Puisi esai ini berpijak pada kasus nyata yang viral di Buleleng, Bali, pada awal Februari 2026. Seorang perempuan muda yang dalam pemberitaan disebut dengan nama samaran “Feby” mengaku hamil sekitar enam belas minggu dari hubungan dengan pacarnya yang masih berstatus siswa kelas XII di SMKN 2 Singaraja.
Unggahan itu kemudian menyingkap konflik keluarga dan tekanan psikologis berat yang dialami korban. Polres Buleleng turun tangan tanpa menunggu laporan resmi karena keselamatan ibu dan bayi dalam kandungan menjadi hal yang mendesak. Belakangan, kedua keluarga disebut telah bermediasi dan merencanakan pernikahan bagi pasangan tersebut.


I
Setiap pagi, perempuan-perempuan menaruh canang di depan pintu,
sekuntum kamboja, sebutir beras, asap dupa yang naik pelan,
persembahan kecil untuk yang tak kasat mata,
permohonan restu sebelum dunia dimulai.
Feby juga menghitung hari seperti itu—
bukan dengan janur dan bunga,
tapi dengan sesuatu yang diam-diam tumbuh
di altar tubuhnya sendiri, persembahan
yang tak pernah ia susun, tak pernah ia niatkan¹.
II
Enam belas minggu. Bukan wuku, bukan pawukon,
tapi kalender darurat yang ia hafal di luar kepala—
dihitung bukan menuju odalan,
melainkan menuju hari ketika rahasia
tak lagi muat disembunyikan di balik seragam.
Kekasihnya masih anak SMK kelas dua belas²,
masih menghafal rumus untuk ujian,
belum sempat menghafal cara jadi ayah
sebelum sempat lulus jadi murid.
Dua remaja yang belum selesai tumbuh,
diminta dewasa dalam semalam,
seperti janur dipaksa jadi penjor
sebelum sempat kering oleh angin.

III
Lalu layar-layar kecil menyala serentak,
membakar seperti api yang mestinya
untuk ogoh-ogoh, bukan untuk manusia.
Setiap jempol yang menekan bagikan
tak pernah bertanya bagaimana kabar
kepala yang penuh niat mengakhiri³,
bagaimana kabar tangan yang gemetar
mencari jalan paling sunyi untuk pergi.
IV
Polisi datang bukan karena aduan,
tapi karena dua napas dipertaruhkan sekaligus—
satu yang sudah lelah menahan,
satu yang belum sempat mencicip udara⁴.
Kepala sekolah baru tahu dari unggahan.
Guru-guru saling pandang, menyimpan
pertanyaan yang datang terlambat:
di banjar mana pelajaran tentang tubuh diajarkan,
di ruang kelas mana batas itu dijelaskan?
V
Dua keluarga akhirnya duduk semeja,
mencari hari baik dalam kalender,
bukan untuk odalan, tapi untuk pernikahan
yang lahir dari keharusan, bukan kesiapan⁵.
Feby akan jadi istri sebelum jadi sarjana.
Kekasihnya jadi ayah sebelum jadi laki-laki dewasa.
Dan yang belum lahir itu
akan mewarisi cerita yang tak pernah ia pilih,
seperti canang yang dihaturkan
tanpa sempat ditanya, mau atau tidak.
VI
Bukan salah cinta yang datang terlalu dini.
Salah kita, yang membiarkan mereka
belajar tentang tubuh dari layar,
bukan dari pangkuan, bukan dari meja makan⁶.
Feby bukan aib yang harus dibakar.
Ia altar yang lupa kita jaga,
canang yang jatuh sebelum sempat kita susun,
persembahan yang seharusnya
menjadi tanggung jawab kita bersama.
Catatan Kaki
Kondisi psikologis korban dilaporkan tertekan hingga sempat muncul niat mengakhiri hidup. https://rri.co.id/singaraja/kriminalitas/2155220/polres-buleleng-dalami-kasus-kehamilan-remaja-viral
Polres Buleleng menyelidiki tanpa menunggu laporan resmi demi keselamatan ibu dan janin. https://radarbuleleng.jawapos.com/update-buleleng/2602030007/kasus-kehamilan-di-luar-nikah-viral-polres-buleleng-turun-tangan-lakukan-penyelidikan
Data Diri Penulis

Yesrun Eka Setyobudi adalah seorang penulis lepas, pekerja kreatif, dan mahasiswa sejarah Universitas Jember yang memiliki dedikasi tinggi terhadap literasi, riset, serta pengembangan masyarakat. Sebagai talenta muda yang produktif, ia telah membuktikan kompetensinya dengan meraih lebih dari 15 penghargaan tingkat nasional sepanjang periode 2024–2025. Beberapa prestasi bergengsinya antara lain adalah Juara 1 LKTI KEMENPORA 2024 serta Juara 1 Climate Impact Innovation Challenge (CIIC) 2025 Article Competition. Selain berprestasi secara akademik, Yesrun juga memiliki pengalaman kepemimpinan yang solid di BEM FKIP UNEJ dan Komunitas Indonesia Pencerah. Dengan kombinasi kemampuan intelektual, kreativitas konten, dan disiplin kerja di industri F&B, ia siap memberikan kontribusi strategis di berbagai bidang profesional.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:



