan sampai kontraknya selesai. Setelah itu, tidak dilanjutkan. Hanya Pak Hamdan yang melanjutkan walau kontrak selesai.”
Kutunggu beberapa saat, kulihat Pak Imron memandang jauh ke luar jendela kelas. Aku mengerti, Pak Imron berharap ada yang menggantikan dirinya di saat dia pensiun kelak. Atau jika dia sudah tidak kuat lagi mengajar. Namun beberapa kali dia kecewa, guru yang datang mengajar, tidak ada yang bertahan lama.
“Saya, sering berpikir tentang anak-anak itu, Pak. Bagaimana mereka nanti,” ujarku, “Kelas 4 pun, mereka belum bisa membaca lancar. Di satu sisi saya khawatir. Di sisi lain, saya juga terkadang berpikir tentang bagaimana saya ke depannya. Kami baru menikah, belum ada anak. Nanti bagaimana jika sudah ada anak, dan hal lainnya.”
“Wajar, Pak Hamdan masih muda, pasti memikirkan masa depan keluarga Pak Hamdan juga. Kalau masalah penghasilan, ya saya juga sadar di sini tidaklah sesubur daerah lain. Kalau nanti Pak Hamdan tidak melanjutkan di sini lagi, saya mengerti,” balas Pak Imron tersenyum.
Senyum teduh yang sering kulihat disinggungkan Pak Imron setiap hari. Bukan senyum dibuat-buat atau berpura-pura. Mataku beralih pada lengannya yang mengampit koran.
“Lho, baru datang korannya, Pak?” tanyaku.
“Namanya juga daerah begini Pak. Selalu lambat untuk apapun. Ini baru saya baca, mau dibawa ke kantor. Mari Pak.”
“Ya Pak, silakan.”
Beberapa saat Pak Imron berlalu. Aku kembali disibukkan dengan periksaan tugas murid-muridku. Tengah-tengah memeriksa, terbersit sebuah ide. Bergegas aku ke kantor Pak Imron.
“Permisi Pak, apakah Bapak sedang memakai laptop sekolah?”
“Oh, tidak Pak. Silakan jika Pak Hamdan mau pakai.”
Laptop di sekolah ini tidaklah secanggih yang ada di kantor kecamatan namun cukup untuk keperluan guru sehari-hari di sini.
“Mau apa Pak Hamdan, rapotan setahu saya masih lama.”
“Ah, tidak Pak. Bukan rapot. Hanya terpikir ide untuk mengirim cerpen ke koran.”
“Oh, tapi lama lho Pak pengiriman pos di sini.”
“Tidak apa-apa Pak, saya akan kirim lewat email saja nanti saat ke kecamatan. Ada warnet di dekat kantor camat.”
Pak Imron hanya tersenyum mendengar tuturanku,
Kusiapkan flashdisk, nyalakan komputer, tatap layar monitor. Start, All Programs, Microsoft Office, Microsoft Word.
Berapa kali kucoba membuat awalan cerita. Sial, tidak ada ide untuk memulai cerita yang akan kubuat. Aku merenung beberapa saat, jari-jariku mulai mengetik:
Kukorek-korek isi lemari pakaianku, celana yang menggantung di belakang pintu,, tempat-tenpat lain yang biasanya kusimpan uang koin atau kembalian. Aku hanya menemukan lima ribu rupiah saja. Aku perlu uang. Aku manusia normal, sama seperti manusia lainnya yang membutuhkan benda ini untuk hidupku sehari-hari. Apalagi saat gaji belum turun, kebutuhan tetap harus dipenuhi. Ditambah, motor bebekku yang sedang menginap di bengkel kecil dekat kontrakanku.
Aku periksa ATM bank plat merah yang umum ditemui…
oOo
TENTANG PENULIS: Fajar Supriono kelahiran Bandung, juga menghabiskan sebagian besar hidupnya di Kota Kembang ini. Pernah membantu tim kesehatan luar yang melakukan bakti sosial di pedalaman Pontianak, sebagai penerjemah. Pernah juga menjadi guru bukan pemerintah, sebagai wali kelas yang mengajar beberapa pelajaran, di kelas kecil. Sekarang menghabiskan waktunya sebagai penyunting dan penerjemah di sebuah penerbit di kota kelahirannya.

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Redaksi menyediakan honor Rp. 100 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu. Jika ingin melihat cerpen-cerpen yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:


