Mengenali Sejarah serta Benda-Benda Peninggalan Kesultanan Banten hingga Barang Perdagangan

Oleh: Sahrul Muhammad Azmi – Peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 42

Pada hari Senin, 10 November, saya bersama teman-teman mengikuti tour kelas ke Banten Lama serta mengunjungi Museum Kepurbakalaan Banten bersama satu angkatan. Awal keberangkatan kami dari SMA Almunawaroh Gerem Raya, para siswa per orangnya membayar seratus ribu rupiah. Dengan membayar seratus ribu, kami sudah mendapat makan siang, snack, dan transport. Jarak dari sekolah saya ke Banten yakni 26 kilometer, kami menempuh waktu perjalanan sekitar 41 menit.

Dalam perjalanan kami melewati Jalan Kramatwatu. Mata kami dimanjakan oleh persawahan dan pepohonan yang berjajar di pinggir jalan. Angkot yang kami naiki melewati suatu danau yang bernama Danau Tasikardi, serta melewati sungai irigasi yakni Sungai Cibanten.

Akhirnya, angkot yang kami naiki sampai di Banten Lama dan kami singgah di Museum Kepurbakalaan Banten. Awal masuk, kami disuguhkan suatu meriam peninggalan Kesultanan yang bernama Ki Amuk. Meriam tersebut memiliki panjang 345 centimeter serta besar 31 centimeter, dan juga mempunyai berat 6 ton.

Menurut para ahli, meriam tersebut juga dinamai Meriam Ki Jimat, merupakan suatu meriam yang disebutkan dalam Babad Banten yang ditempatkan dalam bangunan mendepa Keraton Surosowan dengan moncong ke arah utara. Pada punggung meriam juga terdapat tiga tulisan Arab serta memiliki hiasan matahari pada permukaan moncongnya. Terdapat sepuluh gelang pada tubuh meriam; tak hanya hiasan matahari namun juga terdapat motif tumpal dengan bentuk dasar segitiga.

Banyak versi yang menyebutkan bahwa Meriam Ki Amuk adalah pemberian dari Kesultanan Demak atas penghargaan kepada Kesultanan Banten, serta juga pemberian dari Kesultanan Demak atas pernikahan Sultan Maulana Hasanuddin Banten dengan putri Kesultanan Demak.

Ada juga yang menyebutkan Meriam Ki Amuk berasal dari tanah Timur Tengah, Persia, dan Utsmaniyah Turki (Ottoman). Serta juga terdapat batu yang digunakan untuk mengolah logam; batu tersebut dinamakan Watu Tempa yang terletak setelah pintu keluar Museum Banten Lama dan tak jauh dari tempat parkir.

Di sebelah Meriam Ki Amuk juga terdapat sebuah batu yang menjadi bagian dari bangunan Keraton Surosowan. Batu ini disebut dengan nama Batu Karang Berelief. Batu karang ini ditemukan di bekas reruntuhan Keraton Surosowan pada gerbang sebelah utara.

Pecahan batu karang tersebut diidentifikasi memiliki motif-motif relief berbentuk tangan manusia, motif-motif relief berbentuk hewan (berupa sayap serta kaki unggas), serta juga motif-motif tumbuhan (berupa daun dan bunga). Pada masa Kesultanan Banten, batu karang tersebut dijadikan hiasan pada gerbang sebelah utara Keraton Surosowan.

Sebelum masuk museum, saya beserta kawan-kawan berbaris di depan pintu museum mendengarkan arahan dari pemandu museum yakni Ibu Ade. Di Museum Kepurbakalaan Banten Lama, museum ini tidak dikenakan biaya masuk atau gratis serta waktu bukanya dari jam 09.00 hingga 15.30 WIB. Kami pun masuk dengan hati yang senang. Kami langsung duduk di ruangan utama museum serta mendengarkan arahan materi dari Ibu Ade. “Banten berdiri pada tahun 1552 hingga 1813 M,” ujar Ibu Ade selaku pemandu Museum Banten Lama.

Di ruangan pertama saya melihat suatu ornamen penyaring air peninggalan Kesultanan Banten. Penyaring air ini digunakan untuk memfilter air untuk minum atau mandi. Tak hanya itu, pada dinding museum terdapat catatan sejarah tentang Kesultanan Banten.

Yang membuat saya tertarik yakni suatu monitor berbentuk lemari bertuliskan merek SuperNova. Monitor tersebut menampilkan replika Mahkota Sultan Banten. Mahkota tersebut berbentuk seperti peci kupluk putih serta bagian luarnya dilapisi emas.

Tak hanya itu, terdapat juga sebuah bendera yang dinamakan Bendera Panji Debus. Bendera ini digunakan Kesultanan Banten untuk berperang dalam menguasai wilayah atau menghadapi penjajah. Bendera Panji Debus juga dihiasi dengan kaligrafi Arab.

Lalu saya melanjutkan berjalan bersama rombongan. Saya melihat ada beberapa koin peninggalan Dinasti China seperti koin dari Dinasti Ming, Dinasti Song Selatan, Dinasti Song Utara, Dinasti Tang, Dinasti Ming, Dinasti Qing/Ching, serta ada juga koin peninggalan Kesultanan Banten dan juga koin VOC.

Pada masa Kesultanan Banten, Pelabuhan Banten ramai dengan perdagangan serta menjadi pelopor rempah-rempah terbesar dalam perdagangan global. Ada beberapa rempah-rempah yang ditampilkan di museum: Pala, Lada, Ketumbar, Cabai Jawa, dan sebagainya. Dalam perdagangan di Pelabuhan Banten juga sudah ada guci yang berasal dari Jepang serta mangkuk-mangkuk buatan China.

Di dalam museum juga terdapat suatu meriam; tak hanya Meriam Ki Amuk yang berada di luar museum. Meriam ini dinamakan Meriam VOC. Meriam ini lebih kecil dari Meriam Ki Amuk dan juga lebih ringan. Meriam VOC ditemukan di Keraton Surosowan di sebelah barat keraton. Meriam tersebut dibuat oleh Belanda pada abad ke-18–19 M.

Di Museum Kepurbakalaan Banten juga terdapat patung yang terbuat dari batu yang dipahat. Hal tersebut menandakan wilayah Banten belum memeluk Islam, atau masa Hindu–Buddha (pada abad ke-5–16 M), dengan adanya penemuan dua Arca Nandi dan Yoni di kawasan Banten Lama, serta dibuktikan dengan adanya alat-alat yang terbuat dari batu, manik-manik di Odel, batu-batu tumpang, serta punden berundak yang terletak di pedalaman Banten.

Tak hanya batu masa Hindu–Buddha, di Museum Kepurbakalaan Banten Lama juga terdapat unsur bangunan dari Keraton Surosowan. Keraton Surosowan letaknya strategis dan berseberangan dengan Museum Banten Lama.

Unsur bangunan dari Keraton Surosowan ada beberapa yakni paku, kunci, alat pencahayaan (Damar), serta handel atau gagang pintu, serta bata dari bangunan Keraton Surosowan yang dibangun dengan bata, karang, serta pasir kapur. Sehingga ada kalimat yang diucapkan Sultan Maulana Yusuf, anak dari Sultan Maulana Hasanuddin Banten: “Gawe kuta baluwarti, bata kalawan kawis.” Itulah yang diucapkan Sultan Maulana Yusuf ketika merombak ulang Keraton Surosowan.

Di ruangan tengah museum terdapat suatu ruangan bioskop mini yang biasa digunakan untuk menonton Sejarah Banten atau juga digunakan untuk membahas materi. Dalam bioskop mini tersebut disediakan AC sehingga membuat saya menggigil karena kedinginan, dan juga kursinya yang terdapat pada beberapa tangga menuju ruangan kecil untuk mengontrol sound system, serta ruangannya yang kedap suara.
Di depan bioskop mini tersebut ada narasi serta foto para generasi keturunan Kesultanan Banten dari generasi keturunan 1, 2, 3, hingga ke-6.

Pada ruangan terakhir Museum Banten Lama terdapat senjata-senjata peninggalan Kesultanan Banten seperti tombak, kujang, keris, golok, dan sebagainya. Lalu kami beserta rombongan para guru keluar dari Museum Banten Lama lewat pintu yang sudah disediakan, dan tak lupa kami berpamitan dan bersalaman pada Ibu Ade selaku pemandu Museum Banten Lama.

Tentang Penulis

Sahrul Muhammad Azmi lahir di Kota Bandung serta pernah duduk di bangku sekolah di Kabupaten Garut yakni SDN 2 Mekarraya. Kini ia pindah ke Kota Cilegon dan sedang menempuh pendidikan SMA di Kota Cilegon yakni SMA Almunawaroh Gerem Raya.

TRAVELING setip hari Jumat. Nah, kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling diluar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honoarium Rp. 100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==