Rakyat penuhi alun-alun Kota Pati dalam aksi demo Bupati Pati pada Rabu, 13 Agustus 2025. Tuntutan yang semula karena kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar 250% dan kebijakan 5 hari sekolah bergeser untuk menurunkan Bupati. Alasan ini dikarenakan Bupati Pati sudah tidak mampu memimpin Kota Pati dengan lebih baik lagi.

oOo
Pati, kota kecil dikuasai tikus berdasi,
Mencuri pangan anak-anak negeri
Membiarkan derasnya hujan berjatuhan
Pada muka yang mengharap belas kasihan
Di saat keadilan meninggalkan negeri
Kami bersatu ingin membawanya kembali
Menentramkan bumi pertiwi
Dari kerusuhan para pencuri
Mengenyangkan nafsu dalam diri
Di depan gedung katanya milik rakyat
Dikuasi pemimpin khianat
Ribuan air sudah berjejer rapi
Bersama temannya yang siap mengusir lapar dalam diri
Ia lahir dari tangan-tangan yang tak mau terlihat
Untuk memberi dukungan semangat
Di antara kesibukan kendaraan berlalulalangan
Poster banner berdiri dengan peringatan
Atas kesewenang-wenangan
Mendewakan jabatan
Jelas terbaca: “Turunkan Bupati Pati.”
“Pak Presiden, turunkan Bupati Pati .”
Semua aturan sudah kami taati
Namun kecurangan selalu kau siasati
Seolah kami yang merusak sendiri
Di negeri tempat kami berdiri
Uangmu kau sebar di penjuru negeri
Membungkam kepedulian hati
Memutar balikkan fakta yang terjadi
Mengorbankan kami
Rakyat yang seharusnya kau kasihani
Kami hanya ingin bersuara
Bahwa keadilan milik seluruh rakyat Indonesia
Bukan hanya penguasa
Memainkan sistem politik seenaknya
Menyiksa rakyat jelata
Api yang seharusnya kau redam
Kenapa kau kobarkan?
Membakar jiwa-jiwa yang diam
Untuk memenuhi surat undangan
“Jangan hanya lima ribu orang
Lima puluh ribu saja suruh datang
Saya tidak akan gentar
Keputusan saya sudah benar.”
Bentakmu tanpa ragu
Kami semua datang penuhi undanganmu
Membanjiri depan gedung yang kau anggap milikmu
Bersama api kebencian siap membakarmu
Namun, bukannya kau sambut ramah
Tapi jamuan darah
Agar kami tak melanjutkan langkah
Membiarkan kedoliman makin tumpah
Di tanah yang katanya sudah bebas penjajah
Preman-preman kau kemasi
Aparat keamanan kau beli
Meneteskan darah-darah kami
Meracuni paru-paru kami
Agar kami segera pergi
Kami tak kan mundur sebelum kursimu hancur
Kami akan terus maju meski kau hantam peluru
Kami tak takut pada ancaman maut
Cinta ini murni untuk kemerdekaan negeri
Yang telah dijajah oleh penguasa sendiri
Negeri kami sangatlah kaya
Namun dimiliki penguasa
Rakyat jelata hanya menyeka air mata
Mendapatkan hukuman di negeri kelahirannya
Negeri kami adalah serpihan surga
Namun dimiliki penguasa
Rakyat jelata hanya merasakan neraka
Dari susahnya berdiri di atasnya
Kami ingin negeri kami kembali
Yang bersih dari tikus berdasi
Memainkan uang untuk menyucikan diri
Membuat hukum berlari
Kami muak memakan semua ini
Yang benar dikucilkan
Yang salah didewakan
Mengatas namakan jabatan
Sampai kapan jabatan kau jadikan peluru penyiksaan
Merobohkan tiang-tiang yang ingin menegakkan kebenaran
Mulut-mulut kau tutup
Dengan uang dalam amplop
Apakah negeri ini benar sudah merdeka?
Jika kecurangan penguasa masih subur dipelihara
Persengkokolan dibuat untuk rakyat menderita
Agar mau diam tak mau bersuara
Pahlawan yang gigih mengibarkan keadilan
Dikejar tanpa ampunan
Disingkirkan dalam lautan kebencian
Agar hilang dalam peradaban
Bagaimana bendera kemerdekaan dapat kami kibarkan
Jika keadilan terus disembunyikan
Bumi pertiwi masih dicuri oleh penguasa negeri
Keserakahan terus tumbuh dan tertanam subur di negeri kami.
*) Pati, 15-8-2025
Catatan kaki:
https://www.liputan6.com/news/read/6130794/demo-besar-di-pati-pelajaran-untuk-kepala-daerah-tak-asal-bikin-kebijakan
https://news.detik.com/berita/d-8060250/duduk-perkara-pbb-naik-tantangan-hingga-demo-besar-desak-bupati-pati-mundur

oOo


TENTANG PENULIS: Muhammad Sholihul Huda, remaja penggemar puisi untuk teman berbagi kisah diri. Berhasil menerbitkan buku kumpulan puisi pertamanya Titipan Aksara di tahun 2023. Selain penggemar puisi, ia juga suka menulis opini. Beberapa karyanya sudah tembus di platform bergengsi. Selain menjadi redaksi di website mansajululum.ponpes.id, ia juga aktif menjadi penggerak literasi pada teman-teman santri.


PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen Baru ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Bagaimana kalau lingkungan, politik, atau kritik sosial ke penguasa? Boleh saja asalkan ada fakta dan sertakan link beritanya. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Baru. Ada honorarium Rp 300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:



