Puisi Esai Gen Z: Panorama Berbisik Karya Natasha Harris

Puisi Esai Gen Z Karya Natasha Harris – Mahasiswi Pendisikan Bahasa Korea UPI Bandung

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Yati (41), warga Kelurahan Panorama, Kota Bengkulu, Bengkulu, tewas di tangan anak kandungnya. Hingga saat ini, polisi masih mendalami kondisi pelaku berinisial N (18). Dia diduga mengalami gangguan kejiwaan. Tragedi tersebut terjadi ketika korban sedang shalat, Sabtu (2/8/2025) siang. Saat itu, pelaku tiba-tiba datang dan memukul ibunya dengan batu ulekan. Tak hanya itu, N juga menusuk korban dengan senjata tajam.

oOo


Di Kelurahan Panorama, Kota Bengkulu, cinta pernah bersemi
ini cerita bermula, siang itu mengalir seperti biasa.¹
Matahari terik menimpa atap rumah, panas terasa,
angin malas masuk dari celah jendela yang tertutup,
dan seorang ibu bernama Yati, 41 tahun,
bersimpuh di atas sajadahnya.²
Ayat-ayat suci dari kita yang ia baca meluncur
mengisi ruang tamu sederhana.

Dari pintu rumah, tak terdengar ucap salam
terdengar langkah seorang anak, darahnya sendiri
tatapan mata kosong, wajah pucat mayat.
N, 18 tahun, kabar gembira baru pulang
dari rumah sakit jiwa beberapa hari lalu.³
Ia membawa cerita aneh juga bisikan-bisikan
yang bersembunyi di lorong pikirannya.

“Bunuh dia, bunuh! Walaupun dia ibumu!”
bisikan itu tak berbibir, tak bertubuh, seperti angin.
Tangannya meraih batu ulekan, tidak bergetar.
Doa ibunya belum rampung, tak ada peluk rindu,
apalagi cium pipi saat hantaman pertama di kepalanya.
Lalu pisau dingin menutup napas terakhir Yati.⁴

Sajadah lusuh yang dulu menjadi tempat sujud
kini menyerap darah, banjir amis tanpa air mata.
merekam takdir yang pahit, tentang malin kundang terulang.

Setelah itu, N tidak lari. Menatap tbuh ibunya.
Ia berjalan ke rumah tetangga, mengabarkan duka,
mengetuk pintu, berlumuran darah, berkata pelan:
“Aku baru saja membunuh ibuku.”

Kata-kata itu seperti batu meteor yang jatuh
di sumur hati siapa pun yang mendengarnya.
Tetangga berlari, menemukan Yati, tetangga baik hati,
terlentang, dingin, di lantai ruang tamu, berkubang darah.

Polisi datang, memasang garis kuning saat air mata tumpah,
mengumpulkan barang bukti anak malam dan ibu tersayang.
Batu ulekan, pisau, sajadah, do’a-do’a terbuang,
dan semua yang tersisa dari siang itu.⁶

N dibawa ke kantor, terhuyung tanpa rasa benci
menjadi tersangka, si anak malang tak memiliki arah
menjadi berita di mana-mana tidak dengan amukan massa.

Di ruang penyidik, ia bercerita lagi tanpa dosa:
“Ada suara yang memerintahku. Itu harus dilaksanakan. Itu tugas suci.”
Kita pun bertanya dengagn bimbang tanpa ilmu pengetahuan:
Apakah suara itu lahir dari penyakit, atau dari sepi yang tak pernah diobati?
Apakah ini hanya perkara medis, atau cermin retak dari rumah
yang kehilangan harapan masa depan?

Para tetangga tahu, N pernah dirawat di rumah sakit jiwa,
tahu bahwa pulangnya tidak disertai kepastian sembuh.⁸
Tahu bahwa ia tinggal satu rumah dengan ibunya
tanpa pengawasan medis yang memadai.
Tapi siapa yang berani campur tangan
di rumah orang lain,
hingga tragedi ini datang seperti badai di siang bolong?

Kini, rumah Yati sunyi, haya lolong alam dan bisik-bisik tetangga
Doa-doanya terputus, kembali pulang ke tanah kubur
tidak lagi ada panci yang ia aduk di sore hari, terdengar merdu
tidak ada sapaan dari teras dengan bunyi gelas, piring dan sendok.
Yang tersisa hanyalah bekas garis polisi dan dinding yang masih menyimpan
gema hantaman dan teriakan kesakitan penuh rasa sayang ibu kepada anaknya.

Kita bicara soal pembunuhan, tapi jarang bicara soal mengapa,
ada orang dengan gangguan jiwa bisa pulang ke rumah dengan bisikan,
tanpa pengawasan yang layak, menganggap seisi rumah harus dikorbankan.
Kita menyalahkan anak, tapi melupakan bahwa ia juga korban dari penyakit
yang membungkam logika dan sistem yang membiarkan bisikan itu menang.

Di Panorama, Bengkulu, kota cinta Bung Karno dan Fatmawati,
nama seorang ibu menjadi berita duka dan nama anak menjadi berkas perkara.
Di antara keduanya, ada bisikan yang tak pernah diadili.

oOo

Catatan Kaki Fakta
1.Peristiwa terjadi di Kelurahan Panorama, Kota Bengkulu, Bengkulu.
2.Korban bernama Yati (41).
3.Pelaku berinisial N (18) pernah dirawat di rumah sakit jiwa dan baru pulang beberapa hari sebelumnya.
4.Tragedi terjadi saat korban sedang shalat, pelaku memukul dengan batu ulekan dan menusuk dengan senjata tajam.
5.Setelah membunuh, pelaku memberi tahu tetangga bahwa ia baru saja membunuh ibunya.
6.Polisi mengumpulkan barang bukti, memasang garis polisi, dan memeriksa sejumlah saksi.
7.Pelaku mengaku mendapat bisikan untuk membunuh ibunya.
8.Informasi dari tetangga menyebutkan riwayat gangguan jiwa pelaku.

Link:

https://www.kompas.id/artikel/anak-bunuh-ibu-kandung-di-bengkulu-polisi-dalami-kejiwaan-pelaku

oOo

TENTANG PENULIS: Natasha Haris mahawiswi Pendidikan Bahasa Korea, semester 5, UPI Bandung. Senang traveling, penyuka drakor. Cita-citanya pingin kuliah beasiswa di Korea.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen Baru ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Bagaimana kalau lingkungan, politik, atau kritik sosial ke penguasa? Boleh saja asalkan ada fakta dan sertakan link beritanya. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Baru. Ada honorarium Rp 300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==