Catatan Di Tepi Sungai Donau: Dari Semarak Muslim Diaspora Hingga Keseimbangan Ekologi Yang Tak Sekedar Utopia

Oleh: Wiji Nurasih

Ajakan ke Islamic Zentrum Wien

Hari-hari pertama di Wina, rekan dari Yogyakarta yang lebih dulu menginjakkan kaki di kota musisi klasik Mozart ini mengajak untuk sholat Jumat di Islamic Zentrum Wien, Vienna, Austria. Gamang, itu responsku ketika mendapat ajakan itu. Pertama, sebagai perempuan dari negara mayoritas Muslim, aku sekalipun tak pernah datang ke masjid untuk turut sholat Jumat.

Umumnya, masjid-masjid di Indonesia penuh jamaah sholat Jumat laki-laki, tidak tersisa secuil ruang masjid untuk perempuan. Kedua, ketika itu aku sedang berhalangan sholat. Sekalipun katanya di masjid itu banyak perempuan ikut sholat Jumat, aku akan kikuk seorang diri kalau aku ke sana.

Namun, penasaranku juga tidak bisa dikalahkan. Aku ingin tahu seperti apa suasana Jumatan di negara yang agamanya dominan Kristen-Katolik ini. Pemeluk Islam di Wina rata-rata adalah komunitas diaspora dari berbagai negara seperti Turki, Suriah, Mesir, Afghanistan, dan lain-lain. Ujungnya, ajakan itu tetap kuterima.

Perjalanan Menuju Masjid

Aku membuntuti temanku berjalan. Dari Landesgerichtsstraße depan kampus, kami menumpang Tram 43 hingga Alser Straße, lalu berganti kereta cepat nomor U6 jurusan Floridsdorf. Mataku tak bisa lepas dari pemandangan di luar jendela. Kota yang cantik, rapi, dan dipadati bangunan-bangunan yang sebagian masih mempertahankan gaya arsitektur klasik bercat warna-warna terang.

Sekitar setengah jam kemudian, kami sampai di Neue Donau—stasiun terdekat dari Islamic Zentrum Wien. Mataku kembali dimanjakan dengan keindahan Sungai Donau bertabur burung-burung air yang tampak suka ria di atasnya. Tepian Sungai Donau tergelar hamparan taman yang luas dan memanjang sejauh mata memandang. Sungguh panorama yang indah sepanjang jalan kaki sejauh 400 meter dari stasiun menuju masjid.

Kehidupan Muslim di Masjid Wina

Orang-orang yang berlalu-lalang di jalan beraspal menuju masjid nampak penuh gairah. Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, bahkan balita turut serta. Semakin mendekati masjid, kerumunan semakin padat. Kubah hijau menyambut mata dari kejauhan. Sepanjang penelusuranku terhadap masjid-masjid di ibu kota Austria selama tiga bulan, itu satu-satunya masjid berkubah yang ada di Wina. Masjid-masjid lain sama sekali tidak terlihat seperti masjid jika dilihat dari luar karena berupa ruangan besar yang menyatu dengan bangunan apartemen.

Di hari Jumat, sepetak pelataran masjid yang luas juga menjadi lokasi berdirinya stan-stan jajanan halal, buku-buku keislaman, hingga pernak-pernik bernuansa religius. Sebanyak apa pun jamaah laki-laki, ruang khusus jamaah perempuan tetap menjadi hak mereka. Jamaah laki-laki membeludak hingga ke pelataran, bahkan ada yang melaksanakan sholat di atas rerumputan.

Aku menuju bagian masjid khusus perempuan. Rupanya, di sebelah ruangan khusus perempuan juga terdapat ruang khusus untuk anak-anak, tentu dengan ibunya yang mendampingi. Setiap sudut masjid terisi. Dan seperti prediksi awal, aku hanya akan menghabiskan waktuku di dalamnya penuh kecanggungan. Ibu-ibu mengisyaratkan aku supaya merapat ke barisan. Bukannya tidak mau, tapi memang tak boleh oleh syariat. Akhirnya, aku hanya bisa mengamati sholat Jumat dari pojokan belakang jamaah.

Sholat Jumat berlangsung khidmat. Khutbah disampaikan dalam bahasa Arab dan Jerman. Sebagian isinya samar-samar aku mengerti—ungkapan dan doa solidaritas untuk saudara seiman yang sedang menderita di Palestina. Ibadah selesai. Sebelum keluar masjid, beberapa perempuan dengan semangat membagikan permen, cokelat, dan kurma. Berkah Jumat, sedikit pengganjal perut untukku yang enggan membeli jajanan. Pemandangan jamaah berhamburan keluar layaknya beras tumpah dari wadahnya.

Harmoni Manusia dan Alam di Tepi Sungai Donau

Rupanya, bukan hanya manusia yang empunya kedamaian di sini. Pohon-pohon, burung-burung, dan makhluk lainnya kebagian jatah kebahagiaan. Segerombolan merpati mematuk-matuk sesuatu di bawah rerumputan taman kendati di dekatnya berseliweran manusia. Burung-burung gagak pun melompat-lompat kecil di tanah berumput tepian sungai.

Lanskap di atas air tidak kalah memukau. Dari kejauhan, gumpalan-gumpalan putih tampak mengapung di atas aliran sungai yang tenang. Bukan sampah tentunya. Jangan bayangkan sungai di ibu kota Wina sama dengan sungai di ibu kota Jakarta. Gumpalan-gumpalan putih itu adalah angsa-angsa dan jenis burung air lainnya yang seolah turut merayakan kelimpahan berkah Jumat.

Aktivitas manusia dan alam di sini begitu harmonis. Aliran air sungai bersih, bahkan bebatuan terang di dasarnya masih bisa terlihat. Tidak ada limbah beracun dari industri perkotaan yang secara serampangan dibuang ke sungai. Industri hanya boleh membuang limbah cair setelah melalui proses penyulingan dan didinginkan pada suhu tertentu sehingga ramah untuk ekosistem air.

Refleksi untuk Negeri Sendiri

Seandainya di negeriku… Ya, di negeriku pemandangan sungai kota seindah ini masih jadi utopia yang benar-benar imajiner. Tapi, optimis saja. Kesadaran setiap elemen masyarakat akan membaik, sehingga sungai-sungai kota yang berair keruh, berbau busuk, penuh sampah, dan terkontaminasi limbah beracun itu lambat laun bisa berubah menjadi lingkungan yang adil secara ekologis—adil untuk manusia, tanaman, hewan, dan elemen lingkungan hidup lainnya.

Letupan-letupan kecil aksi menjaga sungai dan lingkungan semakin santer disuarakan di Indonesia. Itu adalah indikasi perlawanan terhadap perusakan alam sistemik sekaligus peningkatan kesadaran lingkungan.

Semoga letupan-letupan kepedulian ini terus menyeruak ke dalam pikiran rakyat di berbagai sudut Indonesia, supaya alam kita benar-benar terselamatkan dan utopia keseimbangan alam bisa menjadi kenyataan.

TRAVELING setip hari Jumat. Nah, kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling di luar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honoarium Rp. 100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==