Aku susuri jalanan ibu kota Xinjiang, Urumqy. Hari Minggu, 25 Januari 2026. Tidak begitu ramai. Tapi dinginnya luar biasa. Aku, Jordy-Natasha berbelok di China Post (kantor pos).
Masjid itu sekitar 300 meter lagi. Aku mengejar salat Dzuhur. Sudah kebiasaanku, jika datang ke sebuah kota, diupayakan bisa salat. Kemarin aku salat di masjid Uighur, di kawasan Xinjiang Bazaar International.
Di masjid ini juga sama, diperiksa paspor dan Natasha tidak boleh masuk. Perempuan salatnya di rumah saja.

Masjidnya di lantai 2. Ketika masuk ke masjid, sudah rakaat pertama. Aku lihat ada sepuluh mamum.
Aku sangat bersyukur bisa salat di negara komunis. Ini semakin menguatkan, bahwa ajaran komunis jika dijalankan dengan benar akan membawa kemakmuran bagi rakyatnya. Tidak ada korupsi.
Persoalan keyakinan beragama diserahkan kepada masing-masing orang dan pemerintah yang berkuasa (dari menang pemilu) menyediakan sarana peribadatannya.


Di Urumqy berarti aku sudah salat di 3 masjid; di Bazaar Internasional, di dekat China Pos, dan di kuliner Konsul Rastisi Street.
Tadi sepanjang perjalanan dari hotel ke Stasiun kereta Urumqy, dari jalan tol, aku melihat ada 2 masjid.
Aku jadi ingat kisah si Teteh. Pertama kali ke Beijing ketika mendapatkan beasiswa kuliah Bahasa di Nanjing setahun (2017), liburan puasa dan lebaran tidak pulang.
“Pah, Teteh jadi relawan di masjid ya. Ngajarin Bahasa Inggris dan mengaji ke anak-anak kecil. Dikasih kamar di masjid.”


Bayangkan, si Teteh tidur di masjid selama puasa. Jadi relawan di kegiatan pesantren kilat. Itu bukan di Nyenyore Rumah Dunia, Kota Serang, tapi Di Nanjing China. Si Teteh meyakinkan aku dan ibunya, bahwa segalanya teratur dan aman.
Begitulah….
25 Januari 2026
Gol A Gong
Traveler, Author



