Puisi Minggu: 5 Puisi Atika Tegar Imawati tentang Akhir Tahun

Bagi beberapa orang, bulan Desember seringkali tampak melankolis. Mungkin karena waktu sepanjang tahun hampir berakhir sedangkan banyak resolusi yang belum tercapai atau bulan bungsu dalam kalender Masehi ini membuat kenangan setahun belakangan kembali muncul dan menciptakan pertanyaan baru: bagaimana saya menjalani tahun depan?

Kita dapat memilih foto seperti apa yang akan disimpan di galeri, misalnya momen-momen bahagia dan menyenangkan. Berbeda dengan Amygdala yang secara ilmiah membentuk memori dari segala yang telah kita lewati, baik ataupun buruk. Sebagian orang merawat ingatan kesedihannya diam-diam dan sebagian lainnya merayakan kebahagiaannya dengan semarak. Jika Adam Levine memvisualkan kenangan melalui lagu Memories, saya akan mengabadikan kenangan seperti kata Pram—menulis adalah bekerja untuk keabadian. Dan jenis pekerjaan yang saya pilih ialah menulis puisi.

Atika Tegar Imawati

Atika Tegar Imawati
TAHUN BARU

aku mencintaimu
meski setiap pergantian tahun
tidak akan ada pesta
ataupun tamasya

pada akhir desember ketiga ini
kita lebih memilih berada di kamar
—memutar potongan film setahun belakangan
sambil mengeja resolusi yang basah
oleh tampias hujan dari mataku

tepat jam dua belas,
kembang api meletup
menyamarkan bunyi token terakhir
yang masih sempat kudengar
sebelum gelap menghangatkan kita berdua
yang mulai bercinta
di bawah selimut kemiskinan

Yogyakarta, 2024

oOo

Atika Tegar Imawati
IBU

semenjak hari itu,
aku lebih sering
menatap pigura di ruang tamu
dan membiarkan kesunyian
mengisi sudut-sudut rumah

angka-angka di almanak terakhir yang
sengaja kubiarkan pun perlahan memudar

di beranda,
anggrek-anggrek mulai berguguran,
musim semi tak kunjung bertandang
meski desember dan februari
telah tertinggal jauh di belakang

dug!
sebiji Sawo terjatuh
dari masa kecilku
yang diperam oleh ibu

Yogyakarta, 2024

oOo

Atika Tegar Imawati
LUKISAN

terakhir
adalah konjungsi yang tak pernah
kuduga akan dipinjam oleh malaikat
maut sebagai penanda perpisahan
kita di pagi itu

aku melukis wajahmu di antara garis tanganku
dengan sisa ingatan dua dekade lalu
yang perlahan terkikis oleh waktu

berkali-kali aku mencoba membangun
rumah kecil kita lagi
pintunya utuh sementara kuncinya telah hanyut
bersama tubuh dan dongeng indah
di dalam rahimmu yang seharusnya
menjadi kenyataan dalam hidup kita

jarum jam membentuk sudut 120 derajat: pukul delapan
ombak dari mataku mulai pasang
dan untuk kesekian kalinya
tak ada lukisan yang mampu aku selesaikan

Banten, 2024

oOo

Atika Tegar Imawati
TANGGAL MERAH

pada akhirnya aku tahu
bagaimana kau merayakan
gelisah dan keraguan
yang saban hari berulang tahun
di bola matamu

tak ada tanggal merah
bagi pertanyaan
yang kuciptakan dalam
keyakinanku:
adakah aku, di doa-doa yang kau panjatkan?

dan satu-satunya jawaban
yang kucari
terselip pada sebatang lilin—yang perlahan meredup
sementara lelehannya telah sepakat
menjadi kado untuk ingatan

Yogyakarta, 2024

Atika Tegar Imawati
PEMBERHENTIAN MANA YANG KIRANYA AKAN KUTEMUKAN KAU?

…now my heart feel like December when somebody say your name
aku meresapi lagu yang dinyanyikan Adam Levine sembari menyeruput kopi yang sama kentalnya dengan ingatan tentangmu. di depan Circle K, mataku menangkap separuh tubuh puisi dengan pundak terbuka, menembus hujan yang berkepanjangan pada bait kedua—ada namamu tertulis disana.

biasanya, kita berdoa di malam tanggal dua puluh lima untuk melepaskan kecemasan dosa-dosa atas apa yang telah kita lakukan dengan kesadaran paripurna. tapi aku tidak lagi melakukannya semenjak tubuhmu bercumbu dengan sepetak tanah dan meninggalkanku sendirian. kemudian, hari-hari setelah kau pergi kuhabiskan dengan merawat aroma oriental dari ranjangmu, kehangatan yang kau ciptakan, dan lengkung senyum yang suatu ketika akan aku rindukan.

aku telah memutar lagu ini sepanjang kepergianmu yang tak lagi mengenal kata pulang. kau membiarkanku kebingungan di sepertiga perjalanan sedang satu-satunya alamat yang kau tuliskan di dadaku hanya masa depan. dari layar ponsel, kita saling bertatapan. aku membuka galeri—disanalah kita mengasuh memori yang kian beranjak dewasa dan sepia.

ribuan kilometer telah terlewati. satu-persatu penumpang telah turun. sementara aku masih menaksir kemungkinan: pemberhentian mana yang kiranya akan kutemukan kau?

2024

TENTANG PENULIS: Atika Tegar Imawati adalah seorang mahasiswi tahun pertama prodi Manajemen Aset di PKN STAN. Lahir di Jogja dan sekarang bolak-balik Jogja-Tangsel untuk menyelesaikan studi. Aktif menulis dan berkompetisi. Tahun ini menjadi Kontingen Pekan Seni Mahasiswa Nasional Cabang Penulisan Puisi mewakili Provinsi Banten. Atika bisa disapa melalui Instagram @atikaategar.  

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==