“Saya Kelas Menulis Rumah Dunia Angkatan…”
“Nulis apa? Prosa? Puisi? Diterbitkn jadi buku?” begitu selalu saya mengingatkan.
Hati-hati dengan disclaimer atau ngaku-ngaku dengan saya. Pernah juga saya bertemu dengan seseorang yang penampilanya seniman banget. Dengan segala permohonan maaf, saya bertanya namanya, karena terlalu banyak wajah dan nama melintas di pikiran saya. Seseorang itu dengan nada tinggi terusik. Kira-kira seperti ini dialognya:

Seseorang itu datang kepada saya. Tentu saya kagum dengan penampilannya yang etnik dan nyeniman.
“Maaf saya ini kurang gaul. Namanya siapa, ya?” tanya saya.
“Wah, Mas Gong tidak tahu siapa saya?”
“Sekali lagi, mohon maaf. Mungkin terlewat. Kira-kira ada buku puisi atau prosa yang sudah ditulis? Diterbitkan? Kalau ada, di mana saya bisa beli? Nanti saya baca…”
Seseorang itu tidak menjawab dan berlalu pergi. Saya hanya bengong.

Saya mau bicara hal kecil saja. Anggap ini sebagai analogi. Saya dan beberapa sahabat seperti Toto ST Radik, Firman Venayaksa, dan relawan Ruah Dunia mengelola Rumah Dunia. Pada 2002, saya membuka Kelas Menulis Rumah Dunia – kemudian kami menyebutnya Kelas Menulis Rumah Dunia Angkatan Pertama. Sekarang per Desember 2024 sudah angkatan ke-40. Nanti Februari 2025, akan dibuka angkatan ke 41.
Saya tekankan ke setiap angkatan di Kelas Menulis Rumah Dunia, kita harus meninggalkan jejak untuk masa depan, yaitu karya puisi, prosa, atau non fiksi (esai atau kisah inspiratif) yang ditulis kemudian dibukukan. Ada beberapa angkatan yang tidak meninggalkan jejak tapi sering disclaimer (padahal pakai bahasa Indonesia saja ya: pernyataan).


Disclaimer atau ngaku-ngaku itu – saya, kamu, kita – tidak ada yang melarang dan boleh saja kita nyinyir atas itu hingga kita sampai kakek-nenek. Bagi saya yang penting, orang yang ngaku-ngaku itu punya buku.
Dan saya kira, seperti halnya HB Jassin (kita seperti menunggu Godot untuk seseorang yang memvalidasi soal angkatan), di masa depan setelah kita sekarang ini berisik soal angkatan dan mati dikubur kemudian dilupakan, akan muncul seseorang yang berilmu dan kemudian memilah-milah siapa kita dan bukti apa yang sudah kita lakukan untuk sastra.
Baca juga Tentang Angkatan Puisi Esai di sini.


Pernahkah berpikir soal jejak satu angkatan? Angkatan Poejangga Lama? Pujangga Baru? Angkatan 45… Kita bising dengan hal itu, tapi jejak apa yang sudah kita atau akan kita tinggalkan? Kalau itu buku antologi puisi/cerpen, apa tema dan amanatnya? Berdampak atau berpengaruh tidak untuk lingkungan? Atau hanya untuk golongannya saja? Atau kita onani, hanya karena ingin mendapatkan pengakuan sebagai sastrawan atau penyair?



Jadi tradisi saya, kalau ada yang ngaku-ngaku sastrawan dan penyair, karena sulit mengingat nama, saya biasanya akan bertanya: boleh tahu, kamu punya buku yang sudah diterbitkan? Bisa beli online? Di perpustakaan pribadi saya ratusan buku antologi puisi/cerpen yang ditulis atas nama komunitas atau pribadi.
Jadi saya tidak akan nyinyir. Tapi bertanya saja: adakah jejak yang sudah dipersiapkan? Selebihnya, waktu yang akan membuktikan.
Gol A Gong – tidak peduli mau masuk di angkatan apa atau tidak.


