Puisi Esai Gen Z: Gerbang Pagi dan Pelukan Senja yang Tak Sampai Karya Ita Rosyidatul

Jakarta – Di bawah reruntuhan bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, suara lirih Syahlendra Haical (13) atau Haikal sempat mengajak temannya untuk salat Isya berjemaah. Namun, pada Subuh esoknya, teman Haikal sudah meninggal dunia. Dilansir detikJatim, korban selamat ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, menuturkan pengalamannya selama dua hari terjebak di reruntuhan. Cerita itu ia sampaikan saat dijenguk senator DPD RI asal Jatim, Lia Istifhama, Kamis (2/10).

oOo

Pagi.
Di Gerbang Al Khoziny, udara masih beraroma janji.
Bau embun bercampur aroma kitab-kitab lama.
Gerbang itu adalah memori abadi.

Di sana, terakhir kali pelukan dilepas dengan keyakinan penuh saat Haikal pertama kali
memasuki dunia pesantren.
Ibu mengukir senyum di lipatan surat dan doa, senyum yang diselipkan dalam pesan,
“Belajarlah yang baik, Nak.”

Gerbang itu saksi bisu, tempat santri memasuki dunia ilmu.
Ini bukan perpisahan, ini hanya jeda dari rumah.
Ini bukan akhir, ini hanya awal dari hari-hari yang diisi ilmu dan doa.

Gerbang Pagi adalah rutinitas yang damai.
Para santri bergegas, mengejar saf pertama, mengejar cita-cita.
Tidak ada yang tahu, bahwa rutinitas harian ini, pagi itu, adalah panggilan terakhir bagi
beberapa jiwa.
Mereka melangkah di lantai yang kokoh, lantai yang tak lama lagi akan mengkhianati
imannya sendiri.

Pukul tiga sore.
Langit Sidoarjo memudar.
Di musala, ruku’ dan sujud sedang disempurnakan.
Keheningan khusyuk adalah satu-satunya suara.

Tiba-tiba, suara dunia datang, gemuruh yang memekakkan, seperti langit jatuh ke bumi.
Bukan gempa, bukan badai, tapi beton yang menyerah pada beban, besi yang tak lagi
sanggup memeluk janji.

Pengecoran terakhir, kata mereka.
Kegagalan konstruksi, kata laporan.

Apapun alasannya, puing jatuh menimpa saf yang lurus, memadamkan cahaya di mata-mata
yang baru selesai melihat kiblat.

Di tengah jeritan dan debu, di dalam ruang sempit yang gelap, masih ada suara.
Itu suara Haikal, santri yang selamat – seorang saksi bisu.
Kisahmu menyebar, Nak, tentang ajakan yang kau bisikkan sebelum subuh, “Ayo, salat.
Jangan tunda lagi.”
Imanmu menjadi tiang baja di antara runtuhan yang rapuh.

Kau selamat.
Kau kembali.

Tapi ajakanmu, doa-doamu, kini menjadi gema pilu bagi teman-temanmu yang tertahan di
balik reruntuhan wudu.
Takdir membawa Haikal kembali, tapi juga menahan pelukan yang lain.

Senja tiba.
Gerbang pondok yang tadi pagi saksi janji, kini dipenuhi wajah-wajah yang memohon.
Mereka adalah orang tua, Mama yang terus menggenggam foto, Ayah yang matanya kering
oleh harapan yang diambang batas.
Mereka berdiri di Gerbang, menanti.

Menunggu nama dipanggil.
Menunggu sapaan.
Menunggu keajaiban.

Tim SAR bekerja, melawan beton yang keras dan waktu yang sempit.
Setiap puing yang diangkat adalah beban di dada.
Senja semakin gelap, lampu sorot menyala, menampakkan debu dan kesedihan.

Mama hanya ingin memeluk.
Pelukan hangat yang seharusnya terjadi di senja hari, kini hanya mimpi yang beku, terhalang
oleh tumpukan puing yang dingin.
Mereka mencari “last seen” yang tak kunjung online, mencari napas di bawah material yang
membisu.

Tragedi ini meninggalkan pertanyaan tajam:
Sampai kapan Gerbang Pagi akan dihiasi janji yang hanya akan bertemu puing di senja hari?

Kita harus belajar.
Kita harus bangun kembali.

Bukan hanya musala yang tegak, tapi juga kesadaran akan tanggung jawab dan harga nyawa
seorang santri.

Karena di balik setiap puing, ada pelukan yang tak sampai, yang menanti untuk bertemu di
keabadian.

oOo

Link:

Baca artikel detiknews, “Haikal Ajak Teman Salat di Reruntuhan Ponpes Sidoarjo, Ternyata Sudah Meninggal” selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-8142974/haikal-ajak-teman-salat-di-reruntuhan-ponpes-sidoarjo-ternyata-sudah-meninggal.

oOo

TENTANG PENULIS: Ita Rosyidatul, seorang mahasiswi kupu-kupu yang menjadikan menulis sebagai ruang eksplorasi diri. Ia punya mimpi besar menjadi penulis yang suaranya bisa sampai ke banyak orang. Menulis adalah cara terbaiknya menuangkan pikiran dan merasakan hidup.  

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen Baru ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Bagaimana kalau lingkungan, politik, atau kritik sosial ke penguasa? Boleh saja asalkan ada fakta dan sertakan link beritanya. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Baru. Ada honorarium Rp 300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==