Oleh: Zaeni Boli
Dulu, sebelum kembali ke Larantuka, saya bergabung dengan Sastra Kalimalang. Di sana, saya bebas mengekspresikan diri, menulis puisi setiap hari, dan merasa seperti seniman beneran—apalagi ditunjang dengan penampilan rambut gondrong, kadang dicat pirang biar kayak bule kesasar.
Tapi itu masa lalu, saat dunia masih asyik-asyiknya, ketika saya bebas menjadi diri sendiri dan sedikit liar. Waktu itu, entah kenapa, saya bisa begitu produktif menulis puisi. Beberapa di antaranya bahkan termuat dalam antologi bersama, seperti Negeri Poci dan Puisi Menolak Korupsi. Pokoknya, liar banget! Bisa ketemu penyair-penyair hebat seperti Sosiawan Leak, Sutardji C. Bahri, Fikar W. Eda, dan lain-lain. Keberuntungan itu saya dapatkan karena guru kami adalah sahabat mereka.




Tapi itu dulu, sebelum negara Konoha menyerang.
Sekarang? Boro-boro mau balik ke setelan pabrik! Rambut panjang dikit aja sudah disuruh potong sama istri. Apalagi setelah kelahiran putri kami, menulis puisi rasanya tak lagi menarik—karena buat saya, putri kami adalah puisi itu sendiri.
Namun, sebagai seseorang yang pernah bergaul dengan para seniman hebat, saya tak boleh kehilangan rasa kritis. Meski ada rasa takut, saya tetap harus menulis. Mungkin, inilah yang bisa saya lakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan di negeri ini.

Saya pun membayangkan, bagaimana jika Chairil Anwar masih hidup dan melihat kondisi negerinya saat ini? Kebijakan dan pejabat tak lagi berpihak pada kepentingan rakyat. Justru mereka berlomba-lomba untuk korupsi dan merugikan negara.
Ah, meski tak punya keberanian untuk kembali ke setelan pabrik, saya tetap ingin bersuara—seperti para seniman di luar sana yang tetap kritis dalam situasi yang tidak baik-baik saja.



