Oleh Zaeni Boli
Sebagai salah satu grup teater paling konsisten berkarya dengan kualitas, Nara Teater kembali memproduksi sebuah karya untuk pementasan dalam rangkaian Festival Maumerelogia 2025. Sebuah karya yang diberi judul Imam Sabadalak, produksi Nara Teater (2025), berisi percakapan-percakapan para imam dengan siswa sekolah rumah ibadah Negeri Sabadalak.
Para imam menyampaikan ajaran-ajaran hidup dengan penuh kuasa kepada para siswa sebagai calon pemimpin. Maksud pengajarannya jelas: supaya kelompok para imam ini terus berkuasa dalam segala keagungannya.
Caranya? Dengan tetap membuat masyarakat betah dalam kondisi kebodohan dan keterbatasannya. Masyarakat harus tetap miskin supaya terus bergantung pada mereka. Pemberontakan kaum kecil dihadapi dengan merapatkan diri, berkongkalikong dengan para petinggi negeri.
Protes kaum kecil tak lebih dari suara latah kawanan kecoa—masuk kiri, keluar kanan. Suara rombeng yang dijual murah pun tak akan dibeli. Sementara itu, para imam dan penguasa terus bersulang demi perut yang semakin gendut, demi daging yang kian empuk, demi bibir yang kelewat tebal, dan demi ambisi yang kian ranum.
Pertunjukan Imam Sabadalak cerewet—penuh olok—sebagai cara memeriksa sekaligus menghadirkan dunia yang kian cerewet dan terasa mengolok-olok kita. Melihat muka buruk kita seraya menertawakannya (tanpa harus marah, apalagi membelah kaca cermin itu).
Teks Imam Sabadalak ditulis dan disutradarai oleh pendiri Nara Teater: Silvester Petara Hurit. Sebenarnya, ini adalah karya lama dari penulis yang belum sempat dipentaskan karena kondisi waktu itu, yakni pandemi Covid-19. Karya ini ditulis tahun 2019 dan disempurnakan oleh penulis pada tahun 2025. Ya, setiap karya memang punya jalannya sendiri untuk menemukan takdirnya.
IMAM SABADALAK akan dipentaskan malam ini, 22 Mei 2025, di Aula Rujab Bupati Maumere, pukul 20.00 WITA.



