Puisi Esai tentang Guru Honorer dan Keadilan yang Tertunda
Oleh: Oliviana Angelicha Effendy
Malam itu, linimasa dipenuhi tangis yang bahkan tak pernah diajarkan di ruang kelas tangis yang lahir bukan dari pelajaran, melainkan dari kenyataan yang terlalu keras untuk dieja. Seorang guru honorer berbaju ungu menyeka air mata di depan kamera, bukan sedang mencari simpati, melainkan sedang kehabisan ruang untuk menyembunyikan luka.
Dengan suara yang bergetar ia sempat berkata pelan, seolah berbicara lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada dunia: “Saya hanya ingin tetap mengajar… tapi sampai kapan saya harus kuat sendirian?” Kalimat sederhana itu runtuh tanpa retorika, namun justru di sanalah letak kepedihannya ketika harapan paling dasar terdengar seperti permohonan yang terlalu jauh.
Di balik rekaman singkat yang berputar tanpa henti, tersimpan kisah panjang tentang pengabdian yang dibayar dengan penantian; tentang jam-jam mengajar yang tak pernah benar-benar dihitung sebagai kehidupan; tentang kesetiaan pada profesi yang justru sering dibiarkan berjalan sendirian. Air mata itu tidak jatuh dalam satu malam.
Ia adalah endapan dari hari-hari panjang ketika papan tulis lebih setia daripada kebijakan, ketika semangat mendidik harus berhadapan dengan gaji yang tak kunjung pasti, dan ketika kata pengabdian diam-diam dipakai untuk menutupi ketidakadilan.


-o0o-
Video itu ditonton ratusan ribu kali,
menyebar seperti kabar duka
yang lama ditunda untuk diakui.
Dengan suara bergetar ia berkata,
“Izin saya luapkan saja, ternyata gaji driver MBG itu jauh lebih layak daripada teman-teman yang mencerdaskan anak bangsa. Miris hati saya.”
Kalimat itu sederhana,
Tetapi kesederhanaan kadang
Adalah bentuk paling sunyi dari luka.
Di negeri yang gemar menyebut
Pendidikan sebagai cahaya,
Ternyata masih ada penjaga cahaya
Yang hidup dalam redup
Tanpa kepastian.
Pagi tetap datang seperti biasa.
Bel sekolah berbunyi
Kapur menari di papan tulis
Seolah tak pernah tahu
“Bu, kenapa Ibu jadi guru?”
Tanya seorang murid
Dengan mata yang belum mengenal kecewa.
Guru itu tersenyum pelan.
“Karena ada masa depan
Yang harus dijaga.”
Ia tidak bercerita
Tentang slip gaji yang tipis,
Tentang ratusan ribu rupiah
Yang harus dibagi
Menjadi kebutuhan, harapan,
Dan kesabaran yang panjang.
Di tempat lain,
Pekerjaan baru lahir dari kebijakan
Memberi makan anak-anak sekolah,
Membuka penghasilan jutaan rupiah
Bagi mereka yang terlibat di dalamnya.
Tak ada yang salah
Dengan mengenyangkan perut.
Tak ada yang keliru
Dengan membuka kesempatan kerja.
Yang terasa ganjil
Hanyalah satu pertanyaan sunyi:
Mengapa tangan
Yang menyiapkan masa depan
Justru paling lama
Menunggu kelayakan?

Di ruang guru
Percakapan berlangsung lirih,
Seperti takut didengar kenyataan.
“Masih bertahan?”
Tanya seseorang.
Guru itu mengangguk pelan.
“Kalau mungkin ada yang punya penghasilan lain,
Ya Alhamdulillah…
Tapi bagaimana dengan kami
Yang hanya bergantung dari sini?”
Tak ada nada marah.
Sebab yang menyakitkan
Bukan profesi orang lain,
Melainkan rasa dilupakan
Di profesi sendiri.
Namun ia tetap berkata,
“Kami bangga pakai seragam ini. Kami bangga, meskipun di luar banyak yang mencibir.”
Di luar sana
Orang-orang memperdebatkan angka,
Membandingkan rasionalitas,
Menghitung kebijakan
Dengan bahasa statistik.
Tetapi di dalam kelas,
Yang berdiri bukan angka—
Melainkan manusia
Yang memilih tetap mengajar
Meski berkali-kali merasa
Tidak dipilih.
Seragam sederhana itu
Tetap dikenakan setiap pagi.
Bukan karena sejahtera,
Melainkan karena menyerah
Bukan pelajaran
Yang ingin diwariskan
Kepada murid-muridnya.
Ia mengajarkan mimpi
Dengan perut yang kadang sunyi.
Mengajarkan harapan
Dengan masa depan pribadi
Yang belum selesai.

Namun kapur tetap menulis.
Nama-nama tetap dipanggil.
Doa tetap diselipkan diam-diam
Di antara pelajaran hari itu.
Barangkali suatu hari nanti
Anak-anak itu akan tumbuh besar—
Menjadi pemimpin, pembuat keputusan,
Atau sekadar manusia
Yang mengerti arti terima kasih.
Barangkali mereka akan ingat
Bahwa pernah ada guru
Yang mengajar tanpa cukup dibayar,
Tetapi tetap percaya
Masa depan mereka berharga.
Dan ketika hari itu datang,
Mungkin bangsa ini akhirnya mengerti:
Pendidikan tidak runtuh
Karena kekurangan gedung,
Melainkan karena terlalu lama
Membiarkan gurunya bertahan
Sendirian.
Seragam itu masih dipakai.
Kapur itu masih digenggam.
Papan tulis itu masih menunggu
huruf-huruf tentang esok.
Sebab bagi seorang guru,
mengajar bukan sekadar pekerjaan
melainkan cara terakhir
menjaga harapan
agar tidak benar-benar padam.
Dan selama masih ada
Satu saja guru yang bertahan,
Masa depan negeri ini
Sebenarnya belum kalah.
Biodata penulis

Oliviana Angelicha Effendy mahasiswa PG Paud Unisri solo semester 6. Mengikuti LPM Apresiasi sebagai pimpinan umum dan menyukai dunia tulisan, sastra, Jurnalistik.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:



