Arjuna Tamaraya, pemuda asal Simeulue yang menjadi korban pembunuhan di Masjid Agung Sibolga, Sumatera Utara. Ia dianiaya oleh sekelompok orang karena menolak ketika diminta untuk tidak tidur atau beristirahat di dalam Masjid tersebut. Peristiwa ini terjadi pada hari Jum’at dini hari, tanggal 31 Oktober 2025.

oOo
Di malam yang syahdu,
Pemuda berdarah Aceh itu bernafas pelan,
perantau yang letih dan rindu,
mengistirahatkan diri di tempat ternyaman, di rumah Tuhan.
Bukannnya merasa nyaman,
justru tempat itu menjadi awal mula kisah tragisnya.
Larangan untuk beristirahat, rasanya itu tidak masuk akal
Aturan mana yang melarang beristirahat di Masjid?
Arjuna yang merasa larangan itu tidak logis,
terus melanjutkan kegiatannya untuk beristirahat.
Saat itu juga, seorang pria yang berusia paripurna (57)
Merasa tersinggung karena larangannya tidak digubris.
Pria itu bukanlah seorang marbot Masjid,
Ia adalah warga lokal di daerah itu.
Entah apa yang ada dalam pikirannya,
Pria yang sudah bisa dikatakan paruh baya itu
memanggil komplotannya.
Tubuh Arjuna habis dipukuli, dihantam tanpa ampun.
Tubuh yang tersungkur ke lantai itu pada akhirnya
tidak sadarkan diri.

Rasanya seperti suatu hal yang gila,
Namun inilah kenyataannya.
Lima lelaki pelaku pengeryokan maut ini tetap
memukuli, bahkan menendang Arjuna meskipun sudah
tidak sadarkan diri.
Arjuna, si tulang punggung keluarga,
Tubuhnya di seret tanpa belas kasihan,
Tidak perduli kepalanya terbentur tepian anak tangga.
Bayang tubuh Arjuna tergulung dalam genggaman malam,
Diseret paksa menghempas debu di halaman Masjid yang dingin.
Di tepi jalan hening, tubuh Arjuna tergeletak tanpa suara,
Ditemukan oleh penjaga Masjid setia.
Di balik suara sepi menyambut Subuh,
Nafas terakhirnnya terlepas.
Meninggalkan jejak luka yang dalam dan kesunyian yang abadi.
Masjid, rumah ibadah yang mulia dan selalu terbuka untuk orang,
Malam itu berubah menjadi Lokasi kesedihan,
Yang sarat dengan penderitaan dan kematian.
Moral, rasa kemanusiaan, ditembus oleh amarah dan kebencian.
Dalam diam,
Dunia menyaksikan luka berbalut pertikaian.
Arjuna, perjalananmu di dunia telah usai.
Tragedi yang kau alami, meninggalkan pesan berat kepada semua,
Meninggalkan luka kepada kakak, adik, dan keluarga.
Tenang saja Arjuna, kebaikanmu akan selamanya diingat.
Arjuna bagaikan lentera kebaikan,
Tidak pernah menghitung dalam memberi.
Sepanjang hidupnya, Arjuna melangkah tanpa
Keraguan, sederhana di setiap jejak langkahnya.
Di ruang maya linimasi Facebook,
Kakak perempuan Arjuna melukis kata-kata penuh getar hati.
Menebarkan cerita pendek tentang saudaranya, Arjuna.
Menabur rasa dalam bait-bait yang mennyayat jiwa.
“Ternyata adik satu-satunya kakak yang cowok
telah lebih dulu dipanggil Allah, menyusul Ayah di tahun yang sama.
Masya Allah, Arjun… semoga Allah menempatkanmu di sisi terbaik-Nya
dan melapangkan kuburmu.

Kakak sudah ikhlas, Dek.
Allah lebih sayang padamu, makanya Arjun dipanggil
lebih dulu, meski dengan cara yang begitu berat.
Masjid Agung Panorama Sibolga jadi tempat terakhirmu,
Masjid yang dulu kita datangi selalu untuk sholat id sejak kau masih
merangkak bersama Ayah, Umak, dan Kakek Nenek.
Tempatmu kini sudah jelas, insyaa Allah indah di sisi-Nya.
Kakak hanya berharap, kelak Allah panggil Kakak juga
dalam keadaan sebaik dirimu yang dimana semua
orang mendoakanmu dek.
Al-Fatihah untukmu, Arjun.”
Kini, Arjuna telah terbang jauh.
Menyusuri batas antara ruang dan waktu.
Dalam ketenangan yang tidak tertandingi,
Di tempat dimana luka tidak menyapanya lagi.
Arjuna, Al-Fatihah selalu membersamaimu
oOo

Link:
oOo


TENTANG PENULIS: Ririn Selviyani adalah seorang mahasiswa yang gemar menulis. Kesehariannya adalah
menulis novel di aplikasi membaca online, juga aktif menulis berita di platform citizen
media.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp 150 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:





