Puisi Esai Gen Z: Suara yang Dikubur Karya Rahma Suryani

Jogja – Muncul cerita ada anak ketua partai politik (parpol) terlibat perundungan atau bullying di SMA Binus, Simprug, Jakarta Selatan (Jaksel). Kapolres Metro Jaksel Kombes Ade Rahmat Idnal buka suara.
Dilansir detikNews, Ade mengatakan pihaknya belum menemukan data terkait hal tersebut. Hal itu disampaikan Ade dalam audiensi kasus dugaan bullying SMA Binus Simprug bersama Komisi III DPR di gedung MPR/DPR/DPD RI, Senayan, Jakarta, Selasa (17/9/2024).

oOo

Di halaman sekolah megah,
dengan tembok tinggi, cat mengilap,
ada kisah yang tak pernah masuk berita,
kisah luka yang ditorehkan
bukan oleh orang asing,
melainkan oleh mereka yang merasa
berhak menginjak,
berhak menindas,
berhak menjadikan orang lain bahan tertawaan,
hanya karena nama belakang mereka
bergema di kursi kekuasaan.

Mereka disebut anak pejabat,
berjalan dengan sepatu mahal,
tertawa dengan suara lantang,
seakan dunia hanya panggung kecil
untuk sandiwara mereka.
Dan aku—
hanya bayangan yang berdiri kaku,
korban yang tak punya suara,
karena setiap kali aku mencoba melawan,
selalu ada dinding kekuatan
yang tak terlihat,
tapi nyata menutup mulutku.

Mereka menertawakanku di kelas,
menyembunyikan bukuku,
menuliskan kata-kata kotor di mejaku,
mendorongku di lorong,
menyebutku “sampah”,
seakan-akan martabatku
bisa dibuang begitu saja.
Dan semua orang diam,
karena mereka tahu,
jika berani melawan,
akan ada konsekuensi yang datang
dari tangan berkuasa.

Guru-guru menunduk,
seperti patung tanpa roh,
takut kehilangan pekerjaan,
takut surat perintah turun dari meja tinggi.
Teman-teman menjauh,
takut ikut terseret,
takut nama mereka dicatat
sebagai musuh anak pejabat.
Aku sendirian—
terperangkap dalam ruang kelas penuh wajah,
tapi terasa kosong
karena tidak ada yang melihatku manusia.

Apa salahku?
Hanya karena aku lahir
dari keluarga sederhana?
Hanya karena seragamku lusuh
dan sepatuku tak bersuara?
Hanya karena ayahku bukan pejabat
dan ibuku bukan penguasa?
Apakah itu alasan
aku dianggap pantas diinjak?
Apakah keadilan sudah lama mati
di bawah meja makan kekuasaan?

Aku sering pulang
dengan luka yang tak terlihat.
Bukan darah,
bukan lebam,
tapi hati yang robek,
jiwa yang remuk,

percaya diri yang hancur.
Aku menatap cermin,
melihat wajahku sendiri,
bertanya lirih:
“Apakah aku benar-benar seburuk
yang mereka katakan?”

Anak pejabat itu tertawa,
suara tawanya menggelegar,
ditopang oleh nama besar orang tuanya.
Setiap tindakannya seolah kebal,
seolah hukum hanyalah lelucon,
seolah dunia hanyalah miliknya.
Dan aku—
korban yang terbungkam,
hanya bisa menuliskan kesedihan
di halaman buku catatan,
berharap tinta bisa menyembuhkan luka
yang bahkan dokter pun tak bisa sentuh.

Aku ingin berteriak,
ingin memberitahu dunia
bahwa bullying membunuh
lebih cepat dari racun,
bahwa kata-kata bisa jadi pisau
yang menusuk lebih dalam dari belati.
Tapi suaraku diredam,
dikubur di bawah tumpukan laporan yang tak pernah dibaca,
dihapus oleh tangan-tangan
yang sibuk menjaga citra keluarga.

Namun, meski aku jatuh,
meski aku diinjak,
meski aku ditertawakan,
aku masih bernapas.
Dan napas ini adalah bukti
bahwa aku belum kalah.
Aku menulis puisi ini
sebagai perlawanan,
meski mungkin tidak akan terbaca
oleh mereka yang duduk di singgasana.
Tapi suatu hari,

aku percaya,
kebenaran akan menemukan jalannya,
dan suara yang terkubur
akan bangkit,
mengguncang dinding kekuasaan
yang dibangun dengan keangkuhan.

Aku hanyalah seorang korban,
tapi aku bukan tanpa jiwa.
Mereka bisa merampas tawaku,
merampas teman-temanku,
bahkan merampas keberanianku sesaat,
tapi mereka tak akan pernah bisa
merampas mimpiku.
Karena mimpi tak bisa dibeli
dengan uang haram,
tak bisa dilindungi oleh jabatan,
tak bisa disembunyikan di balik senyum palsu.

Anak pejabat boleh menindas,
tapi aku tahu,
sejarah tidak pernah berpihak
pada penindas.
Sejarah akan menulis namaku
sebagai korban yang bertahan,
sementara mereka akan tertulis
sebagai bayang-bayang hitam
yang akhirnya terkikis
oleh cahaya kebenaran.

oOo

Link:

https://www.detik.com/jogja/berita/d-7544925/temuan-polisi-soal-anak-ketua-parpol-disebut-terlibat-bullying-sma-binus-jaksel

oOo

TENTANG PENULIS: Rahma Suryani lahir dan dibesarkan di Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia pernah menjadi peserta Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2022 dan berhasil lolos tahap pertama di tingkat FKIP Universitas Siliwangi Tasikmalaya, yang diselenggarakan oleh Kemendikbudristek. Ketertarikannya pada dunia literasi membawanya bergabung dalam kelas menulis novel bersama Robi Afrizan. Dari sana, Rahma terus mengasah kemampuannya hingga terlibat dalam project menulis @jagomenulis Indonesia. Baginya, menulis bukan sekadar hobi, melainkan jalan untuk berbagi cerita, perasaan, dan pengalaman hidup dengan pembaca.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen Baru ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Bagaimana kalau lingkungan, politik, atau kritik sosial ke penguasa? Boleh saja asalkan ada fakta dan sertakan link beritanya. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Baru. Ada honorarium Rp 300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==