Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati: Perjalanan Ale Menemukan Arti Hidup

Oleh Khairu Roja – Relawan Rumah Dunia

Sehabis salat Jumat di Masjid Al Barokah, Bang Naufal mengumpulkan para relawan Rumah Dunia, yaitu saya, Kiki, dan Adam. Kami diminta berkumpul di pendopo Rumah Dunia untuk berdiskusi mengenai program kegiatan sehari-hari sebagai relawan.

Setelah berkumpul, Bang Naufal menyampaikan bahwa setiap kegiatan yang diselenggarakan di Rumah Dunia harus ditulis. Membaca buku lalu diresensi. Dalam hal apa pun, relawan Rumah Dunia harus terbiasa menulis.

Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna menurut saya merupakan buku yang sangat layak dibaca karena mengangkat isu kesehatan mental, kesepian, dan pencarian makna hidup.

Novel yang terbit pada tahun 2025 ini mendorong pembaca agar tidak terlalu cepat mengambil keputusan, terutama dalam keadaan putus asa. Bagaimanapun, keputusan terbaik harus lahir dari pikiran yang sehat dan hati yang tenang.

Dalam novel ini terdapat banyak tokoh yang memiliki peran penting, seperti Ale, sosok pemuda yang hampir kehilangan hidupnya karena kepasrahan; Murad, sosok yang membawa Ale ke dalam dunia gelap; serta Ipul, seorang office boy yang rela berkorban demi menyelamatkan Ale dari Murad, sekaligus orang pertama yang menyadarkan Ale dari keinginan untuk bunuh diri.

Ada juga Ibu Murni, seorang wanita tua yang ditinggalkan anaknya karena sikap egois dan kebiasaannya membanding-bandingkan anak. Pak Uju adalah penjual layangan yang diselamatkan Ale dari ancaman Murad. Serta Pak Jipren, seorang tunanetra yang memberikan sudut pandang baru kepada Ale tentang kehidupan.

Dari perjalanan Ale dalam cerita ini, saya paling tertarik pada saat Ale bertemu Pak Ipul. Saat itu, Ale bertemu Pak Ipul di sebuah bar, lalu Pak Ipul membawanya pergi dari lingkungan buruk Murad. Di sanalah Ale mulai disadarkan bahwa bunuh diri bukanlah jalan keluar.

Ale juga menyadari bahwa orang-orang yang selama ini ia anggap tidak peduli ternyata mencari keberadaannya saat ia menghilang, termasuk penjual warung makan di kantornya.

Saat ulang tahunnya, Ale ingin merayakannya bersama teman-teman kantor, tetapi mereka terlihat mengabaikannya. Karena kecewa, Ale memberikan kue ulang tahunnya kepada Pak Ipul, office boy di kantornya.

Ternyata, pada hari itu juga anak Pak Ipul sedang berulang tahun. Kue tersebut kemudian diberikan kepada anaknya. Dari situlah Pak Ipul merasa memiliki utang budi kepada Ale dan berusaha membantunya agar terhindar dari tawaran pekerjaan Murad yang keji. Bahkan, Pak Ipul rela menerima pukulan dari Murad demi melindungi Ale.

Dari buku ini, saya belajar bahwa ketika kita berada dalam keadaan putus asa, jangan memendam semuanya sendirian. Carilah solusi, mendekatlah kepada Sang Pencipta, dan jangan menyerah pada keadaan.

Jika dipikirkan lebih dalam, sikap seperti ini juga mencerminkan ajaran tasawuf tentang muhasabah diri, yaitu kemampuan untuk lebih fokus melihat kekurangan diri sendiri daripada sibuk memikirkan pendapat orang lain. Dengan begitu, Ale tidak terus-menerus teringat pada hinaan orang lain, melainkan menjadikannya sebagai bahan introspeksi diri.

Pelajaran terbesar yang saya ambil dari buku ini terdapat dalam perkataan Pak Uju. Semakin kuat benangnya ditarik, maka semakin tinggi layangan itu terbang karena melawan angin. Namun, jika benangnya dilepaskan begitu saja, maka layangan itu akan jatuh.

Begitu juga dengan hidup, tantangan bukan untuk dihindari, tetapi untuk dihadapi agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih tinggi nilainya.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==