Menyelam di Kompleks Pemandian Raja Tirto Marto Pengging

Oleh: Aprilia Rizki Arifah

Seorang sahabat menyarankan saya untuk menyelami kompleks umbul yang menjadi tempat pemandian raja. Dia sangat antusias menceritakan Kompleks Pemandian Tirto Marto Pengging yang ada di Dusun Umbulsari, Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah. Cerita sahabat saya membawa langkah kaki saya ke sana. Ternyata letaknya cukup mudah dijangkau karena berada di tepi jalan. Dari luar tidak tampak begitu luas, tetapi jika sudah masuk ke dalam ternyata area umbul ini sangat luas.  

Saya pun membayar tiket masuk sebelum memarkirkan kendaraan. Hal yang membuat tertarik untuk mengunjungi umbul ini ialah ada 3 umbul sekaligus, yaitu Umbul Temanten, Umbul Dudo, dan Umbul Ngabean. Masing-masing kolam juga memiliki keunikan tersendiri, dari bentuk dan ceritanya. Jarak antarkolam tidak terlalu jauh, apalagi berjalan di bawah rindangnya pepohonan membuat suasana semakin syahdu. Kolam yang pertama saya jelajahi, yaitu Umbul Temanten. Begini ceritanya. 

Umbul Temanten
Umbul Temanten. Foto: Aprilia Rizki Arifah

Umbul Teman menjadi umbul yang paling dekat dengan pintu masuk. Bangunan dengan nuansa putih dan biru kental dengan nuansa Keraton Surakarta sudah terlihat pada bagian depan. Ketika berada di dalam bangunan tersebut saya langsung dihadapkan pada hamparan kolam yang luas. Jernihnya air membuat orang-orang betah berenang di sana. Di sisi kanan dan kiri diisi dengan kamar mandi. Sementara, di sebrang kolam juga terdapat bangunan yang sama seperti saat masuk. Fungsinya juga sama, yaitu untuk masuk ke Umbul Temanten.

Umbul Temanten. Foto: Aprilia Rizki Arifah

Konon, asal-mula Umbul Temanten ini berkaitan dengan kisah putri Prabu Brawijaya, Raja Majapahit, yang memiliki penyakit sehingga membuat tubuhnya bau amis. Sang raja kemudian mengadakan sayembara bagi siapapun yang bisa menyembuhkan putrinya. Apabila seorang perempuan maka akan dijadikan saudara, jika laki-laki akan dijadikan suami putrinya. Hingga muncullah seorang pendeta tua yang berhasil menyembuhkan putrinya.

Sang Raja menyampaikan hal tersebut pada putrinya, walaupun terkejut ia tetap menikah dengan pendeta tua. Setelah menikah, sang putri pergi dari istana, Prabu Brawijaya mengutus prajurit untuk mengikutinya. Hingga sampailah di sebuah umbul karena kehausan dan kelelahan ia pun mencebur ke dalam kolam.

Akan tetapi, sang putri tidak muncul lagi. Mendengar berita tersebut, Prabu Brawijaya meminta menantunya untuk mencari putrinya. Pendeta tua itu juga menceburkan diri ke kolam. Sayangnya, pendeta tua juga tidak muncul kembali ke permukaan. Prabu Brawijaya kemudian membangun kolam mata air dengan benteng yang melingkar. Umbul tersebut kemudian dinamakan sebagai Umbul Temanten atau pengantin. 

Air di Umbul Temanten. Foto: Aprilia Rizki Arifah
Umbul Dudo

Umbul Dudo terletak di belakang Umbul Temanten. Saya hanya perlu berjalan sebentar untuk sampai di umbul ini. Umbul ini paling kecil dibandingkan Umbul Temanten dan Umbul Ngabean. Kolamnya juga tidak terlalu dalam sehingga aman untuk anak-anak. Sama seperti Umbul Temanten, Umbul Dudo juga memiliki legenda asal-usul namanya.

Jalan Menuju Umbul Dudo. Foto: Aprilia Rizki Arifah

Kisah umbul ini bermula dari perang antara Keraton Prambanan dan Keraton Pengging Wanasegara. Keraton Pengging Wanasegara dipimpin oleh Prabu Damar Maya, ayah Bandung Bondowoso. Suatu hari, Bandung Bondowoso diperintah oleh ayahnya untuk pergi ke Keraton Prambanan. Akan tetapi, ketika sampai di sebuah umbul ia merasa sangat kehausan, tetapi tidak ada air yang keluar. Ia kemudian berusaha membuat mata air dengan melubangi tanah. Umbul Dudo awalnya bernama Katunda yang berarti “tertunda”. Setelah itu, muncul dua mata air di sekitarnya, yaitu Umbul Temanten dan Umbul Ngabean. Umbul Katunda sekarang disebut sebagai Umbul Dudo.

Umbul Dudo. Foto: Aprilia Rizki Arifah
(Air sebenarnya jernih, tetapi karena faktor cahaya terlihat gelap di foto)
Umbul Ngabean 

Saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Umbul Ngabean. Suasana semakin sejuk karena saya ke sana saat pagi. Dinding di sekitar umbul disusun dengan bata-bata merah dan ada yang membentuk sebuah gapura. Gapura itu menuju sebuah kolam pemancingan dan restoran. Di seberangnya sudah ada pintu masuk Umbul Ngabean. 

Jalan Menuju Umbul Ngabean. Foto: Aprilia Rizki Arifah

Pada bagian depan loket sudah ada dua patung Dwarapala. Bangunan umbul ini juga memiliki kekhasan dibanding dua umbul lainnya, bentuknya bukan kotak, tetapi bundar. Selain itu, umbul ini merupakan tempat umbul favorit Prabu Pakubuwana X. Pada bagian pintu masuk terdapat foto Pakubowono X, XI, dan XII. Di tepian kolam tersedia beberapa gazebo yang dinaungi pepohonan rindang.

Area Pintu Masuk Umbul Ngabean. Foto: Aprilia Rizki Arifah

Dahulu kala, umbul ini hanya boleh digunakan oleh kalangan bangsawan atau keluarga Keraton. Raja biasanya datang bersama permaisuri dan selirnya untuk menikmati pemandian segarnya Umbul Ngabean. Akan tetapi, saat ini Umbul Ngabean sudah boleh digunakan oleh masyarakat umum. Umbul ini juga menjadi yang paling ramai dikunjungi oleh pengunjung saat saya ke sana. 

Suasana Umbul Ngabean. Foto: Aprilia Rizki Arifah

Waktu berjam-jam di Kompleks Pemandian Tirto Marto Pengging terasa begitu cepat. Dinginnya air membuat perut kelaparan, tentunya saya tak perlu khawatir karena ada beberapa warung dan restoran di sini. Selain itu, ada juga kolam renang anak dan pemancingan. Jadi, kompleks pemandian ini cocok untuk liburan keluarga. Biaya masuk untuk menikmati kompleks pemandian hanya 7 ribu saja. Tarif ini baru saja diberlakukan. Sebelumnya, pengunjung harus membayar tiket pada setiap umbul. Akan tetapi, saat ini sudah tidak perlu lagi. 

TRAVELING setip hari Jumat. Nah, kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling diluar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honoarium Rp. 100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==