Royal Tempat Nongkrong Anak Muda Serang

Foto ini diunggah Toto ST Radik di akun FB-nya pada 2 Januari 2021. Puisi-puisi Toto dominan membuka setiap episode di Balada Si Roy. Toto menulis di status, “Ini foto diambil bulan Maret 1990. Saya dan Golagong Penulis sering nongkrong di seruas jalan yang lebih dikenal dengan sebutan Royal. Setiap malam minggu, menghabiskan waktu di sini. Begitu pula Si Roy dalam serial Balada Si Roy. Apakah adegan ini akan muncul dalam film Balada Si Roy? Kita tunggu saja .”

Royal ibarat Dalem Kaum Bandung, Losari makasar, dan Maliboro Yogyakarta. Seruas jalan dengan bioskop Merdeka dan pertokoan. Tak ada lagi tempat seasik selain Royal di Serang. Tentu berbeda setelah Banten jadi provinsi. Anak muda Serang nongkrongnya ke Mall of Serang atau di Cilegon yang lebih banyak mall-nya.

Saya nongkrong di Royal bukan sekadar nongkrong. Kepala saya berpikir terus. Pulang ke rumah, saya selalu mencatatnya sejak 1980-an. Di novel Balada Si Roy, dengan setting 1984, Royal termasuk setting lokasi utama. Tokoh Roy dan gengya nongkrong di Royal. (GG)

Please follow and like us:
error2
fb-share-icon0
Tweet 5

SMA 1 Serang, Sekolahku…

Sekolahku, SMA 1 Serang. Foto kiriman Toto St Radik . Foto tahun 1987. Aku lulus tahun 1982. Tidak jauh berubah. Di sini berserakan kisahku. Remaja berlengan satu, sering bolos sekolah, jago badminton, menulis puisi, dan hobi traveling. Masa remaja yang asik. Sekolahku ini jadi setting lokasi utama novel Balada Si Roy episode “Joe”.

Terimakasih kepada semua pelajar SMA 1 Serang, guru-guru dan kepala sekolahnya di era 1980-82. Berkat mereka aku jadi kuat, tahan banting, memiliki spirit: bumi dipijak langit dijunjung. (GG)

Please follow and like us:
error2
fb-share-icon0
Tweet 5

Sumpah, Riset Dulu Sebelum Menulis!

Novel Balada Si Roy risetnya 6 tahun, 1981-1987. Saya menulisnya juga 6 tahun, 1987-1994. Sejak kelas satu di SMAN 1 di Serang, saya mulai menulis “buku harian”  tentang karakter teman-teman saya. Ini menarik untuk dijadikans tokoh dalam novel saya nanti. Selain itu tentang kota-kota yang saya datangi saat traveling untuk setting lokasi. Bahkan kisah orang-orang yang saya temui di jalan untuk alur ceritanya.

Please follow and like us:
error2
fb-share-icon0
Tweet 5

Musnahnya Desa Senggolo Joyo di Novel “Lelaki di Tanah Perawan”

Sejak 20 Maret 2020 – saat lockdown alias work from home gara-gara pandemi Covid-19, saya menulis novel Lelaki di Tanah Perawan. Setting lokasinya di Desa Senggolo Joyo dengan daya tarik makam keramat dan perawan desa, terancam musnah oleh virus Corona. Setting lokasi utamanya di desa Senggoolo Joyo, yang saya adaptasi dari sebuah desa di tengah hutan Kalimantan. Transportasinya perahu.

Penggambaran desa Senggolo Joyo adalah sebuah alun-alun yang dibelah dua untuk terminal bus dan taman desa. Persegi empat itu dikelilingi masjid dan pondok pesantren di barat, hotel di timur, pasar tradisional di selatan, utara polsek dan puskesmas. Ada patung Ki Senggolo Joyo, sang founder yang makamnya dikeramatkan kira-kira 5 km sebelah selatan, terletak di bukit.

Please follow and like us:
error2
fb-share-icon0
Tweet 5

Pedagang Buah di Trotoar Samping Gedung Juang 45 Kota Serang

Pandemi Covid-19 ini tidak membuat warga Kota Serang berputus asa. Mereka tetap bersemangat menafkahi keluarganya walaupun harus melanggar aturan, menggunakan trotoar untuk berjualan. Kita harus memakluminya. Silakan belanja buah-buahan yang segar-segar di sini, tepatnya di samping Gedung Juang 45, Kota Serang, arah Masjid Tua Kaujon, jembatan Cibanten. Mari, kita sharing ekonomi.

Nah, bagi seorang penulis, peristiwa ini bisa dijadikan setting lokasi di dalam novelnya. Dalam imajinasinya, para tokoh bisa hadir di sini; mereka berbelanja lalu berkonflik. Jadi, jangan sia-siakan setiap peristiwa yang hadir di depan mata kita. jangan sekadar dilihat, tapi temukan peristiwa yang tersembunyi di baliknya!

#infoserang #banten #golagong

Please follow and like us:
error2
fb-share-icon0
Tweet 5

Bunga Wijaya Kusuma Itu Mengingatkanku Kepada Bapak dan Emak

Setiap malam, Bapak dan Emak mengajak anak-anaknya ke teras rumah. Kami duduk minum teh, menunggu bunga Wijaya Kusuma mekar. Harumnya semerbak. Aku masih di SD dan SMP saat itu (1976-79). Emak senang bunga itu.

Sedangkan Bapak, senang wayang golek. Mitosnya bunga ini membawa berkah. Juga pusaka Batara Kresna. Saat ke India, saya sempatkan mampir ke kota kecil Kurusetra, tempat perang Bharatayuda.

Please follow and like us:
error2
fb-share-icon0
Tweet 5

Dari Mengecat Pagar Jadi Cerita Pembuka Novel

Setiap hari banyak peristiwa terjadi di sekitar kita. Itu semua bisa kita olah jadi cerita unuk novel yang akan kita tulis. Seperti pada Minggu 5 Juli 2020. Abdul Salam – Presiden Rumah Dunia 2019-2024 dan relawan memagar areal Rumah Dunia seluas 3000 m2. Lalu para relawan komunitas literasi mengecat pagar itu. Nah, jika kita sekadar melihat, maka menguap. Amati dan cermati. Ini menarik untuk dijadikan setting cerita dan lokasi. Peristiwa kecil yang berdampak besar bagi lingkungan ini sangat potensial dan bisa menjadikan novel kita “alamiah”.

Please follow and like us:
error2
fb-share-icon0
Tweet 5