Literacy Journey 12 Negara antiklimaks di Kuala Lumpur. Perang sialan penyebabnya. Apa boleh buat, tetap harus positif thinking.
Saya sudah sering ke Malaysia. Pertama kali masuk lewat Entikong pada 1990. Kemudian masuk lewat Singapura dan Johor. Bahkan sudah mengelilingi Malaysia. Saya paling suka nongkrong di rumah makannya; nasi biryani dan teh tarik. Kucing di Serawak jadi kota favoritku selain Georgetown.


Kali ini menutup Literacy Journey, sambil menunggu 3 ransel Eiger dikirim Azerbaijan Airline dari Baku ke Batik Air Malaysia di Kuala Lumpur, saya jalan kaki saja sesukanya sambil menunggu waktu berbuka.
Saya mulai dari Little India ke KL Sentral. Terus naik kereta ke Chow Kit. Mulailah saya jalan kaki menyusuri pertokoan, terus ke Lorong Haji Taib. Ada rasa aman ketika jalan kaki. Perokoan dan mural di dinding jadi daya tarik sehingga membuat saya merasa nyaman.
Di KL ini mudah membaca arah mata angin. Hapalkan saja letak kita menginsp. Kemudian saya melihat ke langit. Tampak KL Tower dan Gedung Kembar Petronas. Itu sebagai penanda lokasi.


Tibalah saya di Kampung Bahroe – street food. Ada Bazaar Ramadan. Segala jenis makanan terhidang di sini. Orang-orang berjubel menyusuri jalanan panjang. Tentu air tebu dingin dan briyani plus daging kambing kesukaan jadi menu berbuka. Tadinya mau nyari nasi Padang, tapi belum ketemu.
9 Maret 2026
Gol A Gong
Traveler, Author




