Puisi Esai Gen Z: Lima Belas Tangan Satu Kehidupan yang Hilang Karya Lamya Nufaisah

Puisi Esai Gen Z Karya Lamya Nufaisah – Pelajar kelas 12 di SMA Negeri 1 Muntok – Duta Puisi Esai 2025 dari Provinsi Bangka Belitung

(Dokter Moumita Debnath, mahasiswa pascasarjana di RG Kar Medical College di India yang dilaporkan hilang, pada 9 Agustus 2024 ditemukan tewas. Hasil otopsi menyebutkan, korban mengalami kekerasan seksual dan tewas akibat dicekik.)

oOo

Kolkata, sebuah kota di India
seperti mimpi buruk yang tak pernah usai
Sebuah nama terpatri di udara
dr. Moumita Debnath
dengan segala harapan yang tertanam di dadanya
Malam itu, 9 Agustus 2024, ia berjalan dalam kebisuan
menuju tugasnya, menuju impian yang ia gantungkan
tinggi di langit

Tetapi malam tak pernah merestuinya
Langkahnya terhenti, bukan karena letih,
melainkan karena sebuah tangan yang kasar
merobek mimpinya, menghancurkan dunia yang ia bangun

Ditemukan dia, dalam sunyi yang menggigit
Aula seminar yang seharusnya memberi perlindungan

Setengah telanjang, dengan luka yang berbicara lebih keras
daripada mulut manusia yang bungkam

Apa yang bisa dikatakan oleh tubuh yang diperkosa dan dicekik?
Hanya kengerian yang menyisa
di tiap memar, di tiap jejak kekerasan

Otopsi menyingkap bisikan sunyi
“Ini bukan kematian biasa.”
Pecah sudah dinding keheningan
Diperkosa dan dicekik
Dunia tahu, tetapi dunia tetap bisu

Untaian stetoskopnya panjang
Ia seorang wanita yang ingin menyembuhkan dunia
Tetapi siapa yang akan menyembuhkan luka-luka di tubuhnya?
Siapa yang akan mendengar jeritan tak terdengarnya?
Ia berdiri di antara kehidupan dan kematian
Tetapi malam itu, maut datang dengan wajah penuh kebencian

Tubuhnya penuh luka, bekas-bekas perjuangan
Bekas perlawanan terakhir yang ia lakukan
menjadi saksi bisu atas kekejaman yang ia alami
Ia diperkosa, dihancurkan, oleh lima belas pria2
Manusia-manusia yang tak layak disebut manusia!

“Aku ingin hidup,” mungkin itu jeritan terakhirnya

Tapi suaranya tenggelam di balik tangan yang mencekiknya
Tidak ada yang mendengar
atau semua memilih untuk tidak mendengar

“Di mana perlindungan untuk mereka yang menyelamatkan kita?”
Suara-suara itu bergaung
seperti badai yang menghantam tembok kebisuan
Protes meledak, memenuhi jalan-jalan

Mereka menuntut keadilan bagi tenaga medis
yang seharusnya dilindungi
Tetapi justru menjadi korban dari sistem yang rapuh

Di sepanjang jalan, poster wajahnya tersebar
“Justice for Moumita!”
Teriakan itu terus membahana
Tetapi siapa yang benar-benar mendengar?
Sistem ini begitu besar, begitu lamban
Apakah mereka akan bergerak
atau hanya diam, seperti malam yang menelan Moumita?

Para dokter, mahasiswa, rakyat biasa
mereka berjalan bersama
meminta hak yang paling dasar, keamanan
Tidak ada yang meminta terlalu banyak
Hanya agar malam tidak lagi berbahaya
bagi mereka yang telah memberikan hidupnya
untuk menyelamatkan nyawa orang lain

Mereka ingin keadilan4
Tetapi apakah keadilan itu benar-benar ada?
Seorang hakim akan duduk di kursi tinggi
membaca berkas demi berkas
Sementara di luar sana
ratusan orang masih menangis di bawah hujan

“Berapa banyak lagi Moumita yang harus kita kubur?”
Sebuah pertanyaan yang terus berulang
tanpa jawaban, tanpa arah

Ada rumah yang menunggu kepulangan Moumita
Di sana, seorang ibu duduk termenung
Matanya kering, tak lagi ada air mata
Ia telah menangis terlalu lama
hingga bahkan rasa sakit pun tak lagi bisa dirasakannya

“Moumita, kapan kamu pulang?”
Namun, jawaban itu tidak pernah datang
Hanya berita yang tiba
membawa kabar kematian dan penderitaan

Di antara ribuan wajah yang protes
ada wajah-wajah yang hampa
Seolah keadilan adalah mimpi yang terlalu jauh untuk dijangkau
Namun, di setiap langkah mereka

tersirat sebuah harapan, meski kecil
Bahwa mungkin suatu hari
tidak akan ada lagi cerita seperti Moumita

Namun, sampai hari itu tiba
Kita terus berjalan
di antara doa dan protes
menuntut dunia yang lebih adil
untuk mereka yang tak bisa lagi berbicara
seperti dr. Moumita Debnath

*) Bangka, 2024

Catatan Kaki:

https://www.liputan6.com/citizen6/read/5677689/fakta-fakta-moumita-debnath-dokter-indiayang-diperkosa- dan-dibunuh-hingga-sebabkan-gelombang-protes

https://health.indozone.id/news/484988996/biadab-dokter-muda-di-india-diperkosa-15-priahingga-tewas- kemaluannya-sampai-berdarah

Justice For Moumita: Tragedi Kekerasan Seksual Perempuan India

oOo

TENTANG PENULIS: Lamya Nufaisah, lahir di Muntok, Bangka Barat, pada tanggal 26 Juni 2007. Ia anak sulung dari dua bersaudara, sedang menempuh pendidikan kelas 12 di SMA Negeri 1 Muntok. Ia hobi menyanyi, menulis cerita, membaca buku fksi, dan menonton flm/drama. Sejak kecil ia memang menyukai dunia kebahasaan dan sudah mempunyai karya tunggal berupa buku kumpulan cerita pendek bergenre roman dan misteri, berjudul Behind the Museum Tragedy. Ia juga suka berorganisasi. Pernah menjabat sebagai sekretaris PMR (Palang Merah Remaja) SMA Negeri 1 Muntok periode 2021/2022 dan 2022/2023. Di bidang akademis, saat di kelas 10 dan 11, ia mengikuti Olimpiade Siswa Nasional (OSN) bidang Biologi dan Kimia. Selain itu, ia juga pernah mengikuti lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang diselenggarakan lembaga OPSI (Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia) tahun 2023/2024. Beberapa kali ia menjuarai lomba
tingkat Kota maupun Provinsi. Ia terpilih sebagai Duta Puisi Esai 2025 dari Provinsi Bangka Belitung. []

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen Baru ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Bagaimana kalau lingkungan, politik, atau kritik sosial ke penguasa? Boleh saja asalkan ada fakta dan sertakan link beritanya. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp 300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==