Oleh Khalidah Abdullah
Puisi ini terinspirasi dari isu Ikan Sapu-sapu yang merajah kali ciliwung hingga menjadi permasalahan lingkungan di DKI Jakarta. Bermula dari youtuber Arief Kamarudin yang rutin menangkap ikan beracun tersebut dalam kontennya 5 tahun ke terakhir, lalu mematahkan leher dan menguburnya demi kesehatan ekosistem sungai dan lingkungan. Ikan tersebut memiliki zat beracun dan memangsa ikan kecil yang habitat alaminya di sungai tersebut.
Akan tetapi ini tidak sepenuhnya salah si “Sapu-Sapu”, terdapat pola sikap masyarakat yang tidak mencerminkan sikap berpendidikan dan beradab. Isu “sepele” ini menjadi hal reflektif sehingga mendorong lahirnya puisi ini:

Link Berita: https://www.babelinsight.id/populasi-sapu-sapu-pencemaran-ciliwung

I. Pesta Plastik di Kolong Jembatan
Di bawah beton-beton angkuh yang membelah Jakarta,
Udara berbau besi dan amis yang tak pernah tuntas.
Sahar duduk di tepi beton yang lumutan,
Menatap riak yang lebih mirip oli daripada air.
Di sana, di kedalaman yang hanya sebatas mata kaki,
Sesuatu bergerak. Hitam. Kaku. Berduri.
Zirah yang tak mempan oleh tajamnya pecahan beling
Atau pekatnya deterjen yang tumpah dari pipa-pipa liar.
Ikan itu meliuk pelan, seperti kapal selam kecil yang melupakan jalan pulang.
Namanya indah di buku biologi, namun di sini ia hanya “Sapu-Sapu”.
Ia tak butuh beningnya air pegunungan,
Ia tak butuh oksigen yang diperebutkan.
Baginya, limbah adalah kawan, dan sisa-sisa buangan adalah perjamuan.
Ia adalah potret ketahanan yang mengerikan,
Di mana kehidupan dipaksa berdamai dengan racun yang perlahan membunuh.

II. Pesan dari Kakek Tua
“Jangan kau sentuh, apalagi kau bawa ke meja makan,”
Suara Kakek menggantung di antara deru knalpot motor.
Tangannya yang gemetar menunjuk pada barisan ikan yang menganga di lumpur.
Sahar teringat cerita kakeknya tentang sungai yang dulu adalah cermin,
Tempat udang galah bersembunyi di balik akar pohon rambung,
Dan ikan tawes berkilauan seperti perak saat fajar tiba.
“Dulu, sungai ini memberi hidup, Sahar. Sekarang, ia hanya menampung maut,”
Lanjut kakek dengan mata yang menyimpan mendung.
Ikan sapu-sapu itu, meski tampak tangguh, adalah pembawa kabar duka.
Kulitnya menyerap timbal, dagingnya menyimpan merkuri,
Ia menjadi saksi bisu betapa manusia telah kalah oleh egonya sendiri.
Si zirah hitam bukan hanya penghuni, tapi penguasa yang terpaksa lahir
Dari rahim sungai yang sudah kehilangan kehormatannya.
III. Dominasi yang Sunyi
Sahar melempar kerikil, melihat gerombolan hitam itu berpencar sesaat.
Mereka adalah tentara invasif yang tak pernah diundang.
Ikan-ikan lokal—nila, mujair, hingga tawes—kini tinggal nama di dongeng kakek.
Sapu-sapu memakan telur-telur mereka, mendominasi lubuk-lubuk gelap,
Dan memenangkan peperangan tanpa perlu meletuskan senjata.
Di dalam perut ikan itu, tersimpan peta bencana.
Setiap inci ususnya berisi mikroplastik yang kita buang kemarin pagi.
Ia adalah cermin buruk rupa bagi warga kota;
Bahwa apa yang kita buang tak pernah benar-benar hilang,
Ia hanya berubah bentuk, tumbuh menjadi duri di punggung ikan,
Lalu menunggu waktu untuk kembali ke piring kita dalam bentuk racun diam-diam.

IV. Menanti Fajar yang Tak Lagi Keruh
Sahar berdiri, membersihkan celananya dari debu jalanan.
Ikan itu masih di sana, menempel di dinding sungai yang menghitam.
Ia seolah bertanya: Sampai kapan kau jadikan aku tempat sampahmu?
Ikan sapu-sapu adalah pengingat yang keras kepala,
Bahwa alam punya cara sendiri untuk bertahan, meski harus menjadi buruk rupa.
Jakarta terus melaju, melupakan apa yang ada di bawah kakinya.
Namun Sahar berjanji, suatu hari nanti,
Ia tak ingin anaknya hanya melihat “sapu-sapu” sebagai satu-satunya penghuni air.
Ia ingin perak tawes kembali, ia ingin jernih itu pulang.
Sebelum seluruh nadi kota ini tersumbat oleh zirah hitam
Dan kita semua mati kehausan di tepi sungai yang berlimpah air,
Namun tak setetes pun yang bisa membasuh luka di kerongkongan.
Link sumber puisi esai:
Youtube channel SatuPersen “Ikan Aneh ini Bikin Gubernur Jakarta Panik”: https://www.youtube.com/watch?v=fiFTnNWWkA8&pp=ygUZaWthbiBzYXB1IHNhcHUgc2F0dXBlcnNlbg%3D%3D
Youtube channel Arief Kamarudin:
https://www.youtube.com/@ariefkamarudin
Tentang Penulis:

Khalidah Abdullah pemilik blog www.khalidaoway.blogspot.com yang tengah berusaha merespon isu sosial dan lingkungan dengan kemampuan menulisnya yang ditekuni sepenuh hati. Baginya, isu sosial bukan hanya yang “bold” sebagaimana pemerkosaan, bullying, dan sebagainya. Isu “Ikan Sapu-Sapu” yang diangkat olehnya ini meski nampak sepele, namun ia memiliki indikasi kuat terhadap nasib lingkungan di tanah air. Hal itu sama pentingnya dengan isu kemelencengan adab yang hingga kini tak pernah habis dibahas.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:



