Pada Juni 2026, sebuah video TikTok dari akun @jelajahkuliner69 yang memperlihatkan seporsi Nasi Jamblang dengan harga dianggap mahal ditonton lebih dari 6,5 juta kali. Ribuan komentar bermunculan. Ada yang menyebutnya “Nasi Jambret”, membandingkannya dengan nasi Padang, hingga menyindir daun jatinya seolah didatangkan dari luar negeri. Dalam waktu singkat, yang diperdebatkan bukan lagi warung tempat video itu direkam, melainkan Nasi Jamblang secara keseluruhan.
Beberapa waktu kemudian, video lain dari akun @sintiareginaf memperlihatkan Nasi Jamblang dengan harga jauh lebih terjangkau. Namun, tayangan itu tidak seramai video sebelumnya. Dua peristiwa ini menunjukkan satu hal: di media sosial, kontroversi sering melaju lebih cepat daripada klarifikasi. Yang mengundang amarah lebih mudah dibagikan daripada yang menawarkan penjelasan.
Puisi esai ini tidak bermaksud membenarkan harga yang dipatok warung tertentu ataupun menyalahkan mereka yang mengkritiknya. Puisi ini hanya mengajak pembaca berhenti sejenak: seberapa mudah kita menyimpulkan sebuah warisan budaya dari satu potong tayangan? Sebab, setiap warisan selalu menyimpan kisah yang lebih panjang. Yang paling lama tinggal, ternyata bukan videonya, melainkan kesan yang ditinggalkannya.

Link video TikTok: https://www.tiktok.com/@jelajahkuliner96/video/7640454712529079570?_r=1&_t=ZS-9858nbwfn9T

I. Beranda
Sudah lama
kampung halaman tak mengetuk pintu.
Ia memilih datang
melalui cahaya yang muat di telapak tangan.
Kubuka perlahan.
Selembar daun jati terbaring di sana,
masih hijau seperti ingatan
yang belum selesai menua.
Namun sebelum sempat kucium baunya,
ia telah menjelma deret angka
yang dipungut beramai-ramai.
II. Ramai
Belum sempat
daun jati menguarkan aromanya,
keramaian lebih dahulu
menjatuhkan arti.
Sekepal nasi diukur dengan piring lain.
Sebuah kota ditimbang
oleh kota lain.
Yang diwariskan puluhan tahun,
mendadak mengecil
dalam hitungan detik.
Barangkali begitulah nasib
sesuatu yang ramai.
Tak sempat didengar.
Cukup disimpulkan.

III. Satu Lipatan
Daun jati tak pernah dilipat
oleh satu tangan.
Begitu pula Nasi Jamblang.
Ia tumbuh di banyak tungku,
menghangat di banyak meja,
menetap di banyak rumah.
Namun entah sejak kapan,
satu piring dianggap sanggup
menanggung seluruh kota.
IV. Lapar
Barangkali
yang lebih dahulu penuh
bukan perut.
Melainkan mata.
Ia tiba
lebih dahulu,
berhenti pada paru,
bergeser ke cumi hitam,
singgah di sate kentang,
lalu enggan melewati semur.
Ketika semua
berkumpul
di atas daun jati,
orang baru menyadari,
yang diam-diam bertambah
bukan sekepal nasi,
melainkan
keinginan.
V. Menyebut Nama
Dulu,
aku selalu menyebut Nasi Jamblang
tanpa jeda,
setiap seseorang
mencari rasa di Cirebon.
Kini,
namanya masih sampai
di ujung lidah.
Hanya saja,
diam lebih dahulu
menyapanya.
Tentang Penulis:
Penulis lahir di Cirebon pada 6 Februari 2001. Baginya, hal-hal sederhana selalu menyimpan cerita yang layak diabadikan melalui tulisan. Karya-karyanya berupa artikel populer telah dimuat di berbagai media nasional, sedangkan puisi-puisinya terbit dalam sejumlah antologi dan media massa nasional.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:



