Sosok di Meja Piket: Pelayanan yang Menghadirkan Wibawa

Oleh Maksimus Masan Kian

Kemarin setelah dari sekolah, saya mampir ke kantor BKPSDM Kabupaten Flores Timur. Langkah saya membawa ke tempat yang tidak asing, tapi hari ini, Selasa (3/6/25) terasa berbeda. Di balik meja piket yang biasanya dihuni staf penerima tamu, duduklah sosok yang tak terduga: Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia itu sendiri, Bapak Rufus Koda Teluma.

Ia tidak sedang menunggu tamu penting, tidak pula melakukan inspeksi dadakan. Ia duduk di sana dengan santai namun waspada, menyapa satu per satu orang yang masuk, bahkan sesekali mengantar mereka ke ruangan yang dituju. Seolah ia adalah staf biasa, padahal justru di situlah letak kebesaran sikapnya.

“Wibawa itu ada pada pelayanan, bukan pada sikap arogansi,” katanya pelan saat kami berbincang sebentar. Kalimat itu seperti mencairkan batas antara pemimpin dan yang dilayani. Dalam pandangannya, jabatan bukan soal kekuasaan, tapi soal kepercayaan dan kesiapan untuk melayani tanpa syarat.

“Kami pelayan, dan kami pelayannya Pak Pelayan. Pak mereka,” lanjutnya dengan senyum. Sebuah pernyataan yang meruntuhkan hierarki formal dan membangun etika kerja yang berakar pada keikhlasan.

Dalam praktik sehari-hari, ia bukan hanya bicara soal pelayanan. Ia memastikan bahwa hak dan kewajiban ASN terpenuhi dengan adil. Jika ada kendala, ia tidak menyalahkan bawahan, tapi berdiri paling depan mengambil tanggung jawab. Ia hadir bukan untuk sekadar mengatur, tapi menyelesaikan.

Bahkan lewat WhatsApp pun, ia tak ragu melayani mereka yang butuh bantuan. Masalah, tidak boleh dibiarkan berlarut! “Urusan hari ini, harus kita upayakan selesai hari ini. Orang datang mesti pulang dengan rasa puas karena dilayani.”

Dalam dunia birokrasi yang seringkali kaku dan berjenjang, Bapa Rufus hadir sebagai anomali yang menyegarkan: seorang pemimpin yang tidak menara gading, tetapi jembatan yang menghubungkan pelayanan dan kepercayaan, aturan dan kemanusiaan.

Saya selalu merasa beruntung saat berkunjung ke kantornya. Bukan karena saya dapat pelayanan istimewa, tetapi karena saya selalu bertemu dengan sosok pemimpin yang sederhana, hangat, dan jujur pada tugasnya.

Dalam diamnya, Bapa Rufus mengajarkan satu hal: kerendahan hati adalah bentuk tertinggi dari wibawa.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==