Setiap kepala manusia pasti memiliki arti cinta. Jika ada seribu orang, maka ada seribu arti cinta. Namun, tentu saja tak semua arti cinta dapat kita terima.
Arti cinta dari siapa yang patut kita terima?
Arti cinta yang patut kita terima haruslah berasal dari pakar cinta—cinta yang tak cukup sekadar permainan atau tipu daya materi, fisik, atau sejenisnya, tetapi cinta yang menembus ruang-ruang metafisik, di luar materi, fisik, atau sebangsanya.
Kadang kala, setiap pencinta harus bersedia disebut gila—kata William Shakespeare. Sebab, cinta yang waras bukan cinta sama sekali, kata José Martí.

oOo
Narudin Pituin
Hujan di Ujung Suaramu
Aku mencintaimu seperti hujan gugur diam-diam,
ia tak bertanya siapa yang merindukannya.
Biarkan namamu menggenang di telingaku,
menjadi gema yang menolak pulang.
Jika bibirmu adalah senja yang gamang,
aku ingin duduk lama di sana.
Sebab cinta tak perlu terburu—
ia cukup menunggu sampai langit berdebar.
(2025)
Narudin Pituin
Rumah di dalam Denyutmu
Jarak hanyalah kesalahan peta,
sebab aku selalu menemukanmu di dadaku.
Setiap desir adalah alamatmu,
tiada tempat lain yang lebih pasti.
Biarkan tubuhku menjadi pintu yang kaubuka,
sampai malam belajar bernapas santai.
Dan bila cahaya enggan tidur,
kita persilakan ia tinggal di tulang-tulang kita.
(2025)
Narudin Pituin
Ciuman tanpa Waktu
Kita pernah saling diam, tetapi gemuruh,
seperti dua awan yang sulit memilih hujan.
Aku menyentuhmu bukan dengan tangan—
melainkan dengan kemungkinan.
Jika ciuman ialah jam pasir,
biarlah butir-butirnya memaafkan waktu.
Dan ketika detik berhenti bergulir,
kita sebut itu kekekalan paling sederhana.
(2025)
Narudin Pituin
Kitab dari Tubuhmu
Ada ayat yang tumbuh di antara tulang selangka,
aku membacanya dengan lidah yang bergetar.
Setiap huruf ialah rahasia asin,
meminta tak sekadar dipahami, tetapi dicium.
Jangan jelaskan apa pun—
biarkan kulit menjadi tafsirnya.
Sebab cinta adalah kitab tanpa huruf,
yang hanya selesai dihanguskan pelukan.
(2025)

Narudin Pituin
Aku dan Kau tanpa Nama
Aku memanggilmu tanpa suara,
dan kau menjawab tanpa harus hadir.
Begitulah cinta: sejenis kabar
yang tak pernah menulis pengirim.
Jika kelak dunia menuntut definisi,
kita serahkan mereka pada bimbang.
Sebab cinta hanyalah dua jiwa
yang mengenali dirinya dengan menutup mata.
(2025)


TENTANG PENULIS: NARUDIN PITUIN ialah sastrawan, penerjemah, dan kritikus sastra. Karya sastra, terjemahan, esai dan kritik sastranya dimuat di Kompas, Tempo, Media Indonesia, Majalah Sastra Horison, Majalah Basis, Pikiran Rakyat, dan banyak lagi di dalam dan luar negeri. Buku puisinya berjudul Di Atas Tirai-tirai Berlompatan (2017) menjadi pemenang Anugerah Puisi CSH 2018 dan dua buku puisi terjemahan bahasa Inggrisnya mendapat penghargaan tingkat internasional. Buku-buku terbarunya berjudul Sintesemiotik: Teori dan Praktik (2023), Sastra Indonesia dalam Sastra Dunia: Kumpulan Esai dan Kritik Sastra (2023), Sang Nabi Al-Muqaffi (novel, 2022), dan Kuntilanak Monru (kumpulan cerpen, 2024).
PUISI MINGGU terbit 2 kali sebulan setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 150.000,- dari Honda Banten. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:



