Awal tahun 2025 menjadi momen mengejutkan dan berduka bagi saya. Sebagai anak, saya belum pernah merasakan kehilangan yang begitu lama. Kehilangan sosok yang dihormati, dicintai, dan dipatuhi sebagai teladan di rumah: Bapak.
Kepulangan Bapak yang begitu lama seolah melubangi perasaan ini yang berharap beliau tetap sehat dan panjang umur. Sebuah kejutan yang tidak kita harapkan, dan menjadi momentum duka.
Hidup memang bukan kita yang tentukan, tapi Allah SWT yang punya. Kelahiran dan kehilangan menjadi siklus kehidupan yang tidak bisa dihindarkan. Kepulangan bapak menjadi kehilangan yang mendalam bagiku dan keluarga. Bahkan, sehari setelah bapak dimakamkan, saya melamuni bapak dengan perasaan sedih.
Muhzen Den

BAPAK PULANG
Oleh Muhzen Den
Selepas perjalanan lumpuh
Bapak pulang
Tidak ada oleh-oleh
Yang biasa dinantikan
Buah tangan hampa
Hanya doa-doa mengabur
Apakah hari esok telah buka?
Malam yang sengal di tengah udara sesak
Bapak pulang
Setelah lima bulan berbaring dan merengek
Cerita lucu emak mengiring tawa pagi itu
Pada wajah lelah, lepas di ruang duka
Ciloang, 28 Januari 2025
oOo
PULANGLAH, KANG!
Oleh Muhzen Den
Aku terpaku pada tabung ajaib
Menyaksikan riuh rumah
di antara khawatir, dan sendu
Meniti waktu yang melambat
Riuh menjalar pada dada
Membumbung kemungkinan tiada
Sosok yang dinanti
Terbaring dengan gigil
Pulanglah, Kang!
Bapak menunggu diantar
Cikampek, 26 Januari 2025
oOo
UDARA YANG SESAK
Oleh Muhzen Den
Dia terpengerangkap
Di ruang-ruang ICU membeku
Berjejalan suara pilu
Menunggu kesedihan lenyap
Dia terikat
Di bangsal-bangsal pesakitan
Jarum-jarum asa ditusuk
Pada jasad-jasad harapan
Namun, semua tinggal kenangan
Tatkala waktu pulang kian merapat
Menuntun ke pintu istirahat
Duka bersemayam
RSUD Banten, 27 Januari 2025
oOo
MENUNGGU BAPAK
Oleh Muhzen Den
Kepulanganku bukan untuk kenangan
Bukan pula jumpa rindu yang menunggu
Kepulanganku untuk bapak
Lelaki tua yang mengharapkan cerita
Pada lelah napas, serta keluh hidupnya
Ciloang, 28 Januari 2025
oOo

ANAK BAPAK
Oleh Muhzen Den
Aku menjadi beda setelah rumah tak lagi bernaung
Namun, suara bapak memanggil-manggil menyuruh datang
Gigil tubuhku dipeluk emak, diucapkan mantra-mantra
Bapak membaluriku kisah-kisah masa lalu, tentang masa kanak, suka-duka, dan airmata
Aku telah berubah saat pintu rumah tak lagi menyapa
Namun, cerita dongeng bapak menarikku dalam kesendirian
Riuh sanak-saudara melambungkanku pada kesenangan duniawi
Bapak menjadi sosok perhatian akan diriku yang terlena di luar rumah
Ciloang, Januari 2025
oOo
WARISAN BAPAK
Oleh Muhzen Den
Selepas bapak pulang yang dihantarkan lewat kalimat tauhid
Bibir kelu, bayangan bapak memenuhi pikiranku yang lelah
Dulu, aku tak sempat diajarkan soal berpisah
Namun, kepergian bapak seperti bukan perpisahan
Lelaki yang telah menanam rasa sabar nan setia pada satu perempuan,
Kini telah undur diri dari hiruk-pikuk kehidupan yang fana
Bapak memilih alfa pada perjumpaan keluarga,
Menyisakan kekosongan pada lubang hati emak, kakak, teteh, adik, dan aku.
Ciloang, Januari 2025
oOo
BAPAKKU RELA(WAN)
Oleh Muhzen Den
Bapak tak pernah menyuruhku pulang
Saat buku-buku memenuhi hidupku
Bapak justru meninggalkanku di sana
Merapali kata demi kata untuk jalan bertualang
Bapak tak pernah memarahiku
Ketika aku terlena dalam lembar-lembar iqro
Bapak membersamaiku
Saat keriuhan ilmu memenuhi pelataran rumah
Ciloang, 2002-2025
oOo


PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin membaca puisi-puisinya yang sudah tayang, klik gambar di bawah ini:


