Seorang talent mengaku mengalami pelecehan seksual oleh sosok yang selama ini dikenal sebagai influencer sekaligus pemilik bisnis. Pengakuan itu disampaikan secara terbuka melalui akun X (Twitter) miliknya Sa, @arumanis. Dengan keberaniannya untuk menuliskan pengalaman yang selama ini disimpan dalam diam, langkah tersebut mendapat perhatian publik.
Pengakuan ini menunjukkan bahwa pelecehan seksual kerap bersembunyi di balik relasi kuasa, popularitas, dan kepercayaan publik. Saat satu korban berani bersuara, yang lain akhirnya menyadari untuk berbicara, pengakuan tersebut membuka ruang aman bagi korban lain yang mengalami kasus serupa sehingga kedepannya tidak akan ada lagi korban yang diam.
Namun, keberanian itu tidak sepenuhnya disambut dengan empati. Di ruang komentar, sebagian warganet justru: menjelekkan korban. Mereka mempertanyakan sikap, kedekatan, bahkan keputusan korban untuk berada di sekitar pelaku. Menyalahkan korban hanya memperpanjang luka, sekaligus mengirim pesan berbahaya bagi korban lain: bahwa bersuara masih dianggap lebih salah daripada melakukan kekerasan itu sendiri.
Peristiwa ini terjadi pada bulan Mei 2025 dan korban menulis unggahan di X pada tanggal 8 Februari 2026.


Keberaniannya menulis lebih besar daripada
risiko dicurigai, disalahkan, dan tidak dipercaya
Satu suara yang ia bawa ke publik
Membawa ribuan harapan
bagi siapa pun yang selama ini bersembunyi
Perempuan itu hanya ingin bekerja
waktu ia berikan sepenuh hati
tanpa tahu bahwa batas akan dilanggar
Ia datang untuk memenuhi perannya
Tapi ia luput, kejahatan seringkali menyamar
Sebagai keramahan
Undangan yang dibungkus dengan kalimat santai
Dalam suasana dan ruang aman
Ajakan untuk makan bersama
menjelma pintu menuju trauma.
Rasa lapar yang ia kira wajar
berbuah malapetaka.
Kepolosan yang ia jaga
justru membuatnya tak berdaya
Ia pikir ia akan mendapatkan hidangan
atas kerja kerasnya hari itu
Ia membayangkan semua akan duduk dalam satu ruangan,
menyantap makanan dengan tawa kebersamaan
Namun, orang-orang mulai berpamitan
Yang tersisa hanya satu manusia
satu manusia yang perlahan menjadi iblis kejam
dan satu manusia yang tak pernah tahu
mengapa hari itu ia harus sendirian di dalam
Ruangan yang dipenuhi lampu terang hingga menyilaukan mata,
perlahan terasa berubah.
Ada hawa yang tak biasa,
menutup cahaya dengan bayang tak terlihat.

Rasa takut itu datang
menghentaknya seperti genderang perang
yang dipukul semakin keras di dadanya.
Napasnya menegang
Detik terasa lebih lambat.
Dan suara napasnya menjadi suara paling bising di ruangan
Ia bertanya pada lelaki yang ia kira pemilik kuasa itu,
memastikan ulang dengan suara yang berusaha tenang.
“Hidangannya akan datang, tanpa perlu keluar dan menyantapnya di luar?”
“Pesanan antar akan tiba segera,” jawabnya riang.
Dan jawaban itu tidak jua menenangkannya
Pesanan yang ditunggu tak kunjung tiba
Lelaki itu entah mengapa mendekat.
Tatapannya gelap
Ia melihat ukiran di lengannya,
tato-tato yang dulu mungkin disebut seni,
kini terasa seperti Gambaran menyeramkan
Rasanya seperti diikat.
Tubuhnya tak mampu bergerak, tak mampu lari.
Tangan itu perlahan melanggar batas
merampas ruang yang seharusnya aman.
Ia dipaksa diam.
Dipaksa kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.
Sudut bibirnya disentuh
dengan cara yang tak pernah ia izinkan.
“Tidak… tidak… jangan…”
suaranya pecah di udara,
namun hirap sia-sia.
Seolah telinga itu menolak mendengar,
Seolah telinga lelaki itu telah memilih untuk tuli.
Mungkin bukan telinganya yang tak berfungsi
mungkin hatinya yang telah lama mati.
Perempuan itu mendorong. Mencakar. Memukul.
Namun perlawanannya tak cukup
untuk menyadarkan lelaki yang telah kehilangan nurani.
Semakin ia meronta, semakin ia dipermalukan.
Dirampas segalanya tanpa izin.
Jeritnya pecah,
Namun tak satu pun yang meluluhkan hati yang telah membatu.
Tak ada kata yang mampu merangkum segalanya
hanya trauma yang mengendap dalam tubuhnya.
Dan ketika semuanya usai,
ia tidak hanya membawa luka.
Ia juga membawa beban pertanyaan:
haruskah ia diam?
atau bersuara dan siap dihakimi dunia?
Saat akhirnya ia memilih membuka suara,
yang ia dapat bukan hanya empati,
tetapi juga penghakiman.
Ia sudah memahami
dunia yang kejam memang akan tetap kejam.
Namun diam saja
hanya akan memperpanjang luka.
Diam akan membuat pelaku merasa aman.
Tetap diam adalah hadiah bagi pelaku pelecehan seksual.
Tentang penulis:
Hana adalah penulis yang tertarik pada isu sosial dan psikologis, terutama yang berkaitan dengan perempuan dan generasi Z. Baginya, menulis adalah cara untuk memahami dunia sekaligus menyuarakan hal-hal yang sering terabaikan. Melalui karyanya, ia berharap bisa menghadirkan keberanian bagi pembaca yang pernah merasa sendirian
.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:



